Menuju konten utama
Pemilu Serentak 2024

Ikhtiar Partai Kecil Lolos Lubang Jarum Ambang Batas Parlemen

Sejumlah parpol menyiapkan strategi agar menjadi yang terbaik atau setidaknya lolos ambang batas parlemen 4 persen di Pemilu 2024.

Ikhtiar Partai Kecil Lolos Lubang Jarum Ambang Batas Parlemen
Ilustrasi Partai Politik Peserta Pemilu. tirto.id/Ecun

tirto.id - Partai politik peserta pemilu serentak 2024 terus memanaskan mesin mereka agar memperoleh suara maksimal pada 14 Februari mendatang. Sejumlah strategi pun mereka lakukan untuk menjadi yang terbaik atau setidaknya lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen.

Jika menilik data hasil survei elektabilitas parpol yang dirilis sejumlah lembaga, maka partai peserta Pemilu 2024, setidaknya dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok. Pertama, partai papan atas. Kategori ini sudah dipastikan lolos ambang batas parlemen serta berpotensi menjadi pemenang pemilu, seperti PDIP, Partai Gerindra, dan Golkar.

Kedua adalah partai semenjana. Parpol dalam kategori ini adalah mereka yang selalu lolos ambang batas parlemen, tapi suaranya tidak terlalu dominan. Sejumlah parpol yang dapat dikategorikan dalam kelompok ini, antara lain: PKB, PKS, Demokrat, dan Nasdem. Sementara PAN dan PPP dalam banyak survei justru terancam tidak lolos ambang batas parlemen 4 persen.

Kategori ketiga adalah parpol guram. Kelompok ini terdiri dari partai baru serta partai lama yang sudah ikut pemilu, tapi tidak lolos syarat ambang batas parlemen. Berdasarkan data KPU RI, ada lima partai, yaitu: Perindo, PSI, Hanura, PBB, Garuda, Partai Buruh, Gelora, PKN, dan Partai Ummat.

Berdasarkan data survei yang dirilis Centre for Strategic and International Studies (CSIS) misalnya, elektabilitas PDIP masih tertinggi, yaitu 16,4 persen. Lalu, Gerindra dengan angka 14,6 persen, Golkar (11,9 persen), PKS (11,8 persen), PKB (9,2 persen), Nasdem (6,4 persen), PAN (5,2 persen), Demokrat (4,8 persen), dan PPP (3,5 persen).

Sedangkan parpol non-parlemen tertinggi adalah Perindo dengan perolehan suara sebesar 1,5 persen. Kemudian disusul PSI dengan angka 1,3 persen, Hanura (0,5 persen), Gelora (0,4 persen), PBB (0,2 persen) dan PKN, Garuda serta Ummat masing-masing 0,1 persen.

Survei CSIS ini dilakukan pada 13-18 Desember 2023 dengan jumlah sampel 1.300 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Margin of error lebih kurang 2,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Bila menilik data di atas, maka parpol parlemen yang berpotensi terpental hanya PPP. Akan tetapi, jika merujuk hasil survei lembaga lain, seperti LSI Denny JA, maka PAN juga terancam terlempar dari parlemen.

Dalam survei LSI Denny JA yang dilakukan periode 20 November-3 Desember 2023 dengan melibatkan 1.200 responden ini, elektabilitas PAN hanya 3,3 persen. Sementara itu, PPP tercatat 2,9 persen, PSI 1,5 persen, serta Partai Perindo 1 persen.

Namun, kabar baik bagi PAN datang dari hasil survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia. PAN memperoleh angka elektabilitas 4,5 persen, sedangkan PPP (2,8 persen), PSI (2,4 persen), dan Perindo (1,7 persen).

Bagaimana Strategi Parpol agar Lolos Ambang Batas Parlemen?

Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ahmad Baidowi, tidak terlalu risau dengan hasil survei yang menempatkan partai ka’bah itu di bawah syarat ambang batas parlemen. Sebab, kata pria yang akrab disapa Awiek itu, sejumlah lembaga survei sejak dulu selalu bilang PPP tidak lolos parlementary threshold. Nyatanya, kata dia, PPP selalu lolos ke parlemen.

“Kenapa? PPP di KPU terdaftar sebagai peserta pemilu, bukan peserta survei,” kata Awiek kepada reporter Tirto, Jumat (29/12/2023).

Awiek juga menyoroti pengambilan sampel lembaga survei. Kemudian, undecieded voter survei masih tinggi dan margin of eror rata-rata di atas 2 persen. Artinya, kata Awiek, bila hari ini PPP hanya 3,4 persen, tetapi dengan margin of eror di atas 2 persen, maka bisa naik ke lima koma sekian persen. Bisa pula turun ke nol koma persen.

“[Tetapi] tidak mungkin PPP turun ke nol koma,” kata Awiek menegaskan.

Sebagai contoh, Awiek menyinggung hasil survei PPP menjelang Pemilu 2019. Saat itu, PPP dipotret oleh lembaga survei hanya 2,4 persen. Angka itu juga dipengaruhi oleh Muhammad Romahurmuziy yang saat itu menjabat ketua umum PPP terseret kasus korupsi.

