Pemilu Serentak 2024

Khofifah dalam Pusaran Politik 2024: antara Pilpres & Pilgub

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 14 Agu 2023 06:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Khofifah tidak menjawab spesifik terkait langkahnya pada 2024. Ia hanya bilang para ulama bertemu rutin bahas karier politiknya.
tirto.id - Nama Khofifah Indar Parawansa belakangan menjadi perhatian publik. Perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu disebut sebagai bakal cawapres potensial yang bisa mendampingi Anies Baswedan hingga Prabowo Subianto. Ia bahkan berpeluang untuk maju kembali sebagai petahana pada Pilgub Jawa Timur 2024.

Saat ditanya tentang kemungkinan maju sebagai cawapres pada Pilpres 2024, Khofifah tidak memberikan jawaban tegas. Akan tetapi, Khofifah mengaku beberapa ulama sempat membahas langkah politiknya di masa depan.

“Saya belum mengonfirmasi kepada tokoh tertentu, tapi bahwa beberapa ulama, kiai mengonfirmasi, iya. Ini nanti pasti mereka akan menyiapkan forum di mana kesepakatan-kesepakatan itu diambil secara kolektif,” kata Khofifah usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2023).

Khofifah hanya membocorkan bahwa para ulama melakukan pertemuan reguler saat membahas karier politiknya. Hingga saat ini, para kiai belum menentukan arah yang tepat untuk Ketua Umum Muslimat NU itu. Namun, Khofifah mengaku PBNU sudah memberikan lampu hijau untuk karier politiknya dalam bentuk apa pun.

“Kan ada pertemuan-pertemuan yang secara reguler dilakukan oleh para ulama, kiai-kiai di Jawa Timur dan belum sampai kepada posisi final ya, bagaimana sesungguhnya rekomendasi untuk saya terutama. Kalau PBNU sendiri memberikan kesempatan kadernya untuk menyampaikan aktualisasi politiknya," kata Khofifah.

Khofifah mengatakan, komunikasi dilakukan dengan sejumlah pihak. Ia juga menekankan bahwa konstelasi nasional berbeda dengan konstelasi daerah. Khofifah yang juga salah satu ketua PBNU ini mengatakan, hubungan semua partai dengan pemerintahannya di Jawa Timur berjalan baik.

Mantan Mensos era Jokowi-JK ini juga tidak menjawab tentang kemungkinan maju dua periode di Jawa Timur. Ia justru menceritakan bahwa kontestasi Pilkada Jatim pertama dan kedua yang diikutinya memang dijalani dengan baik. Akan tetapi, dalam kontestasi terakhir, Khofifah mengaku berat menjalankannya.

“Yang ketiga sebetulnya, kan, sudah relatif agak berat secara energi itu, tapi waktu itu almarhum Kiai Solahudin Wahid bersama 16 kiai itu beberapa kali membuat forum, kemudian mengambil keputusan dan akhirnya meminta saya untuk bersama-sama beliau untuk maju di pilgub,” kata Khofifah.

Khofifah menambahkan, “Jadi ada proses-proses seperti itu dan itu di dalam satu pertemuan tentu tidak sekali mengambil keputusan. Ada proses mereka memberikan pertimbangan-pertimbangan.”


Peluang Khofifah Menang Lagi di Pilgub Jatim

Elektabilitas Khofifah sebagai bakal cawapres memang tidak terlalu tinggi, dibandingkan dengan nama lain yang juga digadang-gadang maju pilpres. Berdasarkan survei LSI pada 11 Juli 2023, nama Khofifah hanya bertengger di peringkat ketujuh. Survei ini melibatkan 1.242 responden dengan angka margin of error 2,8 persen yang digelar pada periode 1-8 Juli 2023.

Dalam survei tersebut, nama Khofifah berada di peringkat 7 dengan angka 3,8 persen atau berada di bawah Gibran Rakabuming Raka yang mendapatkan elektabilitas 7,6 persen. Angka ini jauh di bawah Erick Thohir di peringkat 1 (14,3 persen), Ridwan Kamil (13,5 persen), Mahfud MD (9,9 persen), AHY (9,5 persen) atau Sandiaga Uno (8,9) persen.

Data hampir mirip juga dirilis lembaga Surabaya Survei Center pada 25 Juli-3 Agustus 2023 terhadap 1.200 responden dengan angka margin of error 2,83 persen di seluruh wilayah Jawa Timur. Berdasarkan survei ini, Khofifah berada di peringkat keenam (7,5 persen), sementara peringkat pertama adalah AHY (15,2 persen), Erick Thohir (15 persen), Mahfud MD (14,7 persen), Sandiaga Uno (8,8 persen) dan Ridwan Kamil (8,5 persen).

Namun, meski hasil survei Khofifah tidak tinggi-tinggi banget, tapi ia sempat dilirik oleh Partai Nasdem untuk dipasangkan dengan Anies Baswedan. Prabowo juga berharap agar Khofifah mau menjadi wakilnya di pilpres mendatang.

Sebaliknya, berdasarkan data Surabaya Survei Center, elektabilitas Khofifah justru sangat tinggi bila survei yang dilakukan untuk Pilgub Jawa Timur 2024. Sebagai petahana, Khofifah berada di peringkat pertama dengan angka 34,2 persen. Angka ini selisih 15,8 persen dengan Mensos Tri Rismaharini di posisi kedua dengan elektabilitas 18,4 persen.

Selain dua nama tersebut, ada Wagub Jatim Emil Dardak (11,5 persen), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (6,7 persen) dan Ketua DPD Partai Gerindra yang juga Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Anwar Sadad (5,5 persen).

Direktur Surabaya Survei Center, Mochtar W. Oetomo menilai, Khofifah punya keinginan untuk maju di Pilpres 2024, tetapi tidak berani menyatakan tegas seperti Anies Baswedan maupun Ganjar Pranowo. Ia menilai, Khofifah memang ada tantangan untuk maju, tapi Khofifah tetap diperhitungkan karena peran Nahdlatul Ulama.

“Saya rasa kalau dari aspek elektoral memang agak susah Khofifah maju ke bursa capres-cawapres, tapi politik Indonesia ini tidak bisa lepas dari NU. Dari pemilih Pilpres 2004, NU menjadi penentu kemenangan dari capres yang memenangkan kontestasi,” kata Mochtar kepada reporter Tirto, Jumat (11/8/2023).

Mochtar mengatakan, NU saat ini setidaknya punya lima kader yang punya potensi maju di Pilpres 2024, antara lain: Khofifah; putri Presiden ke-5 RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid; Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf; Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas; serta Menkopolhukam Mahfud MD.

Dari kelima nama tersebut, kata Mochtar, Khofifah memiliki tiga hal lebih, yakni perempuan, nahdliyin, dan memegang Jawa Timur yang notabene daerah dengan suara terbesar kedua di Indonesia.

Akan tetapi, kata dia, Khofifah belum tentu bisa memenangkan pasangan capres bila dipinang menjadi cawapres. Ia mengingatkan angka survei nasional Khofifah hanya sekitar 7 persenan.



Di sisi lain, jika ingin maju di Pilkada Jatim, Khofifah diprediksi maju dengan melihat konstelasi pemenang pilpres. Khofifah akan maju dengan PDIP jika Ganjar yang menang; maju dengan Gerindra jika Prabowo yang menang; atau kembali dengan Demokrat jika Anies yang menang.

Selain soal hasil pilpres, kata Mochtar, pengaruh ulama dan masyayikh akan berdampak bagi pemilih. Ia mengatakan, tipologi pemilih Jawa Timur terbagi atas dua kelompok, yakni nasionalis dan nahdliyin.

Khofifah, kata Mochtar, merepresentasikan NU setelah Jawa Timur dipimpin nasionalis selama 10 tahun lewat Soekarwo yang dinilai nasionalis. Khofifah juga akan mengambil langkah politik tergantung dari para ulama dan masyayikh.

“Khofifah itu adalah representasi NU. Jadi secara kultural tidak mungkin Khofifah untuk meninggalkan atau mengabaikan restu atau dukungan dari para kiai, dari para masyayikh, dari pondok pesantren, itu enggak mungkin,” kata Mochtar.

Mochtar juga mengatakan, sejumlah ulama dan masyayikh sudah memberi sinyal ingin Khofifah maju ke tingkat nasional. Eks Mensos itu pun ingin 'dikawinkan' dengan Prabowo Subianto untuk Pemilu 2024. Akan tetapi, Mochtar melihat hal itu sulit terealisasi karena Gerindra berkoalisi dengan PKB yang menuntut Muhaimin Iskandar sebagai pendamping Prabowo.

“Justru peluang Khofifah paling lapang sebenarnya kalau dari aspek koalisi, dinamika koalisi itu ke Ganjar karena kalau ke Anies sudah ada Demokrat yang juga harus AHY. Kalau Ganjar, kan, maju sendiri relative tidak tergantung dengan koalisi yang lain, partai yang lain,” kata Mochtar.

Ia menambahkan, khusus konstelasi Jawa Timur, setidaknya ada tiga gelombang kuat, yakni PDIP, PKB dan Demokrat yang berpengaruh bila Khofifah tidak maju. PDIP, kata Mochtar, tengah mempersiapkan kader mereka untuk memenangkan pilkada, apalagi mereka pemegang suara terbesar di Jatim. PDIP punya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Tri Rismaharini, Bupati Kediri yang juga anak Seskab Pramono Anung, Hanindito Himawa Pramana hingga Bupati Ngawi Ony Anwar.

Sementara itu, Demokrat diperhitungkan karena keberadaan Emil Dardak yang merupakan Wakil Gubernur Jatim cum Ketua DPD Jatim Partai Demokrat. PKB sendiri merupakan partai dengan basis suara nahdliyin. Oleh karena itu, konstelasi Jawa Timur akan berpengaruh di ketiga poros bila Khofifah tidak maju kembali.

Apresiasi perempuan inspiratif
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan sambutan dan arahan saat Apresiasi Perempuan Inspiratif dalam rangka peringatan Hari Kartini 2023 Oase Kabinet Indonesia Maju di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (19/5/2023). ANTARA FOTO/Moch Asim/nym.


Analis politik dari Universitas Airlangga Surabaya, Suko Widodo mengatakan, Khofifah berpotensi bisa menang kembali di Pilkada 2024. “Sejauh ini Bu Khofifah sangat populer dan punya elektabilitas paling tinggi. Artinya kalau misalnya running pilgub lagi, maka peluang menangnya akan sangat cukup besar,” kata Suko kepada Tirto.

Akan tetapi, kata Suko, di level pilpres, nama Khofifah juga penting karena memegang suara Jawa Timur. Khofifah sudah dianggap seperti representasi suara di mana Ganjar disebut di Jawa Tengah atau Anies di Jawa Barat. Khofifah punya kedekatan dengan semua budaya kelompok Jawa Timur seperti Madura, mataraman, budaya arek dan budaya Jawa Timur, sehingga punya nilai lebih bila maju di tingkat nasional.

“Saya melihat sebetulnya peluang Bu Khofifah untuk bisa cawapres cukup tinggi dengan mengambil semua ceruk yang ada di Jawa Timur itu. Tergantung apakah dengan Pak Prabowo atau dengan Pak Ganjar. Peluang besarnya dengan Pak Prabowo atau Pak Ganjar itu sangat potensi untuk bisa memenangkan itu," kata Suko.

Saat ini, kata Suko, konstelasi politik nasional masih berkutat nama-nama besar seperti Erick Thohir, Sandiaga Uno maupun nama lain. Menurut Suko, Khofifah punya kekuatan yang besar karena dia ketua umum Muslimat NU dan jender perempuan.

“Khofifah bisa menjadi kartu truf sebagai cawapres untuk memenangkan capresnya," kata Suko.

Jika Khofifah maju pilpres dan menang, kata Suko, maka nama-nama seperti Emil Dardak, Eri Cahyadi, hingga Anwar Sadad bisa bersaing berebut kursi Jatim 1. Jika Khofifah maju kembali di Jawa Timur, maka Khofifah masih tetap menjadi yang terkuat, apalagi didukung oleh Muslimat NU.

Lantas, lebih kuat mana Khofifah maju pilpres atau pilkada lagi? Suko menilai, semua tergantung partai politik. Sampai saat ini, belum ada parpol yang serius mendukung Khofifah maju pilpres atau pilkada.

“Kalau ada kesungguhan dari partai besar, yang menarik pasti akan ke sana. Problemnya partai-partai juga belum sungguh-sungguh saya lihat,” kata Suko.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight