Iqbaal, Minke, & Pram adalah Bumi Manusia Sejarah Tirto

Oleh: Iswara N Raditya - 16 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Film dan novel Bumi Manusia menceritakan tentang sosok Minke atau sejarah hidup Tirto Adhi Soerjo dalam kehidupan nyata.
tirto.id - Aktor muda Iqbaal Ramadhan memerankan Minke dalam film Bumi Manusia yang disutradarai Hanung Bramantyo. Film ini diadaptasi dari novel semi-fiksi karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul sama. Kisah Minke yang diperankan Iqbaal dan dituliskan Pram dalam Bumi Manusia sebenarnya adalah sejarah hidup Tirto Adhi Soerjo.

Meskipun tidak sepopuler para tokoh sejarah pergerakan nasional lainnya macam H.O.S. Tjokroaminoto, Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara, maupun Sukarno atau Mohammad Hatta, namun andil Tirto Adhi Soerjo sebenarnya sangat besar sebagai orang yang memulai perjuangan melawan penindasan melalui cara-cara yang elegan dan modern.

Kiprah Tirto Adhi Soerjo yang dirintis sejak awal abad ke-20 mencakup berbagai lini kehidupan. Ia membuka jalan perjuangan lewat jalur jurnalistik, organisasi pergerakan, maupun ragam pemikiran dalam upaya menyadarkan rakyat Hindia (Indonesia) untuk berpikiran lebih maju.


“Sekarang ini adalah zaman kemajuan. Semboyan kita tentang perjuangan untuk mencapai kemajuan tidak boleh hanya menjadi omong kosong saja,” tandas Tirto Adhi Soerjo, seperti dituliskan kembali oleh Takashi Shirashi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1990).

Tirto Adhi Soerjo adalah satu dari segelintir orang Indonesia telah berpikir tentang gagasan kebangsaan di tengah himpitan rezim kolonial, bahkan sebelum Boedi Oetomo (BO), yang kerap disebut sebagai tonggak pergerakan nasional, hadir dalam pikiran.

Sosok, pemikiran, dan sepak-terjang Tirto Adhi Soerjo bagi sejarah pers Indonesia dan pergerakan nasional inilah yang menjadi inspirasi lahirnya Tirto.id sejak 2016 lalu.


Perintis Pers & Pergerakan

Dikutip dari Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo (2008) suntingan Muhidin M. Dahlan dan Iswara N. Raditya, Tirto Adhi Soerjo adalah orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar yang ditulis, dimodali, serta dikelola oleh kaum bumiputera sendiri. Surat kabar itu bernama Soenda Berita, terbit pertamakali pada 1903.

Tahun 1907, seperti disebutkan dalam Garis Besar Perkembangan Pers Indonesia (1971) yang disusun oleh Serikat Penerbit Suratkabar, Tirto Adhi Soerjo mendirikan dan memimpin penerbitan koran lainnya, yaitu Medan Prijaji.

Inilah surat kabar pertama di Indonesia yang menjalankan fungsi jurnalisme advokasi. Melalui Medan Prijaji, Tirto membuka ruang pengaduan bagi para pembaca yang merasa tertindas, baik oleh pejabat kolonial maupun pejabat pribumi, dan nantinya akan ditindaklanjuti jika memang dibutuhkan.

Tak hanya sebagai perintis pers bumiputera, Tirto juga menjadi salah satu tokoh Indonesia yang mempelopori dibentuknya organisasi sebagai alat perjuangan dan persatuan. Dua warsa sebelum Boedi Oetomo (BO) berdiri pada 1908, Tirto sudah mendeklarasikan perhimpunan bernama Sarekat Prijaji (SP) tahun 1906.

“… kita dapat persilaan akan mencari daya-upaya supaya ada persarikatan umum yang memperhatikan hal kita anak Hindia yang sia-sia itu,” demikian tulis Tirto di Medan Prijaji mengenai hadirnya perhimpunan yang digagasnya tersebut.

Tirto Adhi Soerjo, yang pernah sekolah di STOVIA (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) dan sempat bergabung dengan Boedi Oetomo, lalu mendirikan perhimpunan lainnya bernama Sarekat Dagang Islamiah (SDI) pada 1909 di Bogor.

