Menuju konten utama

Jual Anak Jadi Pilihan Ayah di Afghanistan untuk Bertahan Hidup

Kemiskinan ekstrem di Afghanistan membuat banyak kepala keluarga memutuskan untuk menjual anaknya agar semua anggota keluarga mampu bertahan hidup.

Jual Anak Jadi Pilihan Ayah di Afghanistan untuk Bertahan Hidup
Puluhan warga Afghan berada di depan kantor paspor setelah pejabat Taliban mengumumkan mereka akan mulai menerbitkan paspor kembali bagi warga, menyusul penundaan berbulan-bulan yang menghambat upaya mereka untuk meninggalkan negara setelah Taliban mengambil alih, di Kabul, Afghanistan, Rabu (6/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva/HP/djo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Para ayah di Afganistan memilih menjual anak mereka demi memastikan kelangsungan hidup satu keluarga. Hal ini jadi potret mengenaskan yang makin biasa di Afganistan, di tengah kemiskinan ekstrem dan risiko krisis kelaparan di depan mata.

Menukil BBC, menjual anak menjadi pilihan bagi kepala keluarga untuk melanjutkan kelangsungan hidup anggota keluarga yang lain. Praktik ini mulai banyak ditemukan di Provinsi Ghor, provinsi yang paling terdampak krisis kelaparan.

Saeed Ahmad merupakan salah satu ayah yang terpaksa menjual anak perempuannya. Anaknya yang masih berusia lima tahun, Shaiqa, dijual kepada kerabatnya demi memastikan kelangsungan hidup putrinya itu yang menderita radang usus buntu dan kista di hatinya.

“Saya tidak punya uang untuk membayar pengobatan. Jadi saya menjual putri saya kepada seorang kerabat,” kata Saeed.

Kontrak penjualan Shaiqa itu berisi perjanjian bahwa kerabat Saeed memberikan uang yang cukup untuk biaya operasi Shaiqa. Operasi itu betulan terjadi dan Shaiqa berhasil selamat. Namun, lima tahun lagi gadis itu akan diambil kerabat Saeed sebagai bagian dari kontrak.

“Jika saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini,” kata Saeed. “Tetapi kemudian saya berpikir, bagaimana jika dia meninggal tanpa operasi? Dengan cara ini setidaknya dia akan hidup.”

Abdul Rashid Azimi, ayah dari dua gadis kembar Roqia dan Rohila, juga menyatakan kesediaannya untuk menjual anak perempuannya untuk dinikahi orang lain. Ia menyebut jika satu anaknya “terjual”, hal itu “bisa memberi makan anak-anak saya yang lain setidaknya selama empat tahun”.

“Saya bersedia menjual putri saya. Saya miskin, terlilit utang dan tidak berdaya,” katanya sembari menangis. “Anak-anakku mendatangiku sambil berkata, 'Baba, beri kami roti'. Tapi apa yang bisa saya berikan? Di mana bisa menemukan pekerjaan?"

Ketiadaan lapangan pekerjaan dan kemiskinan ekstrem memang menjadi masalah utama banyak kepala keluarga di Ghor, Afganistan. Banyak dari mereka merasa putus asa dengan situasi yang sedang terjadi.

Rabani, salah satu kepala keluarga lain, merasakan keputusasaan itu. Ia merupakan salah satu ayah yang berkumpul di lapangan Chaghcharan, Ghor setiap subuh untuk mendapat kerja harian yang sangat jarang ada.

“Saya mendapatkan telepon yang mengatakan bahwa anak-anak saya belum makan selama dua hari,” kata Rabani. “Saya merasa harus bunuh diri. Tapi kemudian saya berpikir bagaimana hal itu bisa membantu keluarga saya?”

Juma Khan, seorang ayah yang juga ikut berebut pekerjaan yang jarang ada di lapangan Chaghcharan setiap subuh, juga mengalami keputus-asaan serupa Rabani.

Juma tergolong beruntung dari yang lain karena berhasil mendapat pekerjaan dari sana. Namun, dalam enam pekan terakhir, ia hanya mendapatkan tiga hari kerja. Pekerjaan yang ia dapat juga hanya menghasilkan antara 150 hingga 200 Afgani atau sekitar Rp41.000 hingga Rp55.000 per hari.

“Saya hidup dalam ketakutan bahwa anak-anak saya akan mati kelaparan.”

Kenapa Rakyat Afghanistan Begitu Miskin?

Kemiskinan akut merupakan salah satu potensi krisis yang tengah melanda Afganistan. Menurut PBB, tiga dari empat orang di Afganistan kini tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka.

Pengangguran merajalela, layanan kesehatan sulit didapat, dan bantuan yang sempat jadi penyelamat jutaan orang kini menyusut dalam taraf yang signifikan. Dengan situasi ini, Afganistan kini menghadapi tingkat kelaparan ekstrem yang mengenaskan: 4,7 juta jiwa hanya berjarak selangkah lagi jadi korban bencana kelaparan.

Pemerintahan Taliban, yang merebut kekuasaan pada 2021, menyebut bahwa situasi ini merupakan apa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya. Kemiskinan, katanya, merupakan dampak salah kelola pemerintah sejak invasi AS terjadi di sana pada 2001.

“Selama 20 tahun invasi, pertumbuhan ekonomi semu tercipta karena masuknya dolar AS. Setelah invasi berakhir, kami mewarisi kemiskinan, kesulitan, pengangguran, dan masalah lainnya,” kata Hamdullah Fitrat, wakil juru bicara pemerintah Taliban.

Juru bicara pemerintahan Taliban itu menyebut, pihaknya kini berupaya untuk menanggulangi masalah kemiskinan ekstrem lewat “proyek-proyek ekonomi besar” yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja. Banyak dari proyek ini berupa pembangunan infrastruktur dan pertambangan.

Akan tetapi, proyek-proyek tersebut bersifat jangka panjang dan hasilnya baru bisa dirasakan publik Afganistan setelah berjalan bertahun-tahun lamanya. Sedangkan, keputus-asaan yang dirasakan Abdul Rashid Azimi, Rabani, Juma Khan, dan Saeed Ahmad adalah problem mendesak.

Semula, situasi menuju krisis kelaparan terjadi di Afghanistan dapat ditekan oleh bantuan kemanusiaan yang mengalir ke negara tersebut. Namun, dalam dua tahun terakhir, keran bantuan tersekat.

Banyak donor yang menghentikan bantuan ke Afghanistan. AS, misalnya, yang sebelumnya jadi donor utama bagi negara ini, telah memotong hampir semua bantuan ke Afganistan pada 2025 lalu. Donor lain macam Inggris juga ikut mengurangi jumlah bantuan yang diberikan.

PBB mencatat jumlah bantuan yang diterima Afghanistan kini lebih rendah 70 persen daripada tahun 2025. Hal ini membuat kemiskinan makin menjerat keseharian penduduk Afghanistan.

“Kami tidak mendapat bantuan dari siapa pun—tidak dari pemerintah, tidak dari LSM,” kata seorang penduduk bernama Abdul Malik.

Baca juga artikel terkait KEMISKINAN EKSTREM atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar