tirto.id - Polda Sumatera Selatan meningkatkan kasus kecelakaan bus ALS-truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (6/5/2026), ke penyidikan. Sementara penyebab kecelakaan diduga akibat sopir menghindari jalan berlubang.
Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Rony Samtana mengungkapkan, status penyidikan diputuskan karena penyidik menemukan unsur dugaan kelalaian. Hal itu berdasarkan hasil investigasi tim gabungan dari Ditlantas Polda Sumsel dan Mabes Polri di lapangan.
"Kasus kecelakaan ini kita tingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan, sudah penyidikan," ungkap Rony, Jumat (15/5/2026).
Selanjutnya, kata dia, penyidik akan menggelar perkara untuk penetapan tersangka. Gelar perkara dihadiri saksi ahli dan kejaksaan untuk memberikan masukan kepada penyidik.
Namun, penyidik belum dapat menggambarkan pihak-pihak yang dapat menjadi tersangka, mengingat sopir kedua kendaraan yang bertabrakan meninggal dunia dalam insiden itu.
"Kita lihat hasil gelar perkara nanti," kata Rony.
Penyebab Kecelakaan Bus ALS vs Truk Tangki
Terkait penyebab kecelakaan, Rony menyebut berdasarkan keterangan kernet bus ALS yang selamat, sopir banting setir akibat menghindari lubang. Saat itu, bus dalam kecepatan tinggi hingga tak terkendali lalu menabrak truk tangki.
"Dugaan sementara karena menghindari lubang, tapi masih kita perdalam lagi," kata Rony.
Diberitakan sebelumnya, peristiwa tragis itu terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Muratara, Rabu (6/5/2026) pukul 12.00 WIB. Bus ALS rute Semarang-Medan tiba-tiba oleng saat pengemudi menghindari lobang.
Untuk mencegah kejadian yang fatal, pengemudi banting setir ke kanan dalam kecepatan tinggi. Dalam waktu bersamaan, datang truk tangki milik PT Seleraya dari arah berlawanan. Kedua kendaraan itu terlibat tabrakan hebat.
Sesaat kemudian, bus dan truk tangki terbakar dan meledak. Dalam keadaan terluka parah dan kondisi bus terbakar, tiga penumpang dan kernet bus berhasil menyelamatkan diri dengan cara keluar dari jendela. Bus lalu meledak dan api membakar habis seluruh badan bus.
Keempat korban selamat adalah kernet bus M Fadli (30) warga Riau, pasangan suami istri Ngadiono bin Wage (44) dan Jumiatun binti Surip (34) asal Pati, Jawa Tengah, serta M Tahrul Hubaidi (31) warga Pati, Jawa Tengah.
Kecelakaan ini menyebabkan 19 orang meninggal dunia. Di antaranya 17 meninggal di lokasi kejadian dan dua lain meninggal dalam perawatan di rumah sakit.
Penulis: Irwanto
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































