tirto.id - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil mengurangi kerugian bersihnya sebesar Rp1,05 triliun pada tahun 2024. Pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan penjualan yang berfokus pada profitabilitas, efisiensi biaya, serta restrukturisasi utang yang efektif dengan beberapa bank.
Corporate Secretary Kimia Farma, Ganti Winarno Putro, menyatakan bahwa berbagai langkah bisnis yang diambil sejak tahun lalu telah memberikan dampak positif.
“Kimia Farma terus melakukan transformasi bisnis secara menyeluruh,” ujar Winarno dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (9/7/2025).
Dia menjelaskan, perseroan menjalankan tiga strategi utama untuk menghadapi dinamika industri farmasi nasional yang kompetitif, sekaligus untuk mewujudkan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
Pertama, perusahaan memperkuat fundamental bisnis dengan menyederhanakan portofolio produk dan mendorong produk unggulan bernilai tinggi serta bermargin kompetitif.
Kedua, dilakukan optimalisasi saluran penjualan untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing.
Ketiga, perseroan memperkuat digitalisasi di sektor apotek serta inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan tren kesehatan masyarakat.
Di sisi keuangan, Kimia Farma melakukan pengendalian biaya operasional dan efisiensi HPP (Harga Pokok Penjualan). Upaya ini berhasil menurunkan beban pokok penjualan (COGS) sebesar 1,02 persen menjadi Rp6,99 triliun pada 2024, dibandingkan Rp7,06 triliun di tahun sebelumnya.
Selain itu, beban usaha juga turun signifikan sebesar 15,68 persen menjadi Rp3,79 triliun dari Rp4,49 triliun pada 2023. Efisiensi tersebut berkontribusi pada kenaikan laba bruto sebesar 4,96 persen secara tahunan (yoy).
Sementara itu, kerugian bersih perseroan menyusut 46,56 persen dari Rp2,26 triliun di 2023 menjadi Rp1,20 triliun di 2024.
"Hal ini menjadi capaian penting yang menunjukkan bahwa arah transformasi dan pembenahan internal yang ditempuh perseroan sudah berada di jalur yang tepat," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa transformasi Kimia Farma harus terus berlanjut. "Transformasi Kimia Farma tidak boleh berhenti. Untuk itu, perseroan terus melakukan pembenahan internal, termasuk optimalisasi aset dan struktur bisnis sehingga kinerja keuangan perusahaan semakin solid," tutupnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































