tirto.id - Indai tengah diguncang skandal nilai ujian pada sekolah menengah. Para siswa marah dan menyalahkan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi atas inkompetensi lembaga pendidikan. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Sebelumnya, para siswa sekolah menengah di India dilaporkan tengah marah dengan pemerintah mereka. Seturut Al Jazeera, kemarahan ini telah meluas secara nasional dan pangkal masalahnya berkisar dari cara Kementerian Pendidikan India menyelenggarakan ujian nasional tingkat akhir.
Ujian akhir bagi siswa sekolah menengah India baru saja selesai pada 10 April lalu dan hasil penilaiannya telah keluar pada 13 Mei. Namun, hasil ujian itu dipertanyakan dengan skeptis dan sistem yang digunakan telah dikritik karena tidak bisa diandalkan.
Pasca-keluarnya nilai ujian, banyak kasus kesalahan sistem penilaian terungkap di internet. Hal ini memicu dugaan kesalahan sistematis pada proses penilaian ujian dan telah memengaruhi hasil akhir para siswa.
Nandini Singh, salah satu siswa sekolah menengah yang marah, mengatakan kepada wartawan bahwa ia merasa dibohongi oleh sistem penilaian ujian. Menurutnya, hasil ujian akhir yang ia dapatkan lebih rendah dari yang seharusnya ia dapat.
Hal itu membuat Singh tak lagi percaya pada hasil ujian. Ia marah dengan pemerintah karena nilai ujian akhir penting untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan pada akhirnya penting untuk karier yang mereka coba bangun.
“Mereka adalah pembohong,” katanya. “Sekelompok orang korup yang mengambil nyawa kami, menyandera masa depan kami.”
Duduk Perkara Skandal Nilai Ujian di India
Duduk perkara dari skandal nilai ujian di India ini adalah sistem baru yang digunakan Dewan Pusat Pendidikan Menengah India (CBSE). Sistem ini diduga telah dibangun dengan buru-buru dan menghasilkan kesalahan yang sistematis ketika diterapkan.
Sistem ini menurut CBSE disebut sebagai On-Screen Marking (OSM), yakni sistem yang memungkinkan lembar jawab siswa dikoreksi secara digital. Meskipun metode ini sudah lama berkembang di dunia, namun CBSE baru menerapkan OSM pada ujian tahun ini.
Melalui mekanisme OSM, lembar jawab siswa akan dipindai jadi gambar digital dan kemudian diunggah ke sistem terintegrasi. Penilai kemudian akan mengevaluasi lembar jawab itu secara elektronik berdasarkan hasil pindaian.
CBSE menyebut metode ini memperkecil kesalahan manusia dan meningkatkan ketelitian ketika mengoreksi jawaban siswa. Sistem tersebut lalu digunakan untuk mengevaluasi hasil ujian 1,7 juta siswa di India.
Akan tetapi, belakangan sistem ini dikritik secara luas karena diduga memiliki banyak cacat prosedur dan masalah teknis. Hasil pindaian rupanya banyak yang kabur, lalu server yang digunakan juga kerap bermasalah.
Masalah-masalah itu terungkap dari banyaknya keluhan siswa yang mirip seputar sistem penilaian ujian. Banyak dari mereka mengungkapkan pengalaman seputar ujian di internet dan rupanya hal itu banyak dirasakan siswa lainnya.
Salah satu yang paling banyak diamini para siswa adalah pengalaman Vedant Srivastava. Srivastava adalah salah satu peserta ujian.
Sekali waktu ia meminta CBSE untuk meninjau hasil pemindaian lembar jawabnya. Ketika diizinkan dan lembar jawab yang sudah didigitalisasi ditampilkan, sistem menampilkan lembar jawab yang bukan miliknya.
Srivastava lalu membagikan pengalaman itu dalam cuitan di X, lengkap dengan bukti-bukti lain seperti tulisan tangan pada lembar jawab yang tak sesuai dengan miliknya.
"Saya belajar selama setahun penuh. Saya mengorbankan tidur, ketenangan pikiran, jalan-jalan, segalanya demi ujian ini. Dan sekarang saya bahkan tidak tahu apakah makalah Fisika SAYA yang sebenarnya sudah diperiksa," tulisnya dalam postingan tersebut, yang di-unggah ulang lebih dari 13.000 kali.
Pengalaman Srivastava itu dialami pula banyak siswa lain. Banyak dari mereka mengaku mengalami hal serupa. Pun, pada akhirnya CBSE mengakui kesalahan tersebut dan menyebut akan memperbarui hasilnya lewat evaluasi manual.
Tak hanya itu, para siswa juga jadi skeptis dengan tingkat keamanan sistem baru ini. Hal ini terjadi setelah remaja bernama Nisarga Adhikary membagikan pengalamannya di internet. Adhikary mengklaim bisa meretas sistem sehingga bisa log-in sebagai korektor dan menyunting penilaian.
Ketidakpercayaan siswa pada CBSE makin menguat usai sistem tersebut diduga diterapkan lewat prosedur yang buru-buru dan tampak dipaksakan.
Ketika memutuskan untuk menggunakan sistem OSM, CBSE sebelumnya membuat penawaran ke perusahaan swasta untuk menerapkan sistem tersebut. Dua kali CBSE melakukan penawaran, tak ada perusahaan yang tertarik jadi mitra.
Pada Agustus 2025 lalu, ketika ujian tinggal enam bulan lagi, CBSE mengurangi persyaratan teknis pada tawarannya, dan kemudian memutuskan kerja sama dengan perusahaan Coempt Edu Teck yang berbasis di Hyderabad di India selatan. Kerja sama ini tampak wahar, namun terdapat pengurangan persyaratan teknis yang dihilangkan/dikurangi termasuk pada tingkat kualitas gambar dan denda jika terjadi kesalahan.
Selain itu, keandalan Coempt Edu Teck juga dipertanyakan. Perusahaan ini sebelumnya terlibat dalam kontroversi ketika 20 siswa di wilayah Telangana melakukan bunuh diri pada April 2019 usai dinyatakan gagal dalam ujian. Coempt Edu Teck terlibat dalam proses penilaian ujian di Telangana itu.
Kemarahan juga dilaporkan kian tersurut setelah pembawa acara televisi pada stasiun milik pemerintah dianggap memperkeruh suasana dengan menyebut siswa yang tidak terima dengan hasil ujian sebagai “orang Pakistan”.
Kemarahan para siswa kini juga mengerucut pada tuntutan agar Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mundur. Pemerintahan Narendra Modi juga kini jadi sasaran kemarahan atas dugaan inkompetensi dalam menangani polemik ini.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































