tirto.id - Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Dimas Bagus Arya, menyebut narasi antek asing kerap dipakai oleh penguasa untuk mendelegitimasi aktivitas pedemo yang menyampaikan aspirasinya.
Dimas menyebut upaya mendelegitimasi pedemo salah satunya tercermin dalam pidato Presiden Prabowo Subianto yang mengklaim pedemo “ditunggangi” dan menjadi bagian dari “kelompok teroris”.
“Ada proses delegitimasi dengan sejumlah narasi kognitif seperti misalnya narasi antek asing,” kata Dimas kepada wartawan di kawasan Jakarta Timur, Kamis (26/2/2026).
“Itu hal yang menurut kami jadi salah satu instigasi atau penghasut atau akselerator lah ya bahasanya, hal yang mempercepat proses pemidanaan terhadap anak-anak muda hari ini begitu,” lanjutnya.
Dimas juga mengatakan terdapat operasi penangkapan terbesar kepada aktivis yang kritis terhadap pemerintahan. Seturut laporan Koalisi Pencari Fakta (KPF), ia menyebut operasi penangkapan pascademonstrasi Agustus 2025 itu menjadi yang terbesar sejak Reformasi 1998.
Secara total, KPF melaporkan telah terdapat setidaknya 6.137 orang yang ditangkap pascademonstrasi Agustus 2025. Sedangkan, 703 orang di antaranya didakwakan dan masuk ke persidangan.
“Jadi kalau melihat secara pengalaman di Indonesia, sejarah Indonesia terutama pascareformasi, ini adalah salah satu skala penersangkaan dan penangkapan yang sangat kolosal begitu ya, sangat masif,” tutupnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































