tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Rabu (25/3/2026) waktu setempat menyatakan bahwa Iran sebenarnya ingin bernegosiasi di tengah berlanjutnya operasi militer AS, namun enggan mengakuinya secara terbuka.
Dalam pidatonya di acara penggalangan dana tahunan National Republican Congressional Committee, Trump mengatakan Teheran berada dalam posisi tertekan.
“Mereka sedang bernegosiasi, omong-omong, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka takut mengatakannya, karena mereka pikir mereka akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri. Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami,” ujar Trump sebagaimana dilansir dari Anadolu Agency, Kamis (26/3/2026).
Ia juga melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut tidak ada pemimpin negara yang menginginkan jabatan tersebut lebih sedikit dibandingkan menjadi pemimpin Iran.
“Saya tidak menginginkannya. Nah, dengarkan beberapa hal yang mereka katakan. Kami mendengar dengan sangat jelas mereka berkata…'Kami ingin menjadikan Anda Pemimpin Tertinggi berikutnya.' Tidak, terima kasih. Saya tidak menginginkannya," lanjutnya.
Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat saat ini sedang menghancurkan Iran. Namun, ia menghindari penggunaan istilah perang untuk menggambarkan operasi tersebut.
“Saya tidak akan menggunakan kata 'perang' karena mereka berkata, 'Jika Anda menggunakan kata perang, itu mungkin bukan hal yang baik untuk dilakukan.' Mereka tidak suka kata perang karena Anda seharusnya mendapatkan persetujuan. Jadi saya akan menggunakan kata 'operasi militer', yang memang sebenarnya seperti itu. Ini disebut penghancuran militer,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Trump juga menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk menghilangkan ancaman.
“Apa yang harus kami lakukan adalah menyingkirkan kanker. Kami harus memotong kanker. Kanker itu adalah Iran dengan senjata nuklir, dan kami telah memotongnya. Sekarang kami akan menyelesaikannya,” katanya.
Ia menilai dampak kenaikan harga energi dan minyak akibat konflik ini hanya bersifat sementara. Trump turut memuji kemampuan militer AS, termasuk dalam menghadapi serangan balasan dari Iran. Ia mengklaim bahwa seluruh rudal yang diluncurkan Iran berhasil dicegat.
“Kami mendapat serangan. 100 rudal ditembakkan oleh Iran ke sesuatu yang sangat penting yang kami miliki. Saya tidak akan memberi tahu apa itu untuk alasan tertentu. 100 rudal yang melaju dengan kecepatan 2.000 mil per jam datang menuju elemen penting ini, dengan kekuatan dan kepentingan yang luar biasa. Dan dari 100 rudal yang datang kepada kami, 100 rudal langsung ditembak jatuh…Kami memiliki militer terbaik. Kami membuat peralatan militer terbaik,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Sejauh ini, sebanyak 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan sekitar 290 lainnya mengalami luka-luka sejak operasi tersebut dimulai.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































