Jejak Kematian Ali Kalora, Pemimpin Mujahidin Indonesia Timur

Oleh: Felix Nathaniel - 27 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
Kematian Ali Kalora hampir pasti meluluhlantakkan teror dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
tirto.id - Desa Astina di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah adalah daerah yang damai. Hamparan hijau terbentang luas sejauh mata memandang. Minimnya tingkat kejahatan membuat Astina mendapat ganjaran sebagai “Desa Sadar Hukum” dari pemerintah dari 2010 hingga 2017.

Tapi tempat setenang ini ternyata menyimpan bara. Di sinilah Ali Kalora, pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), bersembunyi. Di sini pula, di bagian selatan yang dipenuhi pegunungan, Ali Kalora menghadap ajal.

Aparat yang mengetahui Ali Kalora bersembunyi bersama rekannya, Jaka Ramadhan, pada Sabtu 18 September lalu langsung menerjunkan pasukan. Sekitar 2.000 personel TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Madago Raya terlibat dalam operasi ini. Dalam sebuah rekaman video, Satuan Tugas Madago Raya menembus hutan yang jalurnya sulit untuk bisa meringkus Ali Kalora. Mereka bahkan mengerahkan helikopter.

Ali Kalora dan pengawalnya tewas setelah sempat adu tembak dengan pasukan gabungan. Tempat kematian Ali Kalora berjarak sekitar 40 kilometer dari tempat kelahirannya di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Awalnya Satgas Madago Raya punya nama Satgas Tinombala. Pada akhir 2020, Polri memutuskan melanjutkan operasi karena belum memenuhi target dan pada awal 2021 nama tim diganti. Satgas Madago Raya ditargetkan melumpuhkan 11 anggota MIT yang telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam jangka waktu tiga bulan, terhitung dari 1 Januari hingga 31 Maret 2021.

Menjelang masa operasi berakhir, Satgas Madago Raya menembak mati dua anggota MIT, yakni Samid alias Alvin dan Haerul alias Irul. Pada kesempatan itu dua orang MIT lolos, salah satunya Ali Kalora.

Masa kerja tim pun kemudian diperpanjang. Pada awal Juli, ada lagi dua teroris MIT lagi yang ditembak mati Satgas, yakni Rukli dan Ahmad Panjang. Sekitar setengah bulan berselang, giliran Abu Alim yang diterjang timah panas. Dengan demikian tinggal enam orang tersisa dalam daftar DPO.

Pada Juni itu Satgas mengatakan butuh waktu sekitar dua bulan lagi untuk menuntaskan kerjanya dan baru September ini mereka bisa menghabisi Kalora.

Ada lagi anggota MIT yang ditembak hingga mati pada Agustus. Berdasarkan identifikasi, mereka adalah Qatar alias Farel dan Rukli. Nama yang disebut terakhir pernah dianggap mati pada awal Juli bersama Ahmad Panjang. Belakangan, nama Ahmad juga masuk kembali dalam sisa DPO.

Daftar DPO MIT kini menyisakan empat nama, yakni Askar alias Pak Guru, Mukhlas alias Nae, Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang, dan Suhardin alias Hasan Pranata. Seperti Kalora dan Jaka, hanya masalah waktu hingga mereka tertangkap.


Jejak Ali Kalora

Ali Kalora atau Ali Ahmad bukanlah pemimpin pertama MIT. Sebelumnya MIT dipimpin oleh Abu Wardah Asy Ayarqi alias Santoso kemudian Basri. Saat masih dipimpin Santoso, Ali Kalora adalah penunjuk jalan. Dia paham betul wilayah yang dikuasai MIT.

Santoso senasib dengan Ali Kalora. Dia ditembak mati oleh Satgas Tinombala pada 18 Juli 2016. Sekitar sebulan kemudian, giliran Basri yang ditangkap di pinggir sungai oleh Satgas Tinombala tanpa perlawanan. Basri, sebagaimana Ali Kalora, dianggap sebagai “tangan kanan” Santoso.

Meski Ali Kalora mengambil alih kepemimpinan setelah Basri ditangkap, ada sempalan MIT yang seakan punya kehendak sendiri dan kerap menjalankan aksi terpisah, yaitu kelompok Qatar. Sebagaimana namanya, kelompok ini dipimpin Qatar, dengan anggota Abu Alim alias Ambo, Nae alias Galuh, Askas alias Jaid alias Pak Guru, dan Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama.

Ali Kalora telah menebar teror setidaknya sejak 2011. Ketika itu ia terlibat dalam aksi penembakan di Jalan Eni Saenal dan menyebabkan seorang polisi meninggal serta satu polisi luka berat.

Hingga akhir 2014, aksi Ali Kalora cs. kebanyakan terkait dengan penembakan dan pengeboman. Memasuki 2015, teror mereka meningkat menjadi mutilasi. Pada September tahun itu, tiga warga di Kabupaten Parigi Moutung dimutilasi.

Teror MIT sempat mereda setelah Santoso terbunuh. Namun, pada 2018, kembali terjadi mutilasi di Desa Salubanga, kali ini menimpa Ronal Batau alias Anang, seorang penambang emas tradisional. Ketika itu MIT sudah dipimpin Ali Kalora.