Akan tetapi, kata Awiek, perolehan suara sah nasional PPP pada Pemilu 2019 masih di atas syarat ambang batas parlemen, meski finis di posisi paling buncit. Saat itu, PPP meraup suara 6.323.147 atau 4,52 persen.

Namun demikian, kata dia, PPP optimistis akan mendulang suara lebih besar pada Pemilu 2024. Sebab, kata Awiek, menjelang pemilu serentak kali ini tidak ada badai yang menghujam PPP seperti yang terjadi pada Pemilu 2019.

“Pemilu 2019 ada peristiwa besar, sehingga membuat persepsi turun menjadi 2,4 persen. Hari ini 2,8 persen [survei Indikator Politik Indonesia] karena tidak ada peristiwa politik yang merugikan PPP. Maka kami optimistis [perolehan suara] kami lebih dari 2019,” tutur Awiek.

Awiek menambahkan, berdasarkan demografi, pemilih PPP itu mayoritas berusia 30 sampai 50 tahun. Artinya, pemilih tradisional PPP masih kuat. Kendati demikian, PPP juga berusaha meyakinkan pemilih muda berusia di bawah 25 tahun.

“Kami memaksimalkan pemilih tradisional yang tahu PPP. Termasuk yang baru segmentik terhadap orang muda pro PPP,” kata Awiek.

Awiek mengklaim, basis pemilih PPP adalah kelompok petani, nelayan, dan pedagang. PPP akan mengadvokasi kepentingan mereka. Apalagi, kata dia, keluhan masyarakat saat ini seputar harga bahan pokok mahal. Atas dasar itu, PPP mengusung tagline “mewujudkan harga murah, kerja mudah, dan hidup berkah” dalam setiap agenda kampanye.

Berbeda dengan PAN. Parpol berlambang matahari ini akan meminta seluruh caleg turun langsung ke masyarakat sebagai upaya untuk mendulang suara, kata Sekjen DPP PAN, Eddy Soeparno.

Ia sebut, masyarakat masih ingin melihat kehadiran caleg itu di tengah mereka. Tidak hanya sekadar tim saja, alat peraganya saja, tetapi caleg secara fisik hadir di tengah masyarakat.

“Masyarakat itu perlu melihat calegnya, perlu interaksi dengan calegnya supaya terbentuk emosional antara dia dengan calegnya," kata Eddy kepada reporter Tirto, Jumat (29/12/2023).

Di sisi lain, PAN juga memperkuat para caleg di media sosial. PAN menyasar anak muda melalui media sosial, apalagi Pemilu 2024 didominasi pemilih dari generasi Z dan milenial.

“Pemilu 2024 pemilih muda dan pemula itu relatif besar sekali, sehingga kami harus menyesuaikan juga tata cara mereka untuk berkomunikasi, salah satunya melalui sosial media,” kata Eddy.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Partai Perindo, Ahmad Rofiq, mengatakan belakangan hasil survei sering kali tidak sama hasilnya. Ia mengaku Perindo menggunakan nilai terendah agar menjadi motivasi dalam berjuang menuju ke Senayan. Hal ini dimaksudkan agar lebih menguatkan diri di setiap langkah pemenangan.

Rofiq menyebut, struktur dan kader partai bahu-membahu dalam setiap penggalangan pemenangan. “Setiap kegiatan harus dijadikan momentum untuk meyakinkan ke masyarakat terkait dengan visi misi dan program Perindo dengan kesejahteraan,” kata dia kepada Tirto.

Menurut Rofiq, berapapa hasil survei yang diperoleh Partai Perindo saat ini, tidak akan membuat parpol tersebut pesimistis. Rofiq optimistis partai besutan Hary Tanoesoedibjo ini akan lolos dari lubang jarum ambang batas parlemen sehingga berada di Senayan.

Sebaliknya, Ketua DPP PSI, Cheryl Tanzil, menjawab bagaimana strategi PSI mendulang suara pada Pemilu 2024. Salah satunya, Cheryl memamerkan prestasi PSI di jajaran DPRD yang tak tersangkut kasus korupsi. Karena itu, ia optimistis PSI tembus Senayan.

“Strategi kita blusukan, lebih masif sosialisasi partai dan program-programnya. Apalagi kami cukup punya prestasi di jajaran anggota DPRD PSI saat ini. Tidak ada satu pun yang korupsi,” tutur Cheryl.

Mengapa PAN dan PPP Kerap di Posisi Buncit?

Analis politik, Usep S Akhyar, menilai dari sisi tren, PPP mengalami penurunan suara sejak Pemilu 2019. Hal ini, kata dia, karena PPP mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019. Padahal, basis pemilih PPP lebih cenderung ke Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kala itu.

“Kita tahu 2019 itu, PPP itu mendukung Jokowi. Sementara para pemilihnya lebih memilih Prabowo,” kata Usep saat dihubungi Tirto, Jumat (29/12/2023).

