tirto.id - "Komitmen kami sejak tahun 2008 di Indonesia segmennya di sport; akan full throttle, full gas di sport, motor dengan kopling."
Begitulah ucapan Michael C. Tanadhi, Head of Sales & Promotion PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), ketika ditanya soal mengapa Kawasaki tidak mau terjun ke segmen skuter matik (skutik). Akan tetapi, pernyataan tersebut sebenarnya bukan hanya tentang skutik, melainkan juga soal kiprah mereka secara umum di segmen sepeda motor populer.
Dalam sejarah otomotif Indonesia, hanya ada dua tipe sepeda motor yang benar-benar bisa dibilang populer, yaitu motor bebek atau underbone serta skutik. Sisanya, suka tidak suka, tetap masuk kategori niche. Setelah underbone menguasai penjualan sepeda motor Indonesia selama berdekade-dekade, mulai dasawarsa 2010-an skutik merebut dominasi tersebut dan hingga kini masih jadi jenis sepeda motor terlaris.
Michael, dalam pernyataannya, secara spesifik menyebut tahun 2008 sebagai tahun di mana Kawasaki berkomitmen penuh di segmen motor dengan kopling. Namun, ucapan tadi juga bisa diartikan bahwa sejak 2008 Kawasaki sudah berhenti memberikan 100 persen fokusnya pada jenis motor lain, khususnya underbone yang sebenarnya kala itu masih populer. Dan, memang, sejak itu, pabrikan asal Jepang tersebut lebih dikenal lewat produk motor sport (Ninja), motor trail (KLX), dan motor retro klasik (W175). Semuanya, tentu saja, menggunakan kopling seperti yang diucapkan Michael.
Kawasaki baru benar-benar mematikan proyek underbone-nya pada 2014 usai menghentikan penjualan seri Edge. Akan tetapi, underbone Kawasaki terakhir yang betul-betul mampu bersaing dengan underbone dari brand lain sudah tidak lagi diproduksi sejak 2009. Underbone itu adalah Kaze ZX 130, generasi pemungkas dari sebuah seri underbone yang menandai comeback Kawasaki ke Tanah Air pada pertengahan 1990-an.
Menantang Honda Astrea Grand, tapi Promosi Kedodoran
Sebelum berada di bawah PT KMI, Kawasaki sebetulnya sudah pernah diedarkan di Indonesia pada dekade 1980-an dengan brand Binter (Bintang Terang). Strategi ini mengikuti aturan Pemerintah Orde Baru yang mewajibkan pabrikan asing bermitra dengan entitas lokal untuk bisa berproduksi dan berjualan di dalam negeri. Dari era ini, lahirlah dua seri legendaris, yaitu Joy (underbone) dan Merzy (sport kopling). Namun, usia Binter tak bertahan lama karena masalah finansial menjerat perusahaan induknya.
Singkat cerita, setelah sempat menghilang seiring kolapsnya Binter, Kawasaki hadir kembali ke Indonesia pada 1994 dengan berdirinya PT KMI. Nah, sebagai penanda comeback tersebut, Kawasaki pun meluncurkan sebuah seri underbone yang, ditugaskan untuk menantang Honda Astrea Grand yang mendominasi pasar. Underbone pertama milik Kawasaki Indonesia itu diberi nama Kaze, yang berarti angin dalam bahasa Jepang.
Melihat spesifikasi yang dibawanya, nama Kaze memang sangat cocok disandang motor perdana "Geng Ijo" tersebut. Saat diluncurkan pada Maret 1995, Kaze dibanderol seharga Rp3.890.000 on-the-road DKI Jakarta. Ia dilengkapi dengan mesin 111,6cc bertransmisi 4-speed yang mampu menghasilkan tenaga 8,4 hp pada 8.500 rpm dengan torsi 9 Nm di 3.500 rpm.
Kapasitas mesin itu tidak main-main untuk sebuah underbone era pertengahan 1990-an. Kompetitor Kaze saat itu, mulai dari Honda Astrea Grand, Yamaha Crypton, hingga Suzuki Shogun 110, masih bermain di kelas 100cc, 105cc, dan 110cc, sementara Kaze langsung hadir sebagai yang terbesar di kelasnya.
Tidak hanya kapasitas mesin yang unggul, Kawasaki juga mengklaim menggunakan teknologi superbike pada Kaze, yaitu dalam wujud blok silinder yang terbuat dari aluminium. Kala itu, material ini memang hanya digunakan pada motor-motor berperforma tinggi. Karburator yang digunakan pun adalah Keihin 18mm, yang terhitung terbesar pada zamannya. Teknologi pelumasan mesinnya juga tidak kalah canggih: Kawasaki memisahkan saringan oli untuk poros kem dan poros engkol, di mana poros engkol menggunakan saringan sentrifugal sementara kem menggunakan saringan sekunder.
Dari sisi fitur, Kaze juga selangkah di depan. Pada 1995, motor ini sudah dilengkapi kran bensin tipe on, off, dan reserve, sebuah fitur yang kala itu lazimnya hanya ada di motor sport. Speedometer-nya bahkan sudah menampilkan indikator posisi gigi, sesuatu yang belum dimiliki motor sekelas Astrea Grand sekalipun. Lampu utamanya lebar dengan dua bohlam, sementara lampu rem dan sein belakang dibuat terpisah. Sein-nya mungil, menempel di spakbor, sehingga mampu memunculkan kesan sporty untuk ukuran underbone saat itu.