Pendirian SDI diberitakan oleh berbagai surat kabar kala itu. Retnodhoemilah edisi 7 April 1909, misalnya, menuliskan bahwa tujuan utama SDI adalah untuk “mendjaga kepentingan kaoem Moeslimin.”


Bagi Tirto Adhi Soerjo, SDI seakan menjadi ruang baru untuk melepaskan dari lingkaran keningratan yang selama ini lekat pada dirinya. Ya, Tirto adalah seorang bangsawan Jawa yang termasuk kelas tinggi.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 1880, nama aslinya adalah Raden Mas Djokomono. Dari garis neneknya, Djokomono masih keturunan langsung dari raja-raja yang pernah berkuasa di tanah Jawa.

SDI agak terabaikan karena Tirto Adhi Soerjo bolak-balik ke pengadilan kolonial dengan tuduhan pencemaran nama baik akibat tulisannya di Medan Prijaji yang menyerang pejabat kolonial.

Pada 17 Desember 1912, hakim memutuskan Tirto Adhi Soerjo harus menjalani pembuangan ke Maluku. Sebelumnya, pada akhir 1909, ia juga pernah diasingkan ke Teluk Betung, Lampung, atas perkara sejenis.

“Saya dibuang karena mengusik kelakuan seorang pejabat dengan menggunakan kalimat menghinakan,” tukas Tirto Adhi Soerjo mengenai hukumannya itu sebagaimana diwartakan surat kabar Djawi Kondo (19 Oktober 1909).

SDI pada akhirnya diambil-alih oleh Hadji Samanhoedi, seorang saudagar batik sekaligus tokoh masyarakat di Solo, yang kemudian mengajak Tjokroaminoto untuk mengurus organisasi itu.

Perkembangannya kemudian, SDI berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI), tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia: Volume 3 (2004). Di bawah pimpinan Tjokroaminoto, SI menjelma sebagai organisasi pergerakan rakyat terbesar di Nusantara pada dekade kedua abad ke-20.


Bumi Manusia Tirto

Sekembalinya dari tanah pembuangan, Tirto Adhi Soerjo sudah tidak punya apa-apa lagi, seluruh asetnya disita pemerintah kolonial, banyak teman dan kolega yang menjauh lantaran takut bernasib serupa dengannya. Sisa hidupnya pun selalu dalam pengawasan intelijen Hindia Belanda.

Tirto depresi parah. Ia kian terasing, geraknya disudutkan hingga tak bisa ke mana-mana lagi. Kekalahan dan keprihatinan akut terhadap penderitaan bangsanya berakibat buruk pada mental dan kesehatannya yang terus menurun.

Bahkan, Tirto dikabarkan nyaris kehilangan ingatan akibat penderitaan lahir dan batin yang menyerangnya dari mana-mana.

Infografik Tirto Adhi Soerjo
Infografik Tirto Adhi Soerjo Motor Pergerakan Nasional


Tanggal 7 Desember 1918, Tirto Adhi Soerjo menutup mata untuk selama-lamanya di Mangga Dua, Batavia (Jakarta). Tidak ada upacara atau pidato pelepasan saat penguburannya yang memang hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja.

Kiprah dan sejarah hidup Tirto Adhi Soerjo ditampilkan kembali oleh Pramoedya Ananta Toer lewat sosok Minke dalam karya semi-fiksi "Tetralogi Pulau Buru" yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, serta Rumah Kaca.

Selain itu, Pram juga menulis buku non-fiksi tentang Tirto Adhi Soerjo dengan judul Sang Pemula yang diterbitkan pada 1985.


Kini, roman Bumi Manusia karya Pram diangkat ke layar lebar oleh Hanung Bramantyo dengan Iqbaal Ramadhan selaku pelakon utamanya, yakni berperan sebagai Minke yang tidak lain adalah Tirto Adhi Soerjo dalam kisah nyata.

Maka sejatinya, Minke dalam alam pikiran Pram dan Iqbaal versi Hanung adalah jejak langkah bumi manusia seorang anak semua bangsa bernama Tirto Adhi Soerjo yang terabaikan oleh sejarah meskipun telah berdaya-upaya menyuluh bangsanya dari keterpaksaan hidup di rumah kaca kolonial.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz
DarkLight