Menuju konten utama

Invasi Monyet ke Permukiman, Cermin Krisis Ruang Hidup Satwa

Kawanan monyet liar masuk permukiman Tangsel, cermin krisis ruang hidup akibat pembangunan yang kian menekan habitat alami.

Invasi Monyet ke Permukiman, Cermin Krisis Ruang Hidup Satwa
Ilustrasi Monyet. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Konflik antara satwa liar dan manusia kembali terjadi di tengah-tengah perkotaan. Kali ini kawanan monyet ekor panjang (Macacafascicularis) memasuki permukiman warga di wilayah Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan.

Pada Selasa (7/10/2025), kawanan monyet ini terpantau masih bergelantungan di tiang-tiang listrik dan atap rumah warga. Kondisi ini memicu kekhawatiran potensi primata itu menyerang dan melukai warga.

Kepada Tangsel Update yang melaporkan untuk tirto.id, salah seorang warga bernama Shepia Selviana menyatakan bahwa kawanan monyet tersebut terlihat bergelantungan di kabel listrik. Selain itu, kawanan monyet itu juga sesekali turun ke atap rumah warga.

"Lokasinya di Jalan Setiawarga RT 02 RW 09, Rawa Mekar Jaya, dari pagi banyak banget. Bikin khawatir soalnya banyak anak-anak juga," tuturnya, Selasa (7/10).

Selviana cemas kawanan monyet itu menyerang dan melukai anak kecil. Sebelumnya, dia mendengar kabar ada kejadian anak yang digigit oleh monyet di wilayahnya. Dia mengharapkan ada langkah lebih lanjut dari Pemerintah Kota Tangsel dalam mengatasi bahaya kawanan monyet.

“Buat Pemkot Tangsel, mungkin kalau warganya buat laporan ke damkar langsung teratasi, tapi kan monyet-monyet ini kadang nggak menetap di sini, pindah-pindah," ucapnya.

Sehari sebelumnya, kawanan monyet ini juga terlihat di kawasan permukiman lain. Bahkan, sampai berlabuh di halaman rumah warga yang berada di Kelurahan Cilenggang, Serpong. Menurut Wulandari, seorang warga, monyet-monyet ini lompat dari atap rumahnya ke kabel listrik dan hinggap ke atap rumah warga. Beberapa warga mengusir dengan menggunakan kayu dan sapu.

"Pas pagi-pagi tetangga teriak karena tiba-tiba banyak monyet di halaman rumah dan atap, spontan ambil sapu tapi tetap takut juga saya," ujar Wulan.

Diduga kuat kawanan monyet ini berasal dari kawasan Hutan Puspitek milik BRIN. Kawanan monyet memang sering terlihat di pinggir jalan lingkar dalam kawasan tersebut. Belum diketahui alasan pasti mengapa kawanan monyet ini berpindah-pindah lokasi dari titik awal terlihat. Migrasi monyet ini bahkan sudah mencapai Kelurahan Rawa Mekar Jaya yang jaraknya kurang lebih 10 kilometer dari titik awal.

Gesekan antara kawanan monyet liar yang bertandang ke kawasan permukiman manusia berulang terjadi, bahkan di sejumlah wilayah urban. Fenomena ini muncul akibat tumpang tindihnya ruang hidup alami (habitat) primata liar dan aktivitas manusia (antropogenik) yang berpotensi menimbulkan dampak negatif, entah pada manusia atau monyet itu sendiri.

kawanan Monyet Ekor Panjang di pemukiman

Tangkapan layar kawanan Monyet Ekor Panjang terlihat di Kawasan Permukiman Warga di Kelurahan Rawa Mekar Jaya. FOtO/ Jupri Nugroho

Akhir Februari 2024 lalu misal, kawanan monyet liar berkeliaran di beberapa permukiman di Kota Bandung. Kawanan monyet liar terlihat di daerah Dago hingga Sekeloa, Coblong, Kota Bandung. Namun mereka berpindah-pindah hingga wilayah Sukaluyu.

Kawanan monyet itu kemudian sampai ke sekitaran Jl Supratman-Ahmad Yani. Primata itu terlihat berkeliaran di atap ruko dan rumah-rumah warga. Diduga monyet-monyet liar itu berasal dari kawasan Tahura Djuanda.

Kawanan monyet juga beberapa kali memasuki permukiman warga di wilayah Kota Depok. Misal pada 2023 lalu, ketika monyet liar berkeliaran di daerah Cipayung sampai menyerang warga. Tahun yang sama, puluhan monyet juga meresahkan warga Sukmajaya yang diduga merupakan peliharaan lepas.

Awal tahun ini, juga terdapat pemberitaan bahwa kawanan monyet menyerbu permukiman warga di kawasan Cibubur, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat. Aksi kawanan monyet liar ini tampak di atap toko bangunan, dekat dengan Rumah Sakit Permata Cibubur. Monyet berlarian menuju pepohonan rimbun dan terpantau warga sedang mencari makan. Menurut penduduk setempat kejadian seperti ini sudah sering terjadi.