Secara keseluruhan, Kaze tampil gagah dengan bodi yang cenderung mengotak besar. Sayang, kehebatan teknis dan desain yang cukup apik itu tidak serta-merta diimbangi dengan strategi promosi yang agresif. Kawasaki kalah garang dibanding rival-rivalnya dalam hal pemasaran, dan hal itu perlahan berdampak pada penetrasi pasar Kaze.
Meski begitu, Kawasaki tidak berhenti berinovasi. Setahun setelah Kaze meluncur, pada 1996, mereka menghadirkan varian Kaze R dengan satu ubahan paling mencolok, yaitu penggunaan rem cakram pada roda depan. Ini adalah sebuah lompatan besar untuk kelas underbone kala itu, di mana rem cakram masih menjadi barang mewah. Spesifikasi lainnya relatif sama dengan Kaze generasi pertama, dan perbedaan hanya terlihat pada striping-nya.
Evolusi berlanjut pada 1997 dengan hadirnya Kaze VR. Huruf VR merupakan singkatan dari Velg Racing dan, sesuai namanya, varian ini hadir dengan pelek palang tiga yang tampilannya mirip milik Kawasaki Ninja 150. Selain itu, ada perubahan lain yang cukup signifikan pada generasi ini, yaitu lampu sein dan rem belakang yang sebelumnya terpisah kini menyatu dalam satu unit. Desain lampu belakang menyatu ini bahkan kemudian banyak diadopsi oleh pengguna Kawasaki Ninja 150R. Kaze VR bertahan cukup lama di pasar, hingga tahun 2005.

Pada 2005, Kawasaki mengambil langkah besar dengan meluncurkan dua varian baru sekaligus. Yang pertama adalah Kaze R 125, yang merupakan pengembangan dari tiga model KMI sekaligus, yaitu Kaze, Blitz, dan Blitz Joy. Kaze R 125 menggunakan sasis Kaze lama yang terkenal tangguh, namun mesinnya diganti dengan milik Blitz Joy berkapasitas 125cc yang mampu menghasilkan tenaga 9,9 hp pada 8.000 rpm. Varian ini ditujukan untuk bersaing langsung dengan Honda Supra X 125 dan Suzuki Shogun 125 yang sedang naik daun.
Yang kedua, dan jauh lebih ambisius, adalah Kaze ZX130, yang disebut sebagai bebek rasa moge. Mesinnya berkapasitas 130,1cc dengan bore x stroke 53 x 59,1mm, menjadikannya yang terbesar di kelasnya saat itu. Speedometer-nya bahkan dilengkapi takometer, sebuah instrumen yang nyaris tidak pernah ada di motor bebek mana pun. Tangki bensinnya pun unik karena diletakkan di balik lampu depan yang meruncing, bukan di bawah jok seperti lazimnya motor bebek, sehingga ruang bagasi di bawah jok menjadi lebih lega.
Namun, Kaze ZX130 tidak sempat bersinar lama. Kemunculan Yamaha Jupiter MX dengan mesin yang lebih besar, suspensi monoshock, dan desain yang lebih menarik pasar membuat kiprah ZX130 terhenti pada 2009. Bersamaan dengan itu, berakhir pula era Kaze sebagai underbone Kawasaki yang benar-benar kompetitif di pasar Indonesia.
Seri Lain dan Barang Koleksi
Sebenarnya, masih ada satu jenis Kaze lain yang sempat beredar di Indonesia. Di luar seri Kaze 4-tak yang resmi dijual oleh KMI, ternyata ada pula varian Kaze bermesin 2-tak yang dikenal dengan nama Kawasaki K-1. Motor ini dijual bebas di Thailand dan Malaysia sejak 1997 hingga 2003, namun tidak pernah masuk secara resmi ke Indonesia.
Dengan mesin 107cc 2-tak yang menghasilkan tenaga 12,5 hp dan torsi 11,2 Nm, serta bobot yang hanya 94 kg, K-1 diklaim punya tarikan awal yang sangat galak, bahkan mampu mengimbangi motor 150cc 4-tak modern. Unit-unit K-1 ini masuk ke Indonesia lewat jalur impor dan rata-rata hanya digunakan untuk balap road race, sehingga motor ini pun jarang ditemukan di jalan umum.
Kini, tiga dekade setelah generasi pertamanya meluncur, Kaze telah menjelma menjadi barang koleksi. Pistonnya yang legendaris masih diburu para mekanik dan modifikator untuk keperluan bore-up motor harian seperti Honda Astrea Grand dan Yamaha Jupiter, karena materialnya dikenal sangat tahan lama.
Di pasar motor bekas, harga Kaze kini berkisar antara Rp4.500.000 hingga Rp7.000.000 untuk kondisi mesin sehat dengan surat lengkap, sementara unit dalam kondisi kolektor yang direstorasi total dan orisinil bisa menembus Rp10.000.000 ke atas.
Secara umum, Kaze boleh jadi kalah dalam pertempuran pasar. Promosinya tidak seagresif rival-rivalnya, desainnya dianggap kurang sesuai selera pasar di pengujung eranya, dan pada akhirnya Kawasaki sendiri memilih untuk meninggalkan segmen ini sepenuhnya. Akan tetapi, warisan teknisnya tidak ikut terkubur. Embusan "Si Angin" sudah tak sekencang dulu, tetapi jejak-jejaknya masih terasa hingga hari ini di bengkel-bengkel kecil dan garasi para kolektor yang tahu betul seperti apa keunggulan motor ini dibanding para pesaingnya dulu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