Dua tahun kemudian, tindakan Ali Kalora cs. makin gila. Empat warga yang masih satu keluarga di Dusun Lewonu, Kabupaten Sigi, dimutilasi. Tujuh bangunan juga dibakar. Warga yang ketakutan memilih mengungsi ke desa induk, Lembantongoa, yang jaraknya sekitar 2-3 jam menggunakan sepeda motor.

Rangkaian teror di masa kepemimpinan Ali Kalora ini bukan merupakan tanda kebangkitan MIT. Nyatanya, mereka justru terus berada dalam pelarian. Benar bahwa selama lima tahun mereka berhasil bersembunyi dari kejaran aparat, tapi faktanya tak pernah bisa berpindah jauh. Ali Kalora cs. hanya berkutat di daerah yang sudah akrab: pegunungan kawasan Parigi Moutong.


Jika ditilik dari 2016, sisa-sisa kelompok Santoso, termasuk Ali Kalora, kabur dari Desa Tambarana yang berada di kawasan pesisir Poso Utara. Mereka kemudian masuk ke daerah pegunungan di Desa Lembantongoa pada 2020. Pada Februari 2021, ketika makin dekat dengan pesisir, mereka kepergok oleh aparat dan terlibat baku tembak, tepatnya di daerah Sausu Salubanga.

Maret 2021, ketika mendekat ke kawasan Tambarana, sekali lagi MIT terlibat adu tembak dan mengakibatkan dua anggota mati. Meski sudah melarikan diri ke Tanah Lanto, mereka tetap ditemukan Satgas Madago Raya dan lagi-lagi anggotanya meregang nyawa.

Selama ini hutan memang menjadi penyelamat Ali Kalora. Jika diukur berdasarkan Gmaps, maka Ali Kalora hanya terpisah sekitar 5 kilometer dari lokasi baku tembak terakhir Satgas dengan MIT di Tanah Lanto. Dari situ juga diketahui bahwa Ali Kalora memang tak pernah benar-benar jauh dari kampung halamannya.

Satu yang agak berbeda adalah pada Mei 2021, ketika MIT membunuh petani di kawasan Lembah Napu, Desa Kalimango, Kecamatan Lore Timur. Rekam jejak kelompok MIT di daerah tersebut minim. Dibanding tempat-tempat aksi sebelumnya yang saling berdekatan, Lembah Napu berjarak kira-kira 50 kilometer.

Hal ini terjadi karena pelakunya adalah MIT kelompok Qatar. Sebagaimana dijelaskan Satgas, MIT memang bertumpu pada dua kelompok utama, yaitu kelompok Ali Kalora dan kelompok Qatar. Sementara Ali Kalora beroperasi di Poso Pesisir Utara, Qatar menebar teror di sekitar Lembah Napu.


Akhir Teroris MIT

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mewaspadai potensi serangan balik setelah Ali Kalora ditembak mati. Bukan berarti hanya mungkin berasal dari MIT yang sudah hampir dibabat habis, tapi juga dari sel-sel teroris lain seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan sejenisnya.

Aparat sebenarnya sudah yakin bahwa MIT dalam posisi lemah sejak tahun lalu. Setelah kematian Ali Kalora, polisi kian percaya MIT tidak akan bisa bertambah kuat. Masalahnya, seperti diungkap BNPT, jumlah simpatisan organisasi teroris di seluruh Indonesia itu jumlahnya tak main-main: 17 ribu orang.


Infografik Ali Kalora
Infografik Ali Kalora. trito.id/Quita


Simpatisan MIT tidak pasti berapa jumlahnya, tapi mereka yang berperan aktif sedikit. Jika akurat, maka tinggal sisa empat orang. Sampai saat ini belum ada satu pun dari mereka yang diperkirakan bisa mengambil tempat Ali Kalora.

Memang organisasi semacam MIT bisa terus memunculkan pemimpin dan merekrut orang-orang baru. Namun dilihat dari rekam jejak Ali Kalora selama memimpin MIT yang minim penambahan anggota, agenda ini sulit terealisasikan. Mereka juga kian terpojok dikepung ribuan aparat.

Empat DPO yang tersisa adalah Askar, Nae, Ahmad Panjang, dan Suhardin alias Hasan Pranata. Dua di antaranya, Nae dan Askar, adalah bagian dari kelompok Qatar. Merekalah yang paling mungkin untuk melawan daripada menyerah. TNI percaya bahwa kelompok Ali Kalora, Hasan dan Ahmad Panjang, sebenarnya ingin menyerah berbulan-bulan lalu. Namun kelompok Qatar masih ingin menebar teror.

Tapi toh itu soal lampau. Sekarang bukan hanya Ali Kalora, tapi Qatar selaku pemimpin juga sudah ditembak mati.

Bila mereka tidak menyerah pun, pilihannya hanya tinggal tetap bersembunyi di wilayah yang semakin sempit atau mati ditembak.

Baca juga artikel terkait TERORISME atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino
DarkLight