Menuju konten utama

Ketua MPR Muzani Ingatkan Peran NU Basmi Paham Komunisme

Saat memberi sambutan Harlah 100 Tahun NU, Muzani mengenang perlawanan saat pemberontakan PKI terjadi di Madiun pada 1948 silam.

Ketua MPR Muzani Ingatkan Peran NU Basmi Paham Komunisme
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (19/8/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Ahmad Muzani, mengingatkan peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyelamatkan ideologi negara. Hal ini merujuk ke saat NU melawan paham komunisme saat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi di Madiun pada 1948 silam.

Hal itu disampaikan Muzani saat hadir dalam acara peringatan hari lahir (harlah) ke-100 tahun NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (31/1/2026).

“Ketika kemudian dalam perjalanan kemudian Indonesia akan diancam oleh ideologi komunisme di Madiun, NU tampil kembali menyelamatkan ideologi negara,” ujar Muzani di hadapan para hadirin.

Ia menuturkan, saat itu, banyak kiai-kiai dan pondok pesantren NU yang menjadi korban. Menurutnya, mereka menjadi korban saat tampil menyelamatkan ideologi negara.

“Kiai-kiai NU menjadi korban, pondok pesantren menjadi korban, santri-santri tampil menyelamatkan negara dari bahaya komunisme,” ucapnya.

Muzani menyebut, NU juga telah memberikan banyak kontribusi pada masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat angkatan bersenjata Indonesia belum memiliki kekuatan besar, NU-lah yang disebutnya membantu upaya kemerdekaan.

Ia menjelaskan, upaya NU untuk memperjuangkan kemerdekaan itu dilakukan melalui Gerakan Pemuda (GP) Ansor hingga Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang berperan sebagai organisasi paramiliter.

“Ansor berdiri tahun 1934, Banser berdiri tahun 1936, sebagai upaya NU untuk memperkuat basis perlawanan terhadap penjajah itu,” tuturnya.

Setelah proklamasi kemerdekaan, kontribusi NU dalam menjaga kemerdekaan juga dilakukan dengan cara ikut melawan kehadiran tentara Inggris dan Belanda yang tiba di Surabaya pada November 1945 silam.

Ulama besar pendiri NU pada saat itu, kata Muzani, langsung mengeluarkan fatwa agar kaum Nahdliyin ikut angkat senjata mengusir pihak penjajah.

“Fatwa jihad keluar dari Hadratussyaikh, membela Tanah Air bagian dari kewajiban seluruh santri NU. Maka seluruh santri NU bersatu di desa, di kota, laki-laki, perempuan, mengasah senjata, mengangkat bambu runcing untuk mengusir penjajah,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PBNU atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfons Yoshio Hartanto