tirto.id - Kabinet Keamanan Israel disebut telah menyetujui rencana pendudukan penuh Gaza, yang diusulkan Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu. Meski belum diumumkan secara publik, persetujuan ini diketahui melalui reporter Axios, Barak Ravid, mengutip pernyataan Kantor Perdana Menteri.
“Kabinet Politik-Keamanan menyetujui usulan Perdana Menteri untuk mengalahkan Hamas. [Militer Israel] akan bersiap mengambil alih Kota Gaza sambil memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk sipil di luar zona pertempuran," tulis Al Jazeera, Jumat (8/8/2025) pagi.
Seorang informan, pejabat senior Israel yang tak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Israel akan mengevakuasi semua warga sipil Palestina dari Kota Gaza ke kamp-kamp pusat dan wilayah lainnya pada 7 Oktober.
"Pengepungan akan dilakukan terhadap militan Hamas yang masih berada di Kota Gaza, dan pada saat yang sama, serangan darat akan dilancarkan di Kota Gaza," tulis Ravid di X, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Trump Disebut Hampir Setujui Rencana Netanyahu
Al Jazeera menambahkan, rencana Israel tersebut hampir disetujui Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Washington juga disebutkan, akan menyerahkan keputusan itu kepada Netanyahu.
“Dia bilang itu terserah Israel," kata koresponden Al Jazeera di Washington DC, Shihab Rattansi.
Netanyahu sebelumnya telah mengungkapkan keinginannya untuk menduduki Gaza secara penuh dalam wawancara televisi dengan Fox News. Perdana Menteri Israel ini menghendaki untuk menyerahkan Gaza kepada pihak ketiga yang tidak disebutkan namanya.
"Kami tidak ingin mempertahankannya. Kami ingin memiliki perimeter keamanan. Kami tidak ingin mengaturnya," katanya sepeti dilansir dari Al Jazeera.
“Kami ingin menyerahkannya kepada pasukan Arab yang akan memerintah dengan benar tanpa mengancam kami dan memberikan kehidupan yang baik bagi warga Gaza,” ucap Netanyahu dalam wawancara, sepeti dikutip dari AP.
AP menyebutkan, keputusan akhir untuk menduduki Gaza secara penuh, terjadi setelah Kabinet Keamanan Israel bertemu sepanjang malam. Adapun Israel hingga saat ini, sudah menguasai sekitar tiga perempat wilayah Gaza yang hancur.
"IDF (pasukan pertahanan Israel) akan bersiap untuk menguasai Kota Gaza sambil memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk sipil di luar zona pertempuran," kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters.
Usulan Netanyahu Sempat Ditentang Militer Israel
Usulan Israel untuk menduduki Gaza secara penuh, sudah diutarakan Netanyahu setidaknya sejak awal pekan ini atau pada Senin (4/8/2025). Seperti dilaporkan media setempat, Channel 12, awalnya Netayanhu mendapat penolakan dari IDF.
Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal (Letjen) Eyal Zamir, disebut sempat menolak dan menyatakan akan mengundurkan diri jika proposal Netanyahu itu disetujui.
Alasan penolakan Eyal Zamir, pendudukan penuh Gaza dianggap bisa membahayakan para sandera dan menambah beban militer setelah hampir dua tahun perang, seperti disebutkan laporan media Israel dikutip dari AP. Setidaknya masih ada 50 orang sandera di Gaza dan 20 orang diyakini Israel masih hidup.
Terlepas dari itu, kabar persetujuan Kabinet Keamanan Israel terhadap usulan Netanyahu, telah menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Terlebih ihwal nasib warga Gaza yang dilanda bencana kelaparan.

Terbaru, AP melaporkan bahwa 42 orang tewas pada Kamis (7/8/2025), dengan 13 di antaranya sedang mencari bantuan di zona militer Israel (Gaza selatan). Dua orang lainnya tewas di jalan menuju lokasi-lokasi terdekat yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung Israel.
Sebuah badan amal medis, MSF, menuding pendistribusian GHF merupakan jebakan maut yang dirancang dengan sengaja. GHF atau Gaza Humanitarian Foundation (GHF), merupakan yayasan pendistribusian bantuan yang didukung Israel.
"Ini bukan bantuan. Ini pembunuhan yang direncanakan," tegas MSF dikutip dari AP.
MSF mengelola dua pusat kesehatan yang sangat dekat dengan lokasi GHF di Gaza selatan. Mereka menyatakan, telah merawat 1.380 orang yang terluka di dekat lokasi tersebut antara 7 Juni dan 20 Juli, dengan 28 orang meninggal saat tiba. Setidaknya 147 orang menderita luka tembak – termasuk setidaknya 41 anak-anak–.
MSF mengatakan, ratusan lainnya mengalami cedera akibat serangan fisik akibat perebutan makanan yang kacau di lokasi tersebut. Beberapa pasien mengalami gangguan mata parah setelah disemprot dengan semprotan merica dari jarak dekat. MSF menyatakan bahwa kasus-kasus yang ditanganinya hanya sebagian kecil dari keseluruhan korban di lokasi-lokasi GHF.
"Tingkat salah urus, kekacauan, dan kekerasan di lokasi distribusi GHF merupakan kelalaian yang gegabah atau jebakan maut yang dirancang dengan sengaja," tegas mereka.
Hingga kini, serangan Israel sejak perang berkecamuk pada 7 Oktober 2023, telah menewaskan 61 ribu warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































