tirto.id - Saat ini, tren mobil di Indonesia menunjukkan bahwa yang menjadi idola adalah mobil-mobil berukuran besar. Ini bisa dilihat pada daftar mobil terlaris bulan Agustus dan September 2025, di mana mobil jenis MPV (multi-purpose van) begitu dominan, mulai dari Innova, Avanza, Calya, Sigra, sampai Xpander. Selain MPV, jenis SUV juga sangat diminati, terbukti dari keberadaan Rush dan Destinator di 10 besar mobil terlaris sepanjang dua bulan tersebut.
Untuk MPV, sebenarnya bukan hal mengejutkan karena sejak dulu mobil jenis ini memang sudah jadi idola masyarakat Indonesia, khususnya lewat Kijang, Panther, Taruna, bahkan Kuda. Kijang bahkan sudah hadir di tengah-tengah konsumen Indonesia sejak dekade 1970-an dan menjelma jadi mobil sejuta umat.
Sementara jenis SUV, bisa dibilang popularitasnya memang belum selevel MPV. Akan tetapi, menurut GAIKINDO, secara perlahan di Indonesia tengah terjadi pergeseran preferensi dari MPV ke SUV. Jika pada segmen mobil konvensional trennya belum terlalu terasa, di segmen mobil listrik (EV) popularitas SUV lebih terlihat, di mana 4 dari 10 EV terlaris di Indonesia sepanjang 2025 berjenis SUV.
Nah, ini kondisi di tahun 2025. Seperempat abad silam, situasinya jauh berbeda. Kala itu, pada akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an, masyarakat Indonesia sebenarnya sempat jatuh hati pada mobil-mobil berukuran kecil yang irit dan lincah digunakan di jalanan perkotaan. Mobil-mobil ini biasa disebut city car atau mobil perkotaan.
Kala itu, selain MPV, jenis mobil yang populer di Indonesia adalah sedan. SUV sebenarnya juga cukup populer. Akan tetapi, waktu itu SUV yang banyak beredar berukuran lebih kecil dibanding saat ini, dan biasa disebut sebagai jip kompak, seperti Katana, Feroza, dan Taft. Maka, ketika Suzuki meluncurkan Wagon R ke pasar Indonesia, yang kemudian namanya dilokalkan dengan sebutan Karimun, konsumen otomotif pun dibikin heboh.
Namanya unik, desainnya lain dari yang lain, dan iklan televisinya begitu memorable. Dibintangi Mi'ing, iklannya menyebut bahwa Suzuki Karimun merupakan mobil masa depan Indonesia. Meski tampak kecil, ukuran kabinnya sebenarnya cukup besar sampai-sampai bisa digunakan untuk mengangkut pohon. Tak lupa, jingle berbunyi "Karimun, Karimun" turut mengiringi di latar belakang.
Karimun Kotak dan Penerusnya
Suzuki Karimun sebetulnya bukan mobil ukuran kecil pertama yang hadir di pasar Indonesia. Sebab, sebelum itu pasar otomotif Indonesia sudah mengenal berbagai jenis hatchback seperti Forsa, Starlet, Charade, dan Civic Nouva. Bahkan, Honda Civic pertama yang hadir di Indonesia pada dekade 1970-an pun sebenarnya berukuran kecil dan berjenis hatchback.
Namun, genre Karimun memang beda. Bentuknya jelas tidak seperti sedan, melainkan lebih seperti MPV yang dibonsai. Itulah mengapa ia memiliki ukuran kabin yang lebih besar dan tinggi dibandingkan sedan hatchback. Di Jepang, di mana ia dikenal dengan nama Wagon R, mobil ini sejatinya masuk dalam kategori kei car, atau mobil kecil untuk pasar domestik Jepang.
Di Jepang, Wagon R pertama kali diproduksi pada 1993 dan mobil ini merupakan salah satu mobil pertama yang menggunakan desain tall-wagon, membuatnya jadi tampak lebih besar dibanding kei car lainnya. Kap mesinnya pendek dan di dalamnya terdapat mesin berkapasitas 660cc, sesuai dengan batasan untuk kategori kei car.

Meskipun pada 1998 Suzuki sebenarnya sudah memperkenalkan Wagon R generasi kedua, di Indonesia yang masuk pertama kali adalah Wagon R dengan bodi generasi pertama, dan di sini dikenal dengan nama Karimun.
