Menuju konten utama

Iran War Update: Kenapa Iran Jadi Sering Menyerang Uni Emirat?

Berita terkini perang Iran menunjukkan Teheran makin sering melakukan serangan ke Uni Emirat Arab. Simak alasan yang melatarbelakangi serangan itu.

Iran War Update: Kenapa Iran Jadi Sering Menyerang Uni Emirat?
Foto ini menunjukkan jejak roket dan intersepsi di langit di atas kota Netanya, Israel, pada 14 Juni 2025. Iran menyerang Israel pada awal 14 Juni dengan rentetan rudal setelah serangan besar-besaran yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer republik Islam tersebut, dan menewaskan beberapa jenderal tinggi. (Photo by JACK GUEZ / AFP)

tirto.id - Selama Perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel, Uni Emirat Arab (UEA) adalah salah satu negara Teluk yang paling terdampak. Kini, Iran bahkan tampak meningkatkan retorika ancaman perang ke UEA di tengah masa gencatan senjata. Mengapa demikian?

Awal pekan ini, Iran dengan eksplisit membuat pernyataan tentang sikap permusuhan dengan UEA. Anggota parlemen Iran, Ali Khezrian, menyebut Teheran kini tak lagi melihat UEA sebagai negara tetangga, melainkan lokasi “pangkalan musuh”.

“Label ‘tetangga’ kita dengan Emirat untuk saat ini telah dicabut, dan label ‘pangkalan musuh’ telah diberikan kepada negara tersebut," kata Khezrian dalam siaran televisi Pemerintah Iran.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga membuat pernyataan yang memperlebar keretakan hubungan antara Teheran dan Abu Dhabi. Mereka menyebut Pelabuhan Fujairah milik UEA berada di dalam wilayah Selat Hormuz. Oleh sebab itu, seluruh kapal yang melintasinya berada di bawah kendali maritim Iran.

Pernyataan-pernyataan itu merupakan retorika ancaman terbaru Iran untuk UEA. Sebelumnya, UEA telah menjadi salah satu negara yang paling banyak dijadikan target oleh Iran. Namun, mengapa hal itu terjadi?

Alasan Iran Serang UEA: Main Mata dengan AS-Israel

Seturut Al Jazeera, keterangan resmi militer Iran yang dipimpin oleh para jenderal IRGC pada pekan lalu telah menyiratkan alasan mengapa mereka lebih intens menyerang Abu Dhabi ketimbang negara Teluk lainnya. Hal ini, kata mereka, karena sikap UEA terhadap AS dan Israel.

Keterangan militer Iran itu secara eksplisit memperingatkan para pemimpin UEA agar tak menjadikan negara mereka sebagai “sarang Amerika dan Zionis, serta pasukan dan peralatan militer mereka, untuk mengkhianati dunia Islam dan Muslim”.

Militer Iran menyebut hubungan UEA dengan AS-Israel yang makin erat telah berkontribusi pada ketidakamanan regional. Hal ini disampaikan dalam pernyataan yang sama dengan peringatan akan adanya “tanggapan yang menghancurkan” atas serangan di wilayah selatan Iran baru-baru ini.

Setidaknya sejak setengah dekade terakhir, UEA memang menjadi salah satu negara Teluk yang paling dekat dengan AS dan Israel. Hubungan UEA dengan poros tersebut makin tampak erat sejak tercapainya Kesepakatan Abraham pada 2020.

Kesepakatan yang ditengahi oleh AS itu menormalisasi hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan antara negara Arab/Muslim dengan Israel. UEA jadi salah satu negara yang menandatanganinya, bersama Bahrain, Sudan, Maroko, dan Kazakhstan.

Sejak penandatanganan perjanjian tersebut, hubungan UEA dan Israel menjadi makin menguat. Kedua negara kini memiliki kerja sama ekonomi, militer, dan intelijen. Produsen senjata Israel, Elbit Systems, juga telah mendirikan anak perusahaan di UEA sebagai salah satu bentuk kesepakatan.

Ketika perang pecah pada 28 Februari lewat serangan AS-Israel ke Iran, Tel Aviv juga kedapatan telah mengirimkan teknologi pertahanan udara Iron Dome mereka ke UEA. Teknologi itu dilaporkan dikirim Tel Aviv bersama puluhan pasukan untuk mengoperasikannya sebagai upaya menahan gempuran Teheran.

Pada Selasa (12/5/2026), duta besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyebut bahwa bantuan teknologi Iron Dome merupakan bagian dari Perjanjian Abraham 2020.

Selain hubungan erat UEA dengan Israel, Abu Dhabi juga dituduh telah menggunakan fasilitas militer mereka untuk membantu melancarkan serangan AS-Israel ke Teheran. Pesawat tempur, drone, maupun fasilitas lain macam pangkalan udara diduga telah digunakan selama pertempuran.

Pada April lalu, IRGC merilis gambar di saluran Telegram mereka, menampilkan pesawat tempur Mirage 2000-9 buatan Prancis tengah terbang di atas Iran bagian selatan. Pesawat itu diduga dioperasikan UEA.

Dugaan serupa juga sempat dikeluarkan media Israel ketika peperangan berusia seminggu. Media tersebut melaporkan jet tempur UEA telah melakukan serangan ke fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm, Iran.

Akan tetapi, sejauh ini UEA membantah hal tersebut. Seperti yang dilakukan pejabat senior Iran, Ali al-Nuaimi, yang menyebut laporan media Israel itu sebagai “berita palsu” dan menyatakan “kami memiliki keberanian untuk mengumumkan” jika mereka melakukan serangan.

Akan tetapi, di luar konteks perang kali ini, UEA dan Iran sudah lebih dulu memiliki konflik teritorial. Kedua negara itu memiliki perselisihan berkepanjangan tentang kepemilikan sejumlah pulau di dekat Selat Hormuz, seperti Pulau Tunb Besar, Tunb Kecil, dan Abu Musa.

Selain itu, UEA juga memiliki perselisihan dengan kelompok bersenjata yang didukung Iran, yakni Houthi di Yaman. Kedua pihak pernah bertempur untuk dua sisi yang berbeda di Yaman.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar