Menuju konten utama

Komentar Heru soal Polusi Udara Jakarta Ditiup Disebut Tak Elok

Greenpeace menyebut hak warga negara menghirup udara bersih tidak elok jika dijadikan bahan candaan.

Komentar Heru soal Polusi Udara Jakarta Ditiup Disebut Tak Elok
Foto peninjauan Presiden Jokowi, Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di kawasan sodetan Ciliwung-Banjir Kanal Timur, Jakarta, Selasa (24/1/2023). tirto.id/andria pratama taher

tirto.id - Juru Kampanye Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu mengkritik pernyataan Penjabat (Pj) Gubernur DKI, Heru Budi Hartono yang mengatakan untuk menghilangkan polusi udara di Jakarta dengan cara ditiup.

Menurutnya, pernyataan tersebut tak elok dikatakan oleh Heru Budi Hartono yang merupakan Penjabat Gubernur DKI cum Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres).

"Sejatinya ini mengenai hak warga negara menghirup udara bersih. Tidak elok jika dijadikan bahan candaan," kata Bondan kepada Tirto, Selasa (13/6/2023).

Apalagi saat ini polusi udara di Jakarta sangat tinggi. Beberapa waktu ini, kualitas udara Jakarta memang memburuk. Pada Rabu (31/5/2023) per pukul 07.00 WIB lalu, Jakarta menjadi kota besar berpolusi terburuk di dunia dengan skor 170 berdasarkan data IQAir. Jakarta berada di posisi kedua setelah Tangerang Selatan yang mencatat skor 177.

Dengan polusi udara yang tinggi, berdampak banyak terjadi peningkatan penyakit yang menimpa kelompok sensitif seperti anak anak, balita, lansia, dan ibu hamil.

Salah satunya Hanan, bayi berusia 5 bulan yang harus menjalani sejumlah terapi di rumah sakit diduga akibat terpapar polutan. Hal tersebut akibat buruknya kualitas udara di Jakarta beberapa waktu ini.

Kemudian, ia juga mengkritik solusi palsu dari Gubernur Heru yang mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi polusi udara. Sebab, hal tersebut hanya memindahkan polusi dari knalpot kendaraan ke cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

"Di Indonesia saat ini pembangkit listrik masih di dominasi oleh PLTU batubara yang menjadi salah satu sumber pencemar udara. Dan lagi pula kendaraan listrik tidak bisa menyelesaikan permasalahan macet, hanya akan menambah jumlah kendaraan di jalan," tegasnya.

Jika ingin mengurangi polusi udara, Bondan menyarankan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menangani mulai dari sumbernya.

Ia menjelaskan terdapat banyak sumber utama polisi udara pada saat musim kemarau: Asap knalpot kendaraan 42%–57% di seluruh kota; Pembakaran terbuka 9% di bagian timur (LB); Debu jalan 9% di bagian barat kota (KJ); Garam laut 19%–22%.

Kemudian Partikel tanah tersuspensi 10%–18% telah ditemukan di seluruh kota, tetapi paling terlihat di bagian timur kota (LB), karena kondisi daerah yang kering. Aerosol sekunder 1%–7%.

"Harusnya juga ada rencana pengendalian pencemaran dari asap knalpot kendaraan dan ke depannya harus juga ada pembatasan kendaraan bermotor. Sehingga masalah penanggulangan pencemaran ini tepat sasaran," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA JAKARTA atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri