Menuju konten utama

Apakah Kehujanan Bisa Langsung Bikin Sakit? Ini Fakta Ilmiahnya

Saat musim hujan, imunitas tubuh jadi lebih rentan. Apakah benar air hujan bisa memicu penyakit? Cek fakta ilmiahnya.

Apakah Kehujanan Bisa Langsung Bikin Sakit? Ini Fakta Ilmiahnya
Pengendara sepeda motor menggunakan mantel saat hujan di kawasan Semanggi, Jakarta, Rabu (13/11/2019). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Musim hujan bisa menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sejumlah kalangan karena dianggap bisa langsung kena sakit ketika habis kehujanan. Padahal, air hujan yang turun langsung dari langit relatif sangat bersih.

Selama memasuki musim hujan, banyak para orang tua yang melarang anaknya bermain ketika hujan. Alasannya dikhawatirkan bisa langsung jatuh sakit, baik pusing kepala maupun terkena flu.

Sebagaimana dikutip Health, musim hujan cukup identik dengan penyakit. Virus flu dan pilek dimungkinkan dapat berkembang biak lebih cepat dalam kondisi dingin dan lembab, seperti musim hujan. Artinya, potensi terkena penyakit saat musim hujan bisa jadi lebih tinggi dibanding musim lain.

Ilustrasi Flu

Ilustrasi Flu. foto/Humas UGM/Ika Foto Freepik/rilis

Kondisi tersebut kemudian banyak dikaitkan dengan penyakit yang ditimbulkan ketika hujan turun. Tak ayal, seseorang yang terkena hujan dikira berpotensi dapat terjangkit penyakit tertentu. Di lain sisi, penyakit yang sering muncul selama musim hujan sendiri adalah pusing dan flu.

Akan tetapi, pandangan tersebut tidak bisa dibenarkan secara mutlak. Sifat air yang turun ketika hujan cenderung bersih atau tidak membawa patogen penyebab penyakit. Dengan kata lain, demi menguji kebenaran air hujan dapat menyebabkan sakit atau tidak, maka diperlukan pemahaman medis untuk mengupas fakta sebenarnya.

Fakta tentang Air Hujan

Air hujan merupakan presipitasi (curahan air) yang terbentuk dari kondensasi uap air di atmosfer. Kemudian jatuh ke permukaan bumi sebagai bagian dari siklus hidrologi. Mengutip H2O Global News, air yang turun memiliki tingkat keasaman (pH) yang cenderung sedikit asam, yakni sekitar 5,0 hingga 5,5.

HuaWang dan GuilinHan dalam "Chemical composition of rainwater and anthropogenic influences in Chengdu, Southwest China" menjelaskan, air hujan memiliki komposisi kimia yang cukup beragam. Secara umum, air hujan sebagian terdiri dari air bersih (H2O) dengan persentase sekitar 99,99%, Kalsium (Ca2+), Amonium (NH4+), Natrium (Na+), Magnesium (Mg2+), hingga Kalium (K-).

Selain itu, analisis lain diterangkan Nia Yuniarti Hasan, Driejana, dan Aminudin Sulaeman melalui jurnal berjudul "Composition of Ions and Trace Metals in Rainwater inBandung City, Indonesia". Air hujan mengandung anion utama mencakup Sulfat, Nitrat, serta Klorida. Sedangkan di wilayah perkotaan atau daerah industri, air bisa memuat logam berat seperti Timbal (Pb), Besi (Fe), Seng (Zn), hingga tembaga dalam jumlah jejak (trace elements).

ilustrasi hujan

ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Pada saat hujan, air yang telah melalui serangkaian proses alami atau hidrologi, tidak berbentuk tetesan air mata, melainkan berbentuk bulat pipih karena hambatan udara. Bahkan, bentuknya bisa cenderung bulat.

Ukuran tetesan air hujan dapat bervariasi bergantung faktor lain, seperti kelembaban, suhu, dan kecepatan aliran udara ke atas. Tetesan air rata-rata memiliki diameter 1 hingga 6 milimeter, atau paling besar mencapai 8 milimeter, dengan volume berkisar 0,05 mililiter.

Fakta lain tentang air hujan adalah memiliki aroma khas yang berasal dari berbagai sumber. Ketika hujan jatuh melalui atmosfer, maka akan menyerap bahan kimia dan gas di sepanjang jalan. Sehingga, kondisi tersebut memengaruhi aroma air hujan.

Aroma air hujan juga dapat berasal dari minyak alami tanaman dari tanah yang dilepaskan ke udara, kemudian menghasilkan aroma basah yang khas. Minyak biasanya mengandung senyawa organik (seperti geosmin). Aroma hujan bisa lebih beragam ketika bakteri tanah dan tumbuhan melepaskan gas berbau pada waktu yang bersamaan ketika hujan turun.

ilustrasi hujan

ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Di samping itu, air hujan juga dapat menjadi asam akibat polutan atmosfer seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Polutan kebanyakan dihasilkan dari sumber buatan manusia. Misalnya pembangkit listrik tenaga batu bara, kendaraan, hingga aktivitas industri.

