tirto.id - "Gadis 24 Tahun Depresi karena Kecanduan Live TikTok", "Kecanduan Media Sosial, Cowok Ini Sengaja Telan Kunci", "Kecanduan Media Sosial Bikin Anak Muda Rentan Kena Gangguan Makan". Sebenarnya masih ada banyak lagi berita atau entri-entri yang muncul usai saya mencari "berita soal kecanduan medsos" di mesin pencarian Google.
Semua judul di atas itu nyata, termasuk soal seorang laki-laki yang menelan kunci lantaran kecanduan media sosial. Tidak cuma kunci, lak-laki asal India tersebut juga sudah menelan benda-benda yang lebih berbahaya lagi, mulai dari pemotong kuku sampai pisau. Namun, tidak dijelaskan secara mendetail kaitan antara "kecanduan medsos dan game online", seperti dikatakan dokter yang menangani laki-laki itu, dan tindakan di luar nalar yang dilakukannya.
Terlepas dari itu, kecanduan media sosial memang sudah menjadi satu persoalan yang dianggap sangat serius, setidaknya dalam 10 sampai 15 tahun terakhir. Kurun waktu ini memang jadi masa krusial, ketika pengguna media sosial meningkat signifikan. Pengguna Facebook, misalnya, pada 2010 hanya berada di angka 500 jutaan, lalu per Oktober 2025 angkanya sudah melebihi 3 miliar.
Tak cuma jumlah pengguna yang makin banyak, dalam 10-15 tahun terakhir wujud media sosial pun kian beragam. Ada Instagram yang diluncurkan pada 2010, Snapchat yang diluncurkan pada 2011, serta TikTok yang mulai beroperasi pada 2016 (versi Douyin). Ini belum termasuk platform-platform lain, macam LinkedIn, Pinterest, dan Path, yang sempat populer sekali di Indonesia pada awal 2010-an.
Variasi platform dan jenis konten yang ditawarkan itu, tak pelak, membuat setiap orang memiliki media sosial favoritnya masing-masing. Generasi tertentu pun punya ketertarikan dengan jenis konten tertentu sehingga akhirnya semua mengalami hal sama: kesulitan berhenti menggunakan ponsel pintarnya. Pada akhirnya, mereka melakukan doomscrolling dan ujung-ujungnya mengalami brain rot.
Kurang lebih, begitulah "skenario" kecanduan medsos yang selama ini dinarasikan. Makin banyak konten, makin besar konsumsi, makin besar pula kerugian yang dialami oleh para konsumennya. Akan tetapi, ada sebuah riset yang menyebutkan bahwa tingkat kecanduan media sosial manusia secara umum sebenarnya tidaklah separah yang selama ini dinarasikan, khususnya di media massa.
Pecandu Medsos Tak Sebanyak Itu
Ian Anderson dan Wendy Wood, dua peneliti dari California Institute of Technology (Caltech), baru-baru ini menerbitkan hasil studinya dalam jurnal Scientific Reports. Mereka mendapati bahwa, selama ini, banyak orang tidak kecanduan media sosial, tetapi menganggap dirinya mengalami kecanduan. Anggapan ini justru berbahaya karena malah membuat orang-orang itu jadi kesulitan mengurangi konsumsi media sosial.
Untuk sampai pada kesimpulan itu, Anderson dan Wood melakukan dua studi terpisah yang dirancang sedemikian rupa agar bisa benar-benar menggambarkan cara orang menggunakan media sosial dan menilai diri mereka sendiri.
Dalam studi pertama, kedua peneliti meminta ratusan pengguna Instagram berusia dewasa di AS untuk mengisi survei. Survei tersebut tidak hanya menanyakan soal durasi waktu membuka Instagram, tetapi juga mengukur gejala-gejala yang biasanya dipakai untuk menilai “kecanduan”.
Skala yang dipakai adalah skala ilmiah yang biasa digunakan dalam penelitian perilaku adiktif, yaitu sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Pertanyaan yang diajukan, misalnya, apakah seseorang terus memikirkan Instagram?, apakah mereka merasa gelisah saat tidak membukanya?, apakah mereka pernah mencoba mengurangi tapi gagal?, dan apakah penggunaan itu sampai mengganggu kehidupan sehari-hari?.
Mereka juga mengidentifikasi satu hal sederhana, tapi penting, yakni apakah para responden merasa bahwa diri mereka sudah kecanduan? Mereka juga ditanya apakah penggunaan Instagram mereka lebih mirip “kebiasaan yang berjalan otomatis" atau tidak?.

Dalam studi kedua, pendekatannya berbeda. Mereka melakukan eksperimen terhadap ratusan pengguna Instagram yang berbeda dari studi pertama. Para pengguna itu dibagi jadi dua kelompok lalu diberi perlakuan berbeda.
Kelompok pertama diberi teks berbahasa tegas dan keras. Misalnya, dengan menyebut bahwa media sosial itu “adiktif”, “berbahaya”, dan “menghilangkan kendali atas diri sendiri”. Kurang lebihnya sama dengan peringatan dari pemerintah atau lembaga resmi lainnya. Setelah membaca itu, para partisipan diminta menulis refleksi tentang cara mereka menggunakan Instagram.
Sementara itu, kelompok kedua diberikan teks dengan nada netral. Tujuannya? Tentu saja untuk melihat apakah menyebut suatu perilaku sebagai “kecanduan” dapat membuat orang langsung merasa lebih tidak berdaya meskipun mereka sebenarnya tidak benar-benar mengalami gejala kecanduan.