Soal nama Karimun, ada dua versi yang beredar. Versi pertama datang dari pemberitaan tabloid Otomotif No. 20/IX 1999 yang menyebut "Karimun" sebagai hasil peng-Indonesia-an dari frasa "Carry to the Moon" atau "Bawa sampai ke Bulan".
Sementara versi kedua yang lebih meyakinkan berasal dari keterangan Presiden Direktur PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Seiji Itayama. Menurutnya, Karimun terinspirasi dari gugus kepulauan Karimunjawa yang terkenal sebagai daerah wisata.
"Pertama kali diluncurkan pada 1998, kami memilih Karimun karena terinspirasi nama kepulauan di Tanah Air yang terkenal keindahannya," ujarnya.
Meskipun memiliki bodi yang serupa dengan Wagon R generasi pertama, Karimun bukan karbon kopi dari kei car tersebut. Pertama, tak seperti Wagon R yang hanya memiliki tiga pintu (dua di depan dan satu pintu bagasi belakang), Karimun punya lima pintu karena di bagian penumpang pun turut diberikan pintu. Kedua, kapasitas mesin Karimun juga lebih besar, yaitu 1.000cc, yang merupakan mesin yang sebelumnya sudah digunakan Suzuki untuk mempersenjatai Katana dan Carry 1.0.
Menariknya, meskipun dihargai murah, Rp 69.750.000 (on the road Jakarta) kala itu, Karimun pertama kali diimpor secara CBU langsung dari Jepang. Baru pada tahun berikutnya, mulai 9 September 1999, Karimun hasil rakitan di Tambun, Bekasi, diluncurkan di Indonesia.
Dengan demikian, Karimun pun menawarkan banyak kelebihan bagi konsumen Indonesia. Harganya terjangkau, mesinnya bandel dan perawatannya mudah karena menggunakan mesin Katana dan Carry, konsumsi BBM-nya irit karena kapasitas mesin hanya 1.000cc, mudah dan nyaman dikendarai karena ukurannya kecil, dan ukuran kabinnya cukup besar karena menggunakan desain tall-wagon tadi. Tak pelak, mobil ini pun laris di Indonesia.
Menurut Suzuki Indonesia, Karimun generasi pertama, atau yang di kemudian hari populer dengan sebutan Karimun Kotak alias "Karko", terjual sampai 27.317 unit dalam kurun tujuh tahun (1999-2006). Artinya, rata-rata dalam setahun mobil ini terjual sampai kurang lebih 3.900 unit.
Popularitas Karimun Kotak mendorong Suzuki untuk memberikan pembaruan pada city car andalannya tersebut. Maka, pada 2006, mereka merilis Karimun Estilo. Jika Karimun Kotak adalah produk Jepang tulen, tidak demikian dengan Karimun Estilo yang merupakan hasil karya Suzuki cabang India alias Maruti Suzuki. Desainnya pun berubah total.
Ada alasan mengapa Karimun Kotak disebut Karimun Kotak. Selain karena desainnya kotak, Karimun Estilo yang menggantikannya punya desain yang jauh berbeda. Eksteriornya lebih membulat, garis-garisnya lebih lembut, cocok sekali untuk dipasarkan pada pertengahan 2000-an. Tak cuma itu, Karimun Estilo pun hadir dengan mesin berkapasitas lebih besar, 1.100cc.
Pada 2009, Suzuki memberikan facelift kepada Estilo dengan merilis Karimun New Estilo. Namun, facelift ini bukan sekadar mengubah tampilan eksterior. Tampilan eksteriornya memang diubah, di mana ukuran bodi jadi sedikit lebih besar dan desain grille serta bemper dibuat lebih sporty. Namun, perubahan yang paling signifikan dari New Estilo adalah pada bagian dapur pacu.
Estilo hadir dengan mesin 1.100cc 4 silinder, sementara New Estilo dibekali mesin 1.000cc 3 silinder. Sepintas ini terlihat seperti downgrade. Akan tetapi, yang belum disebutkan adalah mesin New Estilo dibekali teknologi Double OverHead Camshaft (DOHC) injeksi, sementara Estilo masih menggunakan teknologi SOHC. Hasilnya, tenaga yang dihasilkan New Estilo (68 ps) pun lebih besar dibanding Estilo (65 ps).

Akhir Perjalanan dan Spirit yang Terus Menyala
Lantas, seberapa lariskah Estilo dan New Estilo dibandingkan dengan Karko? Ternyata, menurut Suzuki Indonesia, Estilo dan New Estilo bisa terjual 21.805 unit hanya dalam empat tahun (2007-2011). Artinya, penjualan Estilo dan New Estilo per tahunnya sukses melebihi Karko.
Pada 2013, seiring dengan diterbitkannya regulasi Low Cost Green Car alias LCGC, status Karimun pun berubah menjadi mobil LCGC seiring dengan diluncurkannya Karimun Wagon R. Ya, dalam edisi kali ini, Karimun akhirnya menggunakan nama orisinalnya meskipun hanya sebagai embel-embel.
Dengan mengusung nama Wagon R, desain Karimun pun kembali seperti semula yang lebih boxy atau kotak. Hanya saja, Karimun Wagon R ini memang tidak sekotak edisi pertama. Masih ada aksen berlekuk seperti yang sebelumnya jadi identitas dominan Estilo dan New Estilo. Lampu depan mobil, khususnya, masih terlihat mirip dengan milik Estilo dan New Estilo.
Dua tahun berselang, Karimun Wagon R mendapatkan facelift seiring dengan diluncurkannya Karimun Wagon R AGS yang desainnya berubah cukup drastis, terutama di bagian grille dan lampu depan. Lampu depan versi AGS dibuat memanjang dan hal ini belum pernah tampak pada Karimun-Karimun edisi sebelumnya.
Nama AGS merujuk pada sistem transmisi Auto Gear Shift yang membuat mobil tersebut jadi perpaduan antara matik dan manual. Artinya, meskipun mobil tersebut sebenarnya merupakan mobil matik, ada "sensasi manual" yang dirasakan pengendara, di mana laju mobil akan sedikit mengendur saat mobil secara otomatis sedang "oper gigi".
Karimun Wagon R ini pada akhirnya jadi penutup perjalanan Karimun di Indonesia. Pada 2021, Suzuki Indonesia resmi menyetop penjualan Karimun Wagon R, khususnya karena angka penjualan yang terus merosot. Sebagai gambaran, pada 2015, mobil ini masih terjual di angka 11.526 unit. Namun, pada 2021 (Januari-September), hanya 1.772 unit yang dikirim ke dealer.
Meski demikian, Karimun Wagon R buatan Indonesia masih terus diproduksi sampai tahun ini, sebelum akhirnya dihentikan sepenuhnya. Sebelumnya, dalam kurun 2021-2024, Suzuki Indomobil masih memproduksi Karimun Wagon R untuk keperluan ekspor ke Pakistan. Namun, per November 2025, ekspor itu pun dihentikan dan, dengan begitu, perjalanan Karimun di Tanah Air sudah benar-benar berakhir.
Ya, setidaknya begitulah secara resmi. Secara tidak resmi, Karko, khususnya, masih jadi buruan para peminat mobil bekas. Menariknya, yang membuat Karko hingga kini masih diburu sama persis dengan apa yang dulu membuatnya begitu populer: harga murah (sekarang ada di kisaran Rp30-40 jutaan), perawatan mudah, sparepart gampang dicari, irit BBM, dan ukuran kabin yang lapang untuk ukuran mobil kecil.
Suzuki Indonesia saat ini sebenarnya juga menjual sebuah mobil yang, secara spirit, mewarisi segala yang dulu membuat Karimun populer. Mobil yang dimaksud adalah S-Presso. Ukuran bodi dan mesinnya kecil, sama seperti Karimun. Selain itu, desainnya juga unik dan cenderung imut, juga mirip dengan Karimun. Harganya pun bisa dibilang terjangkau (antara Rp172-182 juta).
Yang membedakan Karimun dengan S-Presso adalah soal ground clearance. Karimun, baik Karko, Estilo, maupun Wagon R, sama-sama punya ground clearance 170 mm. Sementara, S-Presso dibuat sedikit lebih tinggi (180 mm), sehingga Suzuki pun mengklaim mobil ini punya ground clearance layaknya SUV.
Dengan demikian, meski secara resmi disuntik mati pada 2021, Karimun sejatinya belum benar-benar mati. Di pasar mobil bekas ia masih menggeliat. Sementara, di pasar mobil baru, ia hadir dalam wujud baru yang masih setia dengan spirit awal kehadirannya.
Karimun mungkin tidak benar-benar jadi mobil masa depan Indonesia seperti iklannya tahun 1998, tetapi setidaknya ia mampu terus bertahan, dalam wujud yang terus berubah, untuk bertahan di tengah pasar yang semakin dinamis dan penuh tuntutan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































