tirto.id - Ruas jalan nasional Denpasar–Gilimanuk yang terletak di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, jebol hingga terbentuk lubang raksasa yang menganga lebar di tengah badan jalan. Akibatnya, arus kendaraan—terutama yang menuju atau datang dari Pelabuhan Gilimanuk—harus dialihkan atau disesuaikan.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi Bali, I Gde Wayan Samsi Gunarta, mengatakan perbaikan jalan Denpasar-Gilimanuk tersebut paling cepat selesai dalam waktu tiga minggu. Selama masa perbaikan jalan tersebut, akan terjadi pengalihan lalu lintas mulai dari penyeberangan di Banyuwangi hingga saat kendaraan melintas di Bali.
"Kalau yang menyeberang dengan tiga sumbu [kendaraan berat], kita tidak bisa terima selama masa perbaikan ini, karena tidak ada jalan yang cukup untuk mereka agar bisa ke Denpasar, baik lewat Singaraja dan Karangasem. Karena itu, harus dilakukan penyesuaian muatan dulu," kata Samsi kepada wartawan di sela acara Periklindo Electric Vehicle Conference, Jimbaran, Kamis (10/07/2025).
Penyesuaian muatan akan dilakukan di lokasi penyeberangan, baik saat berada di Banyuwangi maupun ketika sudah telanjur menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk. Kendaraan tiga sumbu diminta untuk membagi muatannya ke kendaraan yang lebih kecil. Apabila belum dipindahkan, maka kendaraan harus menunggu di ruang parkir hingga terdapat kendaraan kecil untuk transfer muatan.
Untuk kendaraan dua sumbu (truk engkel), Dishub juga mengimbau untuk menyesuaikan beban dengan medan yang akan dilalui. Samsi menyebut, jalan alternatif utara yang melintang melalui Cekik (perbatasan Buleleng-Jembrana) hingga Gitgit, Sukasada, tidak memadai untuk dilalui kendaraan besar karena keterbatasan ruang jalan.
"Jadi jangan dipaksakan. Karena kalau misalnya nanti dipaksakan, geometri jalan kita nanti tidak mendukung untuk beban-beban yang terlalu berat dan mungkin juga yang tidak stabil," tegasnya.
Samsi mengungkap bahwa kendaraan kecil masih diperbolehkan melintas melalui Bajera, tetapi dengan pengalihan rute lalu lintas. Kendaraan yang melintas dari sisi barat Bajera akan dialihkan menuju utara, sementara kendaraan dari sisi timur dibelokkan ke selatan. Lalu lintas kendaraan tersebut masing-masing dirancang dalam mode satu arah (one way).
"Untuk pariwisata, selama pariwisata menggunakan kendaraan yang kecil, tidak masalah. Untuk bus, kita masih bisa tangani, terutama untuk bus sedang. Kalau bus besar, harus dari utara (melalui Buleleng)," jelas Samsi.
Setelah jalan nasional Denpasar-Gilimanuk jebol, Samsi tidak melihat adanya gangguan pada penyeberangan. Namun, terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan kecil yang mengakibatkan arus kendaraan menjadi padat merayap di sejumlah lokasi.
"Sekarang kemacetan itu ada di Bajera sendiri. Kemudian sekarang di sepanjang jalan Singaraja menuju Denpasar. Ini karena kepadatannya meningkat. Yang di Singaraja ini sudah banyak laporan bahwa karena ada papasan, kendaraan terlalu besar, kemudian itu menyebabkan hambatan yang berarti," terangnya.
Dishub mengakui bahwa akan terdapat masalah di kemudian hari pada ruas jalan Denpasar-Gilimanuk yang terletak di depan Pasar Bajera itu. Namun, pihaknya mengalami kesulitan penanganan sejak awal sehingga jalan jebol terlebih dahulu.
"Pertama, medannya memang tidak mudah. Kemudian yang kedua, koordinasinya karena itu irigasi. Jadi sungai juga tidak bisa ditutup dalam waktu panjang, sedangkan penanganan gorong-gorong harus [dalam keadaan] kering, enggak bisa mengerjakan dalam keadaan basah," tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, ruas jalan nasional Denpasar-Gilimanuk, tepatnya di kilometer 38+725 yang terletak di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, ambles pada Senin (07/07/2025). Penyebab dari longsor tersebut adalah karena runtuhnya saluran irigasi yang melintasi bagian bawah badan jalan.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




























