Hikayat Salman Al-Farisi dan Ibadah Secara Ekstrem

Oleh: Ahmad Khadafi - 11 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Seorang Majusi, seorang Nasrani, lalu menjadi muslim. Kisahnya menegur Abu Darda’ yang melakukan ibadah secara ekstrem banyak menjadi rujukan.
tirto.id - Ada banyak kisah mengenai orang-orang Majusi atau agama Zoroaster —para penyembah api— dalam sejarah Islam. Salah satu kisahnya adalah tentang Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Nama yang panjang dan gelar “Al-Isfahani” di belakang adalah laqob yang menjelaskan bahwa pria ini berasal dari daerah bernama Isfahan, wilayah Persia (tentang nama Laqob, baca: Abu Hurairah dan Laqob Santri).

Dari riwayat Abdullah bin Abbas, dikisahkan bahwa Mabah kecil merupakan penyembah api karena memang lahir dari keluarga Majusi. Ayahnya merupakan pemimpin di daerah tempatnya tinggal. Mabah adalah penganut kitab Zend Avesta yang taat. Bahkan ia mendapat jabatan mumpuni sebagai penjaga kuil di masa remajanya.

Merujuk narasi yang dikisahkan ulang oleh Hadji Agus Salim dalam makalah “Salman Al-Farisi dan Kesaksian Nabi Muhammad” (Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University, Bandung, 2011), tugas Mabah sebagai penjaga kuil tidak terlalu sulit. Ia hanya harus menjaga agar api di dalam kuil terus menyala. Namun, tugas ini juga membuatnya tidak bisa kemana-mana.

Suatu saat sang ayah meminta Mabah untuk membantunya di kebun. Dalam perjalanan menuju kebun Mabah melewati sebuah gereja, diam-diam Mabah mendengarkan doa-doa dalam gereja yang dilewati. Dari sana, Mabah merasakan ketertarikan yang kuat.

Begitu sampai rumah, Mabah menceritakan apa yang ia saksikan dalam perjalanan ke kebun. Mabah pun mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tertarik dengan agama tersebut. Mendengarnya tentu saja ayah Mabah marah luar biasa dan mengurungnya di rumah.

Pada waktu-waktu tertentu, penganut Nasrani di Isfahan punya ritual akan berangkat menuju ke Negeri Syam. Mabah yang mengetahuinya berontak. Dengan segala ia mencoba kabur dari rumah agar bisa ikut serta dalam rombongan. Dan ia berhasil. Sejak itulah Mabah mendaku diri sebagai seorang Nasrani.

Mabah kemudian mempelajari dan menjadi seorang Nasrani yang taat. Berguru pada seorang pendeta Nasrani. Di tengah-tengah pembelajarannya, Mabah mendapat kabar dari gurunya bahwa di daerah yang tumbuh subur pohon Kurma di Jazirah Arab terdapat seorang nabi yang menyerukan agama baru.

Begitu mendengar kabar itu, Salman pun berangkat. Di tengah perjalanan Mabah malah ditipu oleh rombongannya dan dijual sebagai budak. Mabah akhirnya jatuh ke tangan seorang Yahudi. Dari sanalah akhirnya ia malah menuju Madinah dan bertemu langsung dengan Nabi Muhammad.

Singkat cerita, Mabah kemudian dibebaskan status budaknya oleh Nabi dengan harga 300 tunas pohon kurma dan beberapa dirham emas. Di saat yang bersamaan, Mabah mendapatkan nama baru. Abu Abdullah adalah nama yang dikenal oleh saudara-saudara barunya dan Salman Al-Farisi adalah nama yang kemudian lebih dikenal dalam sejarah Islam. Peristiwa itu terjadi antara periode setelah Perang Uhud (625 Masehi) dan sebelum Perang Khandak (627 Masehi). (As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’i al-Mashadir al-Ashliyyah: Dirasah Tahliyyah, terj., 2005: 376)

Menegur Ibadah Abu Darda’

Saat kedatangan Nabi Muhammad di Madinah, untuk mempererat persaudaraan antara kaum Muhajirin (kelompok pendatang) dan kaum Anshor (penduduk asli Madinah), Nabi memiliki kebijakan untuk mempersaudarakan (al-ikha’) setiap orang