tirto.id - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) meminta kepada pemerintah untuk segera melonggarkan atau membuka efisiensi anggaran. Sebab apabila efisiensi anggaran dibuka, maka dapat mendorong daya beli masyarakat di dalam negeri.
“Saya senang sekarang dagang di Indonesia dikasih stimulus, dikasih dana-dana untuk belanja dalam negeri. Efisiensi pemerintah mohon dibuka cepat-cepat supaya orang belanja, tapi di dalam negeri ya, belanja pemerintah dikeluarkan lagi,” kata Ketua Hippindo Budihardjo Iduansjah, ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Budihardjo mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab melemahnya sektor ritel yang terjadi belakangan ini. Salah satunya turunnya permintaan atau melemahnya daya beli masyarakat.
“Salah satunya daya beli, yang lainnya kemudahan berusaha, izin, biaya tinggi (impor) terus juga traffic yang kurang, persaingan dengan online yang kurang fair,” ujarnya.
Meski begitu, dia optimis sektor ritel dapat kembali menguat, mengingat Indonesia memiliki potensi penduduk yang sangat luas. Hal tersebut, katanya, menjadi perhatian bagi para investor. Di samping dia juga berharap agar regulasi dari pemerintah, khususnya outlet premium dapat dipermudah.
“Yang datang mau investasi bawa uang, bawa barang, bawa pabrik Itu banyak banget yang mau ke Indonesia. Jadi sebenarnya tinggal dipercepat itu semua. Membuka lapangan kerjaan kan itu sebenarnya, jadi masih optimis,” kata Budiharjo.
Pemerintah sebelumnya telah membuka anggaran yang dicadangkan atau blokir anggaran dari 99 kementerian/lembaga (K/L) senilai Rp86,6 triliun, seiring dengan selesainya pelaksanaan efisiensi anggaran sesuai Instruksi Presiden (Inpres) 1 Tahun 2025.
Menurut Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi April 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pelaksanaan Inpres telah diselesaikan. Laporan itu dilakukan pada 7 Maret 2025.
Selanjutnya, Menkeu meminta izin kepada Presiden untuk memfokuskan kembali, merelokasi, membuka blokir anggaran, dan berbagai langkah lainnya agar belanja K/L bisa lebih tajam sesuai dengan prioritas pemerintah.
“Kalau besarnya adalah Rp86,6 triliun sudah dilakukan buka blokir sehingga bisa belanja lagi,” ujar Suahasil dilansir Antara.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































