tirto.id - Puncak haji sudah selesai, tapi pelayanan terhadap jemaah, khususnya gelombang kedua yang telah didorong ke Madinah secara bertahap sejak 7 Juni, tidak boleh kendor. Sejumlah layanan krusial seperti konsumsi, akomodasi, hingga kesehatan dipastikan benar-benar siap.
Untuk memastikan hal tersebut, Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Irjen Kemenhaj), Dendi Suryadi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara maraton ke sejumlah titik krusial di Madinah. Dalam rangkaian kunjungan sepanjang hari kemarin, Irjen memantau langsung kesiapan di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah, Sektor 3, Sektor 4, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dapur katering konsumsi, hingga Terminal Hijrah.
Langkah maraton ini dilakukan untuk memastikan seluruh lini pelayanan kepada jemaah haji tetap berjalan prima tanpa ada penurunan kualitas. Fokus utama dalam peninjauan ini adalah menjaga ritme kerja dan mental para petugas yang sudah berminggu-minggu melayani jemaah di Tanah Suci.
Sebab, kata Dendi, mengingat masa operasional haji yang panjang, faktor kelelahan fisik dan kejenuhan menjadi tantangan besar yang harus diantisipasi agar tidak mengorbankan kenyamanan jemaah. Sektor 3 yang membawahi belasan hotel pemondokan jemaah menjadi salah satu titik perhatian khusus dalam evaluasi kedisiplinan tersebut.
"Ini kan kita datang untuk mengecek teman-teman petugas ini, khususnya di Daker Madinah, agar jangan sampai ini hari ke-50 mereka jadi kendor gitu pelayanannya terhadap jemaah. Kemarin saya bertemu dengan sektor 3, ditemani oleh Pak Daker, dan mereka sudah biasa untuk melakukan konsolidasi dengan metode apel," kata Dendi.
Menurut Dendi, metode apel rutin di tingkat sektor memegang peranan yang sangat vital dalam menyukseskan kerja besar ini. Apel bukan sekadar seremonial, melainkan wadah untuk mengecek kesiapan fisik petugas, mendeteksi jika ada yang sakit, serta menjadi sarana efektif untuk menyampaikan instruksi secara berjenjang.
Melalui pertemuan fisik yang intens, koordinasi antarpetugas yang memegang tanggung jawab atas ribuan jemaah diharapkan bisa semakin solid dan kompak hingga akhir operasional.
Terkait kedatangan jemaah gelombang kedua yang dinilai jauh lebih rapi, cepat, dan teratur, Irjen Kemenhaj membeberkan, kuncinya terletak pada penyempurnaan manajemen operasional. Pelayanan haji merupakan kerja multifungsi yang kompleks karena melibatkan ekosistem transportasi, akomodasi, hingga penanganan khusus bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.
“Sinergi yang kuat antarlini di lapangan terbukti mampu memangkas waktu tunggu dan mengurai potensi kepadatan saat jemaah tiba,” kata dia.
Sementara terkait banyaknya pujian dari jemaah atas kinerja petugas pada gelombang pertama, Dendi meminta seluruh tim di lapangan untuk tidak terlena atau berpuas diri.
"Saya bilang kita senang dipuji, tapi kita menyadari bahwa ini belum sempurna, tentu. Oleh sebab itu, supaya tidak lengah, kita tidak terlalu berbesar hati, berbangga hati, terus saja pujian ini menjadi lecutan kita justru untuk berbuat lebih baik," kata dia.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, Kemenhaj berkomitmen untuk menampung seluruh masukan dan evaluasi objektif langsung dari para pelaksana garda terdepan, mulai dari ketua sektor hingga ketua kloter.
Dendi menekankan, keandalan sebuah sistem pada akhirnya akan sangat bergantung pada komitmen manusia yang menjalankannya di lapangan. Hasil evaluasi komprehensif ini nantinya akan menjadi dasar perbaikan sistem organisasi serta pemenuhan fasilitas penunjang pada musim haji berikutnya.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































