Seri Sejarah Kodam

Kodam Kasuari: Kekuatan Terbaru TNI di Papua Pada Era Jokowi

Ilustrasi KODAM XVIII Kasuari. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 23 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kodam Kasuari dibentuk di era Jokowi saat konflik bersenjata di Papua kian memanas.
Setelah perebutan Irian Barat berakhir, Kodam Cendrawasih didirikan pada 1963. Namun, ketika Benny Moerdani menjadi Panglima ABRI, kodam ini dilebur dengan Kodam Pattimura menjadi Kodam Trikora. Kodam Cendrawasih kembali berdiri sendiri pada 2007.

Dalam Irian Barat dari Masa ke Masa, Volume 1 (1971:100) disebutkan bahwa pada 1962 pendirian kodam di Papua Barat telah ditetapkan lewat keputusan Menteri Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani. Namun, karena karena saat itu Papua Barat masih di bawah wewenang UNTEA yang mengurus sengketa Indonesia dan Belanda, maka pembentukan Kodam Cendrawasih baru dapat direalisasikan pada 1963.

Musuh utama kodam ini adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang didirikan pada 1965 dan masih eksis sampai hari ini. OPM hadir karena merasa pemerintah Indonesia berlalu tidak adil terhadap orang-orang Papua. Rakyat sipil juga kerap menjadi korban kekerasan aparat.

Berbagai operasi dilancarkan dari masa ke masa. Tak hanya operasi bersenjata, pemerintah Indonesia juga sempat menempuh jalur diplomasi. Namun, konflik terus terjadi sehingga sampai kiwari OPM dan TNi masih saling menghabisi.

Pada Pilpres 2014, Papua menjadi lumbung suara pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dua tahun kemudian, saat Panglima TNI dijabat oleh Jenderal Gatot Nurmantyo dan Panglima Kodam Cendrawasih dipimpin Mayjen Hinsa Siburian, kodam baru hadir di Papua yang bernama Kodam Kasuari.

"Tidak ada kepentingan politik dan maksud apa pun dalam pembangunan kodam baru di Papua. TNI hanya ingin aspek pertahanan bisa terpenuhi di wilayah itu, sehingga apabila terjadi situasi yang tidak kita inginkan, kendali operasi itu betul-betul bisa dijaga dengan baik," ungkap Gatot Nurmantyo seperti dikutip Antara.

Kodam Kasuari merupakan komando teritorial untuk wilayah Provinsi Papua Barat yang dipimpin oleh Gubernur Dominggus Mandacan.

Markas Kodam Kasuari berada di Kelurahan Arafai, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari. Mulanya, markas kodam ini adalah dari Kompi C dan D Kodim 1703 Arfai. Dari daerah ini ada tokoh yang terkenal, yaitu Lodewijk Mandatjan. Ia adalah mantan pimpinan OPM yang pada Perang Dunia II bersama pasukannya pernah dipersenjatai Amerika Serikat untuk melawan Jepang.


Manokwari adalah salah satu daerah perlawanan awal dalam sejarah OPM. Menurut catatan RG Djoparai dalam Pemberontakan Organisasi Papua Medeka (1993:110), pada tanggal 26 Juli 1965 muncul perlawanan di Kebar yang dipimpin oleh Johannes Djambuani dengan kekuatan 400 orang yang berasal dari suku Karun dan Ayamaru. Dua hari kemudian, Permanas Ferry Awom dan pengikutnya yang berasal dari suku Biak, Ajamaru, Serui, dan Numfor menyerang asrama Yonif 641/Tjendrawasih I di Arfai.

Selain itu, perlawanan juga datang dari suku Arfai yang dipimpin oleh Mayor Tituler Lodewijk Mandatjan, Kapten Tituler Barent Mandatjan, dan Letnan Tituler Irogi Maedogda dengan mengajak penduduk masuk hutan pada 1967.



Kodam Kasuari diresmikan pada 19 Desember 2016 oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono. Kodam ini membawahi Korem Biak (Teluk Wondama, Bintuni, Monokwari, Biak) dan Korem Sorong (Kaimana, Fak Fak, Sorong Selatan). Kekuatan Kodam Kasuari sebagian ditambah dari Kodam Cendrawsih dan sejumlah satuan TNI lainnya di pelbagai daerah di Indonesia.

Dalam Kodam Kasuari terdapat Batalion Infanteri 764/Iamba Baua (Yonif 764/IB) dan Batalion Infanteri 761/Kibibor Akinting (Yonif 761/KA). Sebelum kehadiran dua Yonif tersebut, di Sorong sudah ada Batalion Infanteri Raider Khusus 762/Vira Yudha Sakti yang dulu bernama Batalion Infanteri 752. Selain itu, ada pula Batalion Zeni Tempur.

Panglima Kodam Kasuari yang pertama adalah putra asli Papua yang bernama Mayor Jenderal Joppye Onesimus Wayangkau.

“Sudah tentu itu menjadi kebanggaan bagi masyarakat Papua. Dia (Joppye Onesimus Wayangkau) adalah pembuat sejarah bagi Pangdam XVIII Kasuari pertama. Apalagi dia putra asli Papua,” ujar Hinsa Siburian.

Orang Papua lainnya yang menjadi Pangdam adalah Mayjen Herman Asaribab yang memimpin Kodam Cendrawasih. Joppye dan Herman sama-sama lulusan Akabri Magelang. Sebelumnya, ada pula Laksamana Madya TNI (Purn.) Fredi Numberi yang merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut dan pernah menjadi menteri.

Pemerintah Indonesia tentu mengharapkan para Pangdam yang berasal dari Papua ini dapat meredam perlawanan Organisasi Papua Merdeka. Sebab hingga kini, konflik bersenjata masih kerap terjadi di Bumi Cendrawasih itu.


Baca juga artikel terkait KODAM atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight