tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa varian baru COVID-19 BA.3.2 yang disebut sebagai varian “Cicada” belum ditemukan di Indonesia hingga akhir Maret 2026. Varian yang teridentifikasi sejak 2024 ini dilaporkan telah menyebar ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menjelaskan varian BA.3.2 merupakan turunan dari Omicron BA.3 dan telah ditetapkan sebagai Varian Under Monitoring (VUM) oleh World Health Organization sejak 5 Desember 2025. Hingga saat ini, kata Aji, varian tersebut belum menunjukkan peningkatan sirkulasi secara global.
“Menurut WHO, risiko kesehatan masyarakat untuk varian BA.3.2 (Cicada) adalah rendah,” ujar Aji dikutip dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Menurut Aji, varian yang saat ini dominan adalah XFG sebesar 57 persen, disusul LF.7 sebanyak 29 persen, dan XFG 3.4.3 sekitar 14 persen. Adapun seluruh varian tersebut dikategorikan memiliki risiko rendah.
Karena kondisi yang masih terkendali, Aji menyebut pemerintah belum memberlakukan kebijakan pengetatan di pintu masuk negara. Meski demikian, Kemenkes tetap melakukan langkah melalui surveilans, pelaporan rutin dari lapangan, serta pengujian sampel di laboratorium.
“Masyarakat agar membiasakan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS): rajin cuci tangan pakai air mengalir dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, pakai masker jika sakit/di keramaian, dan lain-lain,” jelas Aji.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id





