Warga Jombang, di Desa Jombatan dan Podomoro juga sempat diteror aktivitas agresif dua ekor monyet liar yang masuk ke pemukiman warga pada Juli 2025 lalu. Dua bocah dan satu lansia menjadi korban karena dicakar secara ganas oleh monyet-monye liar itu.

Mengapa kawanan monyet liar kerap muncul di pemukiman warga?

Dalam penelitian ilmiah berjudul, “Gangguan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Sekitar Pemukiman di Desa Tumuk Manggis dan Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat" yang ditulis Oriza dkk (2019), latar belakang utama dari konflik antara monyet ekor panjang liar dengan manusia disebut akibat perubahan habitat monyet.

Penelitian itu mengkaji interaksi yang bersifat konflik antara manusia dan monyet ekor panjang di dua desa wilayah Kalimantan Barat. Gangguan oleh monyet ekor panjang paling sering terjadi pada sore hari, khususnya antara pukul 14.00 hingga 18.00 WIB. Waktu ini merupakan periode aktif bagi monyet untuk mencari makan dan menjelajah. Mereka datang secara berkelompok, dengan jumlah yang bervariasi.

Perilaku monyet di sekitar pemukiman juga beragam, tapi cenderung memantik keresahan. Mereka sering terlihat bertengger di pohon dekat rumah (60%), di pagar (15%), dan di atap rumah (25%). Gangguan lebih serius juga terjadi, di mana 15 persen responden melaporkan monyet memasuki area dapur atau halaman belakang rumah, dan 40 persen menyatakan monyet pernah mencuri makanan dan buah-buahan.

Header Indpeth Monyet Ekor Panjang

Header Indpeth Monyet Ekor Panjang. tirto.id/Ecun

Dihubungi Tirto, Selasa (7/10/2025), Kurator Museum Zoologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati di Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Ganjar Cahyadi memandang habitat yang menyempit dan terganggu diduga menjadi penyebab kuat kawanan monyet liar mendatangi permukiman. Kondisi itu berimplikasi pada ketersediaan makanan, shelter, dan perubahan perilaku monyet di tempat alaminya.

Terkhusus kejadian teranyar di Tangsel, Ganjar menilai lokasi invasi monyet liar itu berada di dekat Sungai Cisadane yang mana kawasan riparian atau dekat air memang jadi preferensi monyet ekor panjang untuk beraktivitas. Ia menduga riparian Cisadane juga menjadi habitat monyet-monyet ini sejak dulu, namun perubahan habitat imbas pembangunan pemukiman dan peruntukkan lain aktivitas manusia membuat mereka terpinggirkan.

“Jadi mungkin bukan mereka yang masuk permukiman, tapi kita yang masuk permukiman mereka,” ujar Ganjar kepada wartawan Tirto.

Menurutnya, sebab monyet juga makhluk hidup yang memiliki insting untuk mencari tempat tinggal dan makanan, otomatis mereka bereaksi terhadap perubahan di lingkungan tempat tinggal atau habitat asli mereka. Bisa karena shelternya hilang, sumber makanan berkurang, atau gangguan lain yang perlu dipastikan dengan penelitian di lapangan.

Ganjar menilai, apabila tidak terjadi pengertian, edukasi, serta tindakan pencegahan konflik dari fenomena invasi monyet liar ini, tentu ada efek samping bagi warga maupun monyet itu sendiri. Namun, kata dia, biasanya monyet sebagai ‘tuan rumah’ yang akan kalah.

Karenanya, kata dia, manusia punya akal dan pikiran untuk menentukan tindakan sehingga semestinya mampu melahirkan solusi tanpa saling menyakiti. Utamanya, perlu ada edukasi bagi warga terkait biologi dan distribusi alami monyet liar yang mencakup perilaku, habitat, ekologi, reproduksi, dan sebaran geografis.

Sehingga diharapkan timbul pemahaman mengapa fenomena invasi monyet liar bisa terjadi. Edukasi perlu diikuti larangan untuk berburu, eksploitasi, memberi makan, serta memelihara monyet dan hewan liar lainnya. Pasalnya, interaksi yang tidak terkontrol ini justru berbahaya bagi manusia sendiri karena berpotensi menimbulkan penyakit bertipe zoonosis.

“Institusi terkait yang relevan sudah punya standar untuk pencegahan konflik dengan satwa liar, misal BKSDA dan Pemadam Kebakaran. Sehingga bekerja sama dengan pihak tersebut dapat meredam konflik dan harapannya manusia dan monyet tersebut bisa aman dan hidup berdampingan,” ujar Ganjar.

