Menuju konten utama

Kisah Pilu Anak Korban Kecelakaan Bus ALS di Muratara Sumsel

Kecelakaan bus ALS di Muratara, Sumatra Selatan, membawa duka bagi keluarga korban termasuk Joni dari Pati, Jawa Tengah. Ia kehilangan sang ibu.

Kisah Pilu Anak Korban Kecelakaan Bus ALS di Muratara Sumsel
Anak korban Ngadiono dan Jumiatun. FOTO/Irwanto

tirto.id - Duka mendalam dirasakan Joni (22), putra pasangan suami istri Ngadiono (44) dan Jumiatun (36). Kedua orang tua Joni menjadi korban kecelakaan bus ALS-truk tangki di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026).

Sayangnya, Jumiatun meninggal dunia pagi tadi, Jumat (15/5/2026). Ia menjadi korban ke-19 yang meninggal dalam insiden itu.

Joni segera berangkat dari Pati, Jawa Tengah menuju Rupit, Muratara, setelah mendapat kabar kecelakaan itu. Sesampainya di sana, Joni merasa paling beruntung karena kedua orang tuanya merupakan empat korban selamat dalam kecelakaan maut tersebut.

Namun dirinya tersentak begitu melihat secara langsung kondisi kedua orang tuanya dalam perawatan di RSUD Rupit, Muratara. Keduanya mengalami luka bakar parah, terutama sang ibu. Jumiatun mendapatkan luka bakar di sekujur tubuhnya.

Kondisi Ayah Membaik, Namun Tidak dengan Ibu Joni

Hari makin hari, kondisi Ngadiono semakin membaik. Itu membuat perasaan Joni cukup lega meski ibunya harus dirawat intensif lagi, sampai keduanya dirujuk ke RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang.

Namun, kondisi Jumiatun memburuk pada Kamis (14/5/2026) malam. Joni pun dipanggil dokter untuk meminta persetujuan tindakan pompa jantung dengan risiko cukup fatal dialami pasien.

"Tadi malam saya dipanggil dokter, katanya ibu menurun drastis, harus dipompa jantung karena jalan terakhir, tapi tulang rusuk ibu bisa patah," ungkap Joni kepada Tirto, Jumat (15/5/2026).

Di saat menunggu ayahnya di ruang perawatan, Joni kembali dipanggil dokter. Kali ini mengabarkan bahwa ibunya telah meninggal dunia.

Joni tak kuasa mendengar kabar itu. Dia merasa dilematis. Satu sisi harus memberitahu kepada ayahnya yang juga terbaring, sisi lain tak bisa membayangkan perasaan ayahnya mendengar kabar duka itu.

Pelan-pelan, Joni mengobrol dengan ayahnya. Ia akhirnya bisa menyampaikan kabar kepergian ibunya.

Sontak kesehatan Ngadiono drop. Suhu tubuhnya tiba-tiba naik menjadi 38 derajat celcius dan menggigil.

"Bapak ngedrop, badannya panas dan menggigil begitu mendengar kabar ibu sudah meninggal," kata Joni.

Selama dirawat, Ngadiono selalu memanggil nama dan menanyakan kabar istrinya. Joni pun berusaha meyakinkan bahwa kondisi Jumiatun baik-baik saja agar ayahnya bisa tenang.

"Bapak nanyain ibu terus, tapi bapak jadi semangat kalau dibilang ibu baik-baik saja," kata Joni.

Kenangan Manis dari Pesan Ibu Nan Bijak

Joni bercerita, ayahnya Ngadiono bertahun-tahun merantau di Medan sebagai penjual kasur. Dia pulang ke Pati hanya satu tahun satu kali, saat lebaran saja.

Saat pulang kali ini, Ngadiono mengajak istrinya ke Medan untuk menemaninya berjualan. Mereka ingin mengubah nasib dan mengumpulkan uang banyak sebagai modal usaha di Pati.

"Bapak merantau sudah lama, sejak saya masih kecil. Dan baru kemarin ibu saya ikut merantau karena diajak bapak, sekalian bisa rawat ibu yang sakit-sakitan," ungkap Joni.

Joni dan adik bungsunya turut mengantar kedua orang tuanya di terminal. Meski bakal terpisah jauh, tidak ada kesedihan mendalam bagi mereka karena sudah sering ditinggal merantau.

Namun, Joni masih mengingat dengan jelas dua pesan ibunya sebelum naik ke bus ALS. Jumiatun berpesan agar Joni menjaga adiknya dan tidak merepotkan orang lain.

"Pesan ibu jagain adik dan jangan merepotin orang lain," kenang Joni menahan air mata.

Dalam perjalanan, Jumiatun menelepon dan mengeluhkan kondisi bus yang sering mogok. Joni hanya mengingatkan ibunya agar sabar dan selamat sampai tujuan.

"Ibu nelpon, sempat marah-marah karena bus itu tidak layak, sering mogok," tutup Joni.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN BUS atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Ilham Choirul Anwar