Lantas, bagaimana hasilnya? Well, bisa dibilang cukup mengejutkan. Dari studi pertama, responden yang menunjukkan tanda-tanda kecanduan ternyata hanya 2 persen!
Angka 2 persen itu jauh lebih kecil dibanding sejumlah klaim populer yang menyebut sekitar 10 persen orang AS kecanduan media sosial, dan hampir 30 persen merasa dirinya kecanduan. Bahkan, jika menggunakan data global, yang memperkirakan 4-5 persen orang di seluruh dunia kecanduan media sosial, angka 2 persen temuan Anderson dan Wood pun masih lebih kecil.
Nah, ketika ditanya langsung, persentasenya mengalami lonjakan. Hampir seperlima peserta, atau sekitar sepuluh kali lipat dari angka 2 persen di atas, merasa dirinya kecanduan. Ini kurang lebih sejalan dengan data persentase kecanduan media sosial di AS.
Padahal, menurut pengukuran objektif, orang-orang yang merasa dirinya kecanduan itu tidak menunjukkan gejala sesuai definisi. Dengan kata lain, banyak orang sebenarnya hanya punya kebiasaan kuat, tetapi mengira kebiasaan itu sebagai bentuk kecanduan.
Celakanya, orang yang menyebut dirinya “kecanduan” ternyata cenderung merasa punya kontrol diri lebih lemah. Mereka lebih sering merasa gagal mengendalikan penggunaan, lebih banyak menyalahkan diri sendiri, dan menilai hubungannya dengan media sosial cenderung negatif. Sebaliknya, orang yang mengakui bahwa perilakunya hanyalah “kebiasaan” tidak menunjukkan efek negatif sebesar itu.
Studi kedua dengan gamblang menunjukkan alasan di balik lonjakan persentase "kecanduan" tadi. Ketika terpapar oleh informasi yang menyugestikan bahwa dirinya mengalami kondisi tertentu, seseorang bisa benar-benar merasa telah mengalami kondisi tersebut, padahal tidak.
Media massa berperan besar membentuk narasi dan persepsi semacam itu. Anderson dan Wood menemukan, jumlah berita atau artikel yang menggunakan kata-kata kecanduan jauh lebih banyak ketimbang yang menggunakan diksi kebiasaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila persentase orang AS yang berpikir dirinya kecanduan media sosial bisa mencapai 30 persen.
Padahal, kecanduan dan kebiasaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Seseorang yang kecanduan, misalnya, bakal mengalami gangguan dalam hidupnya dan merasakan hasrat tak tertahankan untuk melakukan sesuatu. Sementara itu, kebiasaan hanyalah perilaku yang terbentuk karena sering dilakukan dalam situasi sama. Contohnya, saat sedang gabut, kita membuka medsos. Sesederhana itu.
Kita Hanya Kebiasaan Membuka Medsos, Bukan Kecanduan
Masih menurut kedua peneliti, sebagian besar penggunaan media sosial sehari-hari lebih cocok masuk dalam kategori kebiasaan. Sebab, mereka yang merasakannya tidak sampai mengalami gangguan hidup dan tidak ada tanda-tanda kompulsif atau terdorong melakukan sesuatu tanpa kendali diri. Situasi yang sebenarnya "sederhana" ini justru bisa jadi makin kompleks apabila pelaku kebiasaan itu malah menganggap dirinya sudah kecanduan.
Di sini, Anderson dan Wood sama sekali tidak bermaksud menganggap remeh kecanduan media sosial. Tentu saja kecanduan media sosial merupakan sesuatu yang nyata dan berbahaya. Berbagai risikonya sudah secara gamblang dijabarkan di berbagai riset, studi, bahkan artikel populer. Namun, overestimasi terhadap kondisi seseorang ternyata justru membuat situasi jadi lebih runyam dari seharusnya.
Hal ini, kurang lebih, sama dengan apa yang disebut sebagai overdiagnosis. Artinya, seseorang yang sebenarnya tidak perlu menjadi pasien justru harus menjadi pasien dengan mengidentifikasi problem yang semestinya tidak jadi masalah. Akibatnya, "pasien" tersebut mesti menjalani pengobatan yang ujungnya malah berbahaya bagi dirinya.
Di Australia, studi memperkirakan, pada 2012, sekitar 18 ribu kasus kanker pada laki-laki dan 11 ribu pada perempuan merupakan overdiagnosis—kanker yang kecil kemungkinannya menimbulkan gejala bila tidak ditemukan lewat skrining. Itu berisiko karena bisa membuat orang menjalani terapi invasif (termasuk kemoterapi) yang berefek samping berat dan bahkan bisa meningkatkan risiko kanker sekunder.
Dengan demikian, terkait kecanduan dan kebiasaan dalam mengonsumsi media sosial, media perlu bertanggung jawab dengan lebih berhati-hati dalam menggunakan diksi dalam pemberitaan. Pasalnya, meski mungkin maksudnya baik, eksposur terhadap diksi tertentu bisa menumbuhkan persepsi tertentu pada pembaca.
Selain itu, tentu saja, diagnosis yang tepat sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi mereka yang merasa dirinya kecanduan untuk meminta bantuan profesional untuk mengetahui secara pasti apakah mereka memang benar kecanduan atau hanya terjebak dalam sebuah kebiasaan buruk.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





























