tirto.id - Ketika hujan baru saja reda tak jarang udara yang timbul tidak dingin, melainkan terasa agak lembap bahkan panas, sehingga justru membuat tubuh gerah. Kenapa fenomena ini bisa terjadi?
Hujan merupakan bentuk presipitasi atau jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, akibat proses kondensasi uap air di awan. Umumnya hujan yang turun terasa dingin atau lebih sejuk jika dibandingkan suhu udara sebelum hujan.
Terdapat beberapa faktor yang membuat air hujan terasa dingin, karena tetesan di lapisan atmosfer bersuhu lebih rendah, juga penyerapan panas dari udara di sekitar awan yang memicu pendinginan.
Akan tetapi dalam beberapa kondisi selepas hujan reda, udara yang terasa justru cenderung tidak dingin melainkan panas, yang menimbulkan sensasi gerah di tubuh.
Meski tidak semua hujan menyebabkan udara terasa panas, faktanya fenomena tersebut bisa terjadi jika sejumlah faktor terpenuhi.
Efek Sauna, Penyebab Udara Terasa Panas Setelah Hujan
Udara terasa pengap dan gerah atau panas selepas turun hujan bisa dianalogikan seperti berada di ruangan sauna. Fenomena ini kemudian disebut sebagai efek sauna (sauna effect).
Efek sauna dapat dipicu karena tingginya tingkat kelembapan udara, akibat penguapan sisa air hujan secara cepat. Dikutip dari Healthpartners, kelembapan udara bisa meningkat ketika sinar matahari kembali menyorot dengan kuat selepas hujan, ditambah tanah masih menyimpan panas. Air hujan yang membasahi permukaan bakal langsung menguap kembali ke atmosfer dalam jumlah besar.
Proses ini mirip seperti kondensasi uap air di awan sebelum jatuh ke atmosfer. Proses penguapan air kembali ke atmosfer setelah hujan menyebabkan udara terasa panas, pengap, kemudian menimbulkan efek gerah.

Efek pengap dari proses tersebut disebabkan karena kelembapan udara yang meningkat akibat penguapan. Saat kondisi lembap, udara dipenuhi oleh hidrogen, nitrogen, serta oksigen, atau bisa dibilang menjadi lebih padat.
Ketika kelembapan udara tinggi, kondisi tersebut akan menyulitkan keringat di tubuh untuk menguap. Ketika proses penguapan keringat melambat, maka panas tubuh menjadi lebih sulit dilepaskan hingga menyebabkan kulit terasa lengket dan tubuh gerah.
Fenomena ini dikenal sebagai kombinasi indeks panas (heat index), yaitu saat tubuh sudah merasa gerah karena keringat yang lambat menguap, kemudian ditambah udara yang sudah menguap pada permukaan tanah setelah hujan.
Kelembapan Tinggi dan Sinar Matahari
Perubahan suhu selepas hujan yang terasa lebih panas bisa disebabkan pula oleh faktor cuaca. Biasanya fenomena tersebut terjadi ketika periode peralihan musim hujan menuju musim kemarau atau sebaliknya.
Melansir BMKG, suhu panas yang terjadi setelah hujan reda disebabkan oleh pemanasan permukaan, sebagai dampak mulai berkurangnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan. Di sisi lain pemanasan permukaan oleh matahari dan kelembapan masih relatif tinggi.
Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, juga menjabarkan bahwa secara meteorologis, suasana gerah yang tercipta setelah hujan reda disebabkan oleh suhu udara panas, disertai dengan kelembapan udara tinggi. Dengan kata lain semakin banyak uap air yang terkandung dalam udara, maka makin lembap udara.
Kondisi tersebut bisa terjadi jika setelah hujan, awan mendung cepat menghilang. Kemudian paparan sinar matahari bisa kembali menembus atmosfer tanpa penghalang, kemudian langsung menimpa permukaan bumi.
Ketika pancaran kuat sinar matahari sampai permukaan bumi, maka bakal langsung menguapkan bekas air hujan yang baru saja turun. Dengan demikian udara akan kembali jenuh dengan uap air (kelembapan tinggi).

Secara umum hujan dapat mendinginkan udara dan permukaan. Akan tetapi faktor cuaca, termasuk kondisi awan selepas hujan, intensitas matahari, serta kekuatan angin, tetap dapat memengaruhi kelembapan udara dan menimbulkan kesan gerah selepas hujan reda.
Ahli biometeorologi dari IPB menjelaskan bahwa selama puncak musim hujan, uap air dari samudra terdekat akan terbawa oleh angin. Dengan demikian kadar uap di udara terbilang tinggi ketika memasuki peralihan musim.
Terkait suhu panas selepas hujan terjadi karena hanya ada sedikit awan pada siang hari, sehingga membuat pancaran sinar matahari makin kuat. Dengan demikian kelembapan bisa meningkat drastis sehingga udara bakal terasa lebih gerah.
Meskipun sekilas tampak tidak umum, udara terasa gerah setelah hujan termasuk fenomena biasa yang kerap terjadi saat peralihan musim.
Kapan Rasa Gerah dan Udara Panas Perlu Diwaspadai?
Rasa gerah dan udara panas karena kelembapan udara tinggi atau imbas cuaca panas, tidak hanya mengganggu kennyamanan. Kondisi ini perlu diwaspadai jika turut menyebabkan sejumlah gejala, seperti: keringat berlebih, lemas, pusing, sakit kepala, mual, atau kram otot.
Bagi kelompok individu tertentu, terutama lansia dan anak-anak, efek gerah dan udara panas dapat menimbulkan efek yang jauh lebih signifikan.
Menurut laporan WHO, hal ini dapat memperburuk risiko kesehatan dari kondisi kesehatan tertentu, seperti kardiovaskular, mental, pernapasan, diabetes, serta kondisi ginjal akut karena paparan suhu ekstrem.
Gejala yang cukup sering terjadi akibat udara panas bisa memicu dehidrasi, kelelahan, hingga kondisi darurat heatstroke dengan suhu tubuh bisa mencapai 40 derajat celcius.

Udara panas juga dapat mengurangi produktivitas kerja serta meningkatkan risiko kecelakaan. Lebih parah lagi, gelombang panas bisa berkaitan dengan penurunan kualitas udara yang berbahaya bagi manusia.
Guna mengantisipasi berbagai efek negatif udara panas, salah satu upaya yang banyak dianjurkan adalah mengambil jeda untuk mencari tempat berteduh, mengatur ventilasi udara dengan baik atau menggunakan AC, bisa juga mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Beberapa tindakan seperti memberikan kompres dingin di area badan, juga dapat membantu menurunkan suhu tubuh.
Menjaga pasokan air dalam tubuh yakni 1 gelas per jam atau 2-3 liter per hari, dapat mencegah dehidrasi. Agar tubuh tetap terhidrasi, mengenakan pakaian dan seprai yang ringan juga bisa menjadi solusi.
Namun demikian jika dampak udara panas tetap tidak bisa diatasi oleh tubuh secara efektif, maka kondisi ini perlu segera mendapat penanganan medis. Penanganan medis sangat penting, terutama jika menunjukkan gejala heatstroke.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id






