Pegiat konservasi satwa sekaligus juru kampanye The Wildlife Whisperer of Sumatra, Arisa Mukharliza, menilai fenomena invasi monyet liar disebabkan penyusutan habitat alami dan perubahan bentang alam. Kawasan yang dulunya berupa hutan atau lahan hijau kini sudah beralih fungsi menjadi perumahan, jalan raya, hingga wilayah komersial. Ketika ruang hidup dan sumber makanan di alam berkurang, monyet ini terpaksa menjelajah ke area manusia untuk bertahan hidup.

HABITAT MONYET EKOR PANJANG

Sejumlah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) menunggu makanan dari pengguna jalan di Jalan lintas Pantai Barat Selatan Aceh di Gunung Gurute, Aceh Jaya, Aceh, Rabu (26/10). Beberapa tahun terakhir habitat monyet ekor panjang semakin berkurang akibat penebangan hutan dan pembukaan lahan baru. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww/16.

Selain itu, perilaku manusia seperti meninggalkan sampah terbuka dan memberi makan satwa liar tanpa disadari bisa memperkuat ketergantungan monyet liar terhadap manusia. Arisa menilai, monyet belajar bahwa di wilayah manusia makanan mudah didapat, seperti buah di pekarangan rumah hingga sisa makanan di tempat sampah.

“Perubahan iklim dan musim ekstrem juga berperan. Saat musim kering panjang atau sumber pakan alami menipis, satwa akan mencari tempat baru yang lebih stabil secara pangan dan air dan lingkungan manusia menjadi pilihan paling dekat,” tutur Arisa kepada wartawan Tirto, Selasa (7/10/2025).

Di beberapa daerah, kata Arisa, bahkan monyet-monyet liar kini memahami pola aktivitas manusia. Tahu kapan warga keluar rumah, tahu di mana tempat sampah diletakkan, bahkan tahu bagaimana membuka kemasan makanan instan.

Perilaku Ini menunjukkan proses urbanisasi satwa liar, dimana kawanan monyet ini belajar memanfaatkan ekosistem buatan manusia untuk bertahan hidup. Maka, fenomena ini bukan sekadar reaksi satwa liar yang musiman, tetapi cermin perubahan perilaku yang menandai pergeseran ekologis akibat tekanan manusia terhadap habitat alami.

Padahal, konflik manusia dan satwa liar membawa risiko kedua pihak. Bagi warga, ancaman keselamatan dan kesehatan, seperti gigitan, cakaran, hingga penularan penyakit zoonosis bisa terjadi. Secara sosial, juga muncul rasa takut hingga stres, terutama pada anak-anak.

Juga terjadi kerugian ekonomi seperti kerusakan atap rumah, kabel listrik, hingga tanaman. Namun, bagi satwa seperti monyet ekor panjang, konsekuensinya juga tidak kalah serius.

“Mereka menjadi tergantung pada manusia, kehilangan kemampuan mencari pakan alami, dan lebih rentan terhadap bahaya dari pengusiran, tabrakan, hingga cedera akibat instalasi listrik. Struktur sosial kelompok juga bisa terganggu, memicu agresi antarmonyet, bahkan menurunkan keberlangsungan populasi,” terang Arisa.

Pemerintah perlu melakukan pemetaan populasi monyet-monyet liar serta habitat mereka. Maka perlu ada pemeliharaan kawasan hijau dan vegetasi pakan di sekitar hutan dan taman kota. Selain itu, Arisa mendorong pembentukan tim respons cepat konflik satwa liar untuk menangani laporan warga.

“Sementara masyarakat dapat berperan melalui langkah kecil tapi penting, menjaga kebersihan lingkungan, menutup tempat sampah rapat-rapat. Tidak memberi makan monyet meskipun dengan niat baik,” ujar Arisa.

Sementara itu, Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof Jatna Supriatna, menyatakan monyet ekor panjang lebih mudah beradaptasi dibanding jenis primata lainnya, khususnya dibanding primata pemakan daun, buah ataupun serangga. Pasalnya, monyet ekor panjang pemakan segala atau omnivora, sehingga bisa memakan berbagai jenis pakan.

Hal itu menjadi sebab monyet ekor panjang kerasan beraktivitas di tengah permukiman milik warga.

“Karena ada pakanan di sekitar manusia, jadi lebih suka di perkotaan dan pemukiman. Ini bisa membuat berubah cepat pola pakannya dan perilakunya,” kata Jatna kepada wartawan Tirto, Selasa (7/10).

Dampak panjangnya, kawanan monyet ini menjadi terbiasa atau terhabituasi sehingga bagi monyet muda akan lebih sulit mencari makan di habitat aslinya. Bahkan, populasi monyet ini bisa melonjak tajam jika terus-menerus beraktivitas di tengah aktivitas manusia.

“Langkah yang harus ditempuh adalah direlokasi monyet ke hutan yang masih bagus serta melarang manusia beri pakan dan jangan jadi tontonan masyarakat,” ujar Jatna.

Baca juga artikel terkait MONYET atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - News Plus
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Rina Nurjanah