tirto.id - Keceriaan menghiasi wajah Damiri siang itu. Jemaah haji asal Tegal, Jawa Tengah, ini selalu tersenyum saat menceritakan jempol kaki kirinya diamputasi di Arab Saudi.
Saat ini, pria yang tergabung dalam Kelompok terbang (kloter) 2 SOC sedang proses pemulihan usai operasi di Makkah. Ia mengaku selalu bersyukur karena tetap bisa beribadah meski jempolnya harus diamputasi karena penyakit gula yang dideritanya.
“Sedih ya enggak. Malah senang,” kata Damiri sambil tertawa kecil saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di hotel jemaah lansia di Sektor 2, wilayah Syishah, Makkah, Minggu (17/5/2026).
Pria berusia 66 tahun itu sehari-hari bekerja sebagai petani di kampung halamannya. Tahun ini menjadi pengalaman pertama Damiri berangkat haji bersama istrinya. Ia bersyukur menjadi salah satu tamu Allah yang bisa berangkat ke Tanah Suci.
Damiri termasuk jemaah haji gelombang pertama, yang ke Madinah dulu, baru bertolak ke Makkah. Perjalanan ibadahnya semula berjalan lancar sejak tiba di Kota Nabi. Namun, kondisi kesehatannya mulai terganggu setelah kaki kanannya mengalami pembengkakan.
Damiri yang memiliki riwayat diabetes dan asam urat mengaku sempat menganggap pembengkakan tersebut sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas ibadah.
Akan tetapi, setelah menjalani umrah wajib di Makkah, rasa sakit di kakinya semakin parah. Pemeriksaan medis menunjukkan kadar gula darahnya melonjak hingga sekitar 500 mg/dL.
Luka di kaki kirinya kemudian menghitam dan dokter memutuskan melakukan amputasi jempol kaki untuk mencegah infeksi meluas.
“Kalau sudah hitam begitu ya harus dibersihkan,” kata dia.
Damiri menjalani operasi di Rumah Sakit King Abdul Aziz, Makkah. Seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah Arab Saudi.
Meski harus kehilangan jempol kaki, dia tetap merasa bersyukur karena operasi dilakukan setelah umrah wajib selesai.
“Untungnya sesudah umrah wajib,” kata Damiri dengan rasa bersyukur sambil tersenyum.
Selama masa pemulihan, Damiri menempati kamar khusus lansia yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Di kamar mandi maupun sisi tempat tidur tersedia pegangan besi untuk membantu mobilitas jemaah lanjut usia dan disabilitas.
“Terbantu ya,” kata Damiri terkait fasilitas khusus lansia yang disediakan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Damiri kini mulai kembali berjalan perlahan tanpa terlalu bergantung pada kursi roda. Dia juga rutin mengikuti salat berjemaah bersama jemaah lansia lain di area lobi hotel.
Menurut petugas sektor 2 Daker Makkah, layanan tersebut merupakan bagian dari penguatan program haji ramah lansia dan disabilitas pada musim haji 2026.
Damiri pun mengingatkan jemaah lain yang memiliki penyakit penyerta agar segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala kesehatan selama berada di Tanah Suci.
“Kalau ada gejala langsung periksa. Jangan ditunda,” kata dia.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id



