Hujan juga bisa menjadi habitat kehidupan. Pada saat air hujan turun dengan membawa gas-gas atmosfer (oksigen, karbon dioksida, hingga nitrogen), senyawa tersebut sangat diperlukan untuk pertumbuhan alga, bakteri, atau mikroorganisme lainnya. Bahkan, curah hujan sekaligus dapat menjadi sumber air baik untuk persediaan manusia, sungai, danau, maupun lautan.

Alasan Kehujanan Bikin Tubuh Bisa Sakit

Air hujan yang turun langsung dari langit relatif bersih. Akan tetapi, air hujan juga dapat berpotensi menyebabkan penyakit andai selama proses turun bercampur kotoran atau patogen berbahaya yang membawa kuman, bakteri, atau virus.

Mengutip jurnal berjudul "Cold exposure impairs extracellular vesicle swarm–mediated nasal antiviral immunity" yang dirilis The Journal of Allergy and Clinical Immunology, paparan dingin diklaim dapat mengganggu hingga menurunkan imunitas antivirus pada hidung.

Kondisi iin memungkinkan tubuh jadi lebih rentan terkena infeksi virus pernapasan. Alhasil, hidung melemah saat imunitas. Akibat terkena air hujan yang dingin, virus dapat dengan mudah memasuki tubuh melalui pernapasan.

Dengan kata lain, ketika tubuh terkena air hujan dan kedinginan dalam waktu lama, kondisi tersebut bisa menurunkan suhu tubuh, hingga memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terkena virus penyakit.

Ilustrasi Pilek

Ilustrasi Pilek. FOTO/iStockphoto

Multidisciplinary Digital Publishing Institut pernah menerbitkan jurnal berjudul "A Decrease in Temperature and Humidity Precedes Human Rhinovirus Infections in a Cold Climate" (2016). Ketika suhu tubuh menurun, kondisi ini dapat jadi celah untuk virus Rhinovirus masuk ke dalam tubuh dengan mudah serta menyebabkan pilek.

Selain itu, melemahnya imunitas hidung juga akan memicu virus influenza masuk hingga menyebabkan flu. Virus-virus ini dapat menyebar melalui cairan tubuh atau udara yang terkontaminasi virus.

Seseorang yang memiliki imunitas tubuh melemah dapat terjangkit penyakit flu dan pilek dengan mudah ketika terdapat orang lain yang mengalami kondisi serupa di ruangan atau lokasi tertentu.

Kondisi kedinginan yang berangsur lama akibat terkena air hujan juga bisa saja memicu hipotermia. Penyakit ini biasanya dapat terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang dihasilkannya.

Ilustrasi hujan

Ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Tak hanya itu, musim hujan juga kerap menciptakan banyak genangan air baru. Ini yang jadi sarang favorit nyamuk penular sejumlah penyakit. Di antaranya seperti DBD, malaria, chikungunya, kaki gajah, maupun penyakit lain.

Minimnya sumber Vitamin D alami akibat kondisi langit yang kerap mendung saat musim hujan secara tidak langsung dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, hingga jadi lebih rentan terinfeksi bakteri dan virus penyakit.

Maka dari itu, air hujan pada dasarnya tidak langsung menimbulkan penyakit. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika imunitas melemah atau terganggu, yang membuat tubuh jadi rentan terinfeksi virus yang dapat berkembang pesat di cuaca lembab saat musim hujan.

Cara Mencegah Sakit Setelah Kehujanan

Beberapa langkah bisa diterapkan untuk mencegah sakit setelah kehujanan. Salah satunya adalah mengganti pakaian yang basah. Setelah kehujanan selama di perjalanan, langkah utama yang harus dilakukan adalah melepas dan mengganti pakaian basah. Hal ini bertujuan agar suhu tubuh tidak semakin drop dan sistem imun melemah karena suhu dingin yang dibawa oleh baju yang basah.

Mandi dan keramas dengan air hangat bisa menjadi opsi lain. Guna meningkatkan kembali suhu tubuh yang melemah akibat dingin, mandi dan keramas selama 10 hingga 15 menit dengan menggunakan air hangat. Langkah ini akan membantu membersihkan tubuh dari polutan atau bakteri yang menempel pada air hujan.

Ilustrasi Mandi

Ilustrasi Mandi. FOTO/iStockphoto

Kemudian konsumsi makanan dan minuman peningkat imun.Salah satu cara terbaik untuk memperkuat atau meningkatkan sistem kekebalan tubuh adalah mengonsumsi makanan yang seimbang seperti sup kaldu. Meminum air jahe, teh hangat, atau susu hangat juga dapat membantu melancarkan peredaran darah serta menghangatkan tubuh dari dalam.

Cara mencegah paling utama ialah pemantauan sistem imunitas tubuh. Istirahat yang cukup, olahraga teratur, serta asupan nutrisi yang seimbang dapat jadi salah satu pemicu meningkatnya kekebalan tubuh.

Ilustrasi Tubuh Sehat

Ilustrasi Tubuh Sehat. FOTO/Istockphoto

Baca juga artikel terkait MUSIM HUJAN atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Edusains
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo