tirto.id - Badan Gizi Nasional (BGN) mengatakan petunjuk teknis (juknis) baru memuat kewajiban penggunaan air galon hingga chef bersertifikat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aturan tersebut sudah berlaku di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kata Nanik, setiap petunjuk akan langsung diperbarui setiap kali diperlukan.
“Juknis ini sudah berlaku, juknis ini bukan perpres, jadi tidak perlu dirancang. Jadi kalau diperlukan langsung ada perbaikan,” kata Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang saat dihubungi Tirto, Senin (27/10/2025).
Menurut Nanik, banyak perbedaan antara petunjuk teknis lama dan baru. Dalam aturan terbaru ini, BGN di antaranya memperketat sejumlah ketentuan teknis, termasuk waktu masak yang disesuaikan dengan permintaan sekolah.
“Yang jelas mengingatkan lagi bahwa Juknis yang sebelumnya sudah ada yaitu masak harus sesuai tahapan permintaan sekolah, kalau sekolah minta pukul 07.00 makanan harus sampai ya, masaknya pukul 2 malam, demikian seterusnya,” terang Nanik.
Sebelumnya, Nanik S. Deyang mengatakan pihaknya tengah menyiapkan petunjuk teknis baru untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam petunjuk itu, BGN akan mengatur tahapan kapasitas masak setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG.
“Soal kapasitas masak. Itu di juknis yang baru, itu untuk tahap pertama, mereka ini misalnya ada SPPG yang beroperasi,” kata Nanik dalam acara Talkshow bertajuk "Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa melalui MBG" disaksikan melalui akun YouTube BGN, Kamis (23/10/2025).
SPPG, kata Nanik, akan dimulai untuk memproduksi 500 hingga 1000 porsi MBG di tahap awal. Dia menyebut tahap ini menjadi latihan dan akan berlaku selama sebulan untuk dievaluasi.
“Nah, bagaimana mereka kemudian dalam satu bulan itu kemampuannya?,” kata Nanik.
Setelah melalui proses evaluasi, porsi masak untuk SPPG akan ditambah hingga 2500 sampai 3000 porsi. Menurutnya, hal ini sudah dihitung secara matang oleh BGN.
“Sebetulnya masak itu tidak sekali. Karena berdasarkan nanti batch 1, kan, ada sekolah yang jam 7, ada yang minta nanti jam 9, ada yang minta jam 12. Jadi, dimasak bertahap. Sehingga itu memungkinkan, masih bisa kapasitas itu,” tutur Nanik.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