Peneliti senior di Populi Center itu mengatakan, split ticket PPP itu berujung pada penurunan suara di sejumlah daerah, seperti Banten yang notabene mendukung Prabowo. Alhasil, PPP banyak kehilangan kursi.

“Ini kemudian di beberapa wilayah menyebabkan menjadi menurun. Di Banten saya kira, karena yang menang di Banten Pak Prabowo dibanding Jokowi,” ucap Usep.

Pada Pemilu 2024 ini, pilihan politik elite PPP dan basis massa tidak sinkron. Secara resmi, PPP mendukung capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Namun, basis massanya –setidaknya berdasarkan hasil survie-- lebih banyak yang condong ke Prabowo-Gibran maupun Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

Sementara PAN, kata Usep, karena terlalu banyak mencalonkan artis. Padahal, basis dari partai yang dinakhodai Zulkifli Hasan alias Zulhas ini berbasis Muhammadiyah. Pada Pemilu 2019, perolehan suara sah nasional mencapai 9.572.623 (6,84 persen) dengan 44 kursi di parlemen. Namun, partai ini terancam terdepak dari Senayan pada Pemilu 2024.

“Itu juga saya kira menjadi faktor yang menjadi perhatian di PAN. PAN mungkin membikin strategi untuk menjaring anak muda, tetapi itu kan ternyata saya melihat tidak terlalu efektif," kata Usep.

Usep mengatakan, karakter anak muda Muhammadiyah cenderung lebih menyukai intelektualitas dibandingkan gimik semata. Hal itu dinilai tak disadari Zulhas sebagai ketum. Usep mengatakan, masyarakat intelektual Muhammadiyah tidak melihat artis sebagai kelompok yang punya idealisme dalam politik.

Di sisi lain, Usep menilai, pada Pemilu 2024 ini, PAN telah tepat mendukung Prabowo-Gibran. Hal ini, kata dia, berpotensi membuat PAN akan tetap lolos ke parlemen meski harus berhadapan dengan Partai Ummat yang didirikan Amien Rais.

Namun, Eddy Soeparno menepis anggapan Usep yang menyebut kader PAN hanya berlatar belakang artis. Eddy mengatakan kader mereka dari berbagai macam kalangan, mulai dari artis hingga akademisi.

“Selain punya caleg artis, kami juga punya caleg eks atlet, kita juga punya caleg eks akademisi, eks caleg pengusaha, caleg eks profesional. Jadi, berbagai latar belakang caleg-caleg kita. Jadi, tidak melulu artis,” kata Eddy.

Eddy menyebut jika melihat rasio, caleg dari kalangan artis ataupun eks atlet masih relatif kecil. PAN mendaftarkan 580 calon anggota legislatif DPR RI pada Pemilu 2024.

Selain itu, kata dia, para kader diberikan pendidikan politik dan pemahaman masalah politik, mulai dari tata cara politik secara baik, etika, peraturan KPU. Termasuk cara bersosialisasi politik di masyarakat dengan baik.

PSI Dapat Efek Ekor Jas, Perindo Ditopang Mesin Politik Kuat

Sementara itu, Usep memandang, Perindo memiliki mesin partai yang kuat saat ini. Mereka memiliki sejumlah kader yang bisa meraup suara cukup signifikan pada pemilu kali ini. Pada Pemilu 2019, perolehan suara Perindo tercatat 2,07 persen dan diprediksi lolos ke Senayan pada Pemilu 2024.

Hal ini, kata Usep, tidak lepas dari bergabungnya sejumlah tokoh, seperti Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi yang merupakan seorang ulama dan Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode. Usep menilai, TGB akan mampu memberikan efek elektoral bagi Perindo.

Di sisi lain, kata Usep, Partai Perindo memiliki ratusan anggota DPRD di kabupaten/kota, meski tak ada kadernya yang duduk di DPR RI karena pada Pemilu 2019 tidak lolos syarat ambang batas parlemen 4 persen.

“Ini saya kira menjadi modal, kekuatan mesin partai ini juga cukup baik, apalagi ditopang seperti Tuan Guru Bajang di NTB. Saya kira kekuatan partai cukup kuat, lalu kemudian ditunjang oleh kelompok-kelompok DPRD di wilayah,” kata Usep.

Sedangkan PSI, kata Usep, diuntungkan oleh efek ekor jas Gibran Rakabuming Raka yang menjadi cawapres Prabowo Subianto. Sebab, kata dia, Kaesang Pangarep sebagai ketua umum PSI adalah putra bungsu Presiden Jokowi yang juga berada di barisan Gibran. Ditambah lagi dengan relawan Jokowi yang diarahkan untuk memenangkan PSI.

Karena itu, Usep melihat PSI bakal tembus parlemen meski hasil survei masih di bawah 4 persen. “Kalau misalnya bisa mengkapitalisasi kepuasan rakyat terhadap Pak Jokowi dan mengambil efek ekor jas dari Gibran, PSI punya potensi masuk di parlemen," tutur Usep.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Politik
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Abdul Aziz