Industri Bioskop usai Pandemi Bangkit, CGV: Kami Terus Inovasi

Reporter: Yemima Lintang, tirto.id - 17 Nov 2022 14:30 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Head of Marketing and Sales CJ CGV, Diana Abbas, menilai kondisi perusahaan bioskop di Indonesia mulai menggeliat usai pandemi COVID-19.
tirto.id - Pepatah “roda terus berputar” berlaku untuk segala aspek kehidupan. Tak terkecuali industri perfilman yang sempat mati suri akibat pandemi Covid-19.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat selama pandemi dua tahun lalu memang memukul industri kreatif tersebut. Produksi film tertunda, penayangan film pun bernasib sama akibat kebijakan pengurangan jam tayang hingga penutupan sementara bioskop.

Usai pandemi COVID-19 agak mereda dan PPKM dilonggarkan, bioskop dibuka kembali dan sejumlah film dirilis. Antusiasme masyarakat untuk kembali menonton bioskop mulai meningkat dan menjadi pemicu perputaran roda industri ini lebih cepat.


Menariknya, yang diserbu oleh mayoritas penonton adalah film lokal. Menurut filmindonesia.or.id, sejumlah judul ini menarik perhatian para penikmat film: “KKN Desa Penari”, 9.233.847 penonton; “Pengabdi Setan 2: Communion”, 6.390.970 penonton; “Miracle in Cell No.7”, 5.851.595 penonton; dan “Ngeri-ngeri Sedap”, 2.886.121 penonton.

Maka tak berlebihan bila 2022 dikatakan sebagai tahun kebangkitan industri film Tanah Air pasca pandemi COVID-19.

Head of Marketing and Sales CJ CGV, Diana Abbas, menilai kondisi perusahaan bioskop di Indonesia mulai menggeliat usai pandemi COVID-19 yang sempat "mati suri".

“Pandemi membuat seluruh point of view business strategic kami juga bermanuver. Kami yang sudah terlalu nyaman dengan, anggaplah, kesuksesan di masa lalu inginnya di tahun berikutnya copy paste kesuksesan sebelumnya, eh ternyata strategi yang sudah dibangun di akhir 2019 buyar semua," ujar Diana kepada Tirto, 21 Oktober lalu.

“Namun, kami jadi terinspirasi untuk selalu inovatif dan kreatif, dan ternyata banyak banget ruang yang sebelumnya tertutup jadi terbuka di tahun ini. Karena kondisi pandemi, namanya orang kepepet tuh ada saja, yang dulunya mungkin berkompetisi, yang dulunya enggak bisa duduk bareng, yang enggak bisa satu meja, tiba-tiba di dalam satu grup WhatsApp ada banyak sekali cinema player. Tidak pernah terjadi sebelumnya," jelasnya.

Keadaan berangsur pulih, tetapi tak lantas membuat lengah apalagi pandemi belum benar-benar berakhir. Belajar dari masa lalu, CGV bahkan menyiapkan strategi apabila larangan menonton diaktifkan kembali.

“Kebetulan CGV sangat agresif untuk mengembangkan bisnis F&B, kami tidak mau main di film saja. Terbukti, kami banyak sekali melahirkan F&B unit di lokasi-lokasi kami. Itu semua masih bisa kami jadikan sumber income di saat pandemi, memanfaatkan online delivery. Kami menggaet partner terkait penjualan online, merchandising juga masih bisa kami eksplorasi, event channel-channel digital kami,” terang Diana.


Namun, menurutnya, semua strategi itu tak akan berjalan maksimal tanpa adanya kerja sama dengan pemerintah. Ia berharap pemerintah juga membuka ruang untuk mendukung bisnis di kondisi yang sulit.

“Kami maunya bareng-bareng, enggak ingin sendirian. Kami juga mau bareng-bareng retail lain. Kalaupun kejadian seperti pandemi, backbone dari industri perekonomian di Indonesia ini sudah kuat, karena masing-masing industri sudah tidak individualis," ujarnya.

Rumah bagi Festival


Kesuksesan bisnis entertainment ini tentu tak lepas dari peran karya-karya menarik yang bergantian menghias layar lebar.

“Film lokal, Asia, blockbuster, semua percaya diri sekali untuk suplai film-nya kembali ke bioskop, menjadikan bioskop sebagai window pertama untuk menyampaikan karya mereka. Film yang tertunda penayangannya di waktu pandemi juga sudah dijadwalkan tayang dan ada pula yang sudah tayang,” kata Diana.

“Jadi, di 2023 sepertinya kita akan start fresh dengan banyak karya baru dan kita ready untuk memfasilitasi masyarakat di bidang film, culture, dan juga event.”

Komitmen CGV memfasilitasi masyarakat di bidang film sampai event dibuktikan dengan memberi ruang bagi komunitas kesenian, termasuk film-film karya sutradara yang belum punya nama atau berbeda dengan pasar film komersial.

“CGV percaya kalau semua karya itu punya penikmatnya masing-masing, jadi punya hak yang sama untuk bertemu dengan penontonnya,” jelas Diana lagi.

Lewat ruang yang disediakan, CGV berharap akan muncul sineas-sineas baru yang nantinya termotivasi untuk bisa membuat karya yang positif dan lebih besar lagi.

Market share penonton film Indonesia jauh mengungguli jumlah penonton film Barat (61 berbanding dengan 39 persen). Namun, jumlah penonton film-film Asia—misal Jepang, Korea—dan beberapa konten alternatif (seperti konser), juga mengalami kenaikan di CGV.

Salah satu program tahunan yang mendapat dukungan penuh dari CGV dan sudah memiliki peminatnya sendiri adalah Japanese Film Festival (JFF). Festival ini diinisiasi oleh The Japan Foundation dalam rangka memperkenalkan budaya Jepang kepada khalayak internasional lewat film-film berkualitas.

Setelah dua tahun digelar secara daring, JFF kembali ke layar bioskop di tiga kota—Jakarta, Makassar, dan Bandung—mulai November sampai dengan Desember 2022. Total, terdapat 14 judul film dengan beragam genre yang ditampilkan, mulai dari drama, komedi, misteri, romansa, klasik, dokumenter, hingga animasi.

“Kami bangga bisa diajak berkontribusi di event semacam ini. Mungkin orang sudah aware bahwa CGV adalah home of festival. Dalam bulan ini saja kami enggak berhenti hosting festival."


Baca juga artikel terkait INDUSTRI FILM atau tulisan menarik lainnya Yemima Lintang
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Yemima Lintang
Penulis: Yemima Lintang
Editor: Maya Saputri

DarkLight