tirto.id - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem menegaskan pihaknya menolak gencatan senjata dengan Israel yang terus melakukan serangan termasuk terbaru ke wilayah Lebanon Selatan.
Israel, yang pernah menduduki Lebanon Selatan selama sekitar dua dekade hingga 2000, terus menggempur wilayah utara negara tetangganya. Pasukan darat juga dikerahkan untuk menguasai wilayah hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan militernya telah menciptakan zona keamanan yang nyata dan kini sedang memperluasnya dengan mendorong lebih dalam ke wilayah Lebanon.
“Kami hanya menciptakan zona penyangga yang lebih besar yang dapat mencegah invasi darat ke Israel serta serangan rudal,” kata Netanyahu sebagaimana dilansir AFP, Kamis (26/3/2026).
Di sisi lain, Hizbullah merilis puluhan pernyataan yang mengklaim serangan terhadap pasukan Israel. Kelompok itu juga menyebut telah meluncurkan rudal pada Kamis dini hari ke sejumlah lokasi militer di Israel bagian tengah, yang memicu sirene serangan udara.
Media Israel melaporkan enam roket Hizbullah yang mengarah ke wilayah pusat berhasil dicegat seluruhnya.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres menyerukan kedua pihak untuk melakukan gencatan senjata. Ia juga memperingatkan Israel agar tidak meniru “model Gaza” di Lebanon Selatan, sebagaimana disuarakan sejumlah pejabat Israel, yang berpotensi memicu pengungsian massal.
Hizbullah menyatakan para pejuangnya telah melancarkan lebih dari 80 serangan pada Rabu, jumlah harian terbesar sejak konflik saat ini berlangsung, serta menyerang pasukan Israel di sembilan kota perbatasan.
Militer Israel menyebut seorang tentaranya mengalami luka parah akibat serangan roket di Lebanon selatan, sementara satu lainnya terluka akibat mortir. Sebelumnya, Israel juga melaporkan seorang perwira mengalami luka ringan dalam pertempuran. Serangan roket yang mengarah ke wilayah Haifa di Israel utara dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.
Lebanon terseret dalam perang di Timur Tengah setelah Hezbollah mulai menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah upaya menghentikan pertempuran, Presiden Lebanon menyerukan negosiasi langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Israel. Namun, usulan tersebut sejauh ini ditolak oleh pihak Israel.
Menanggapi hal itu, Qassem menegaskan kelompoknya menolak keras opsi tersebut. “Ketika negosiasi dengan musuh Israel diusulkan di bawah tembakan, itu adalah pemaksaan penyerahan diri,” ujarnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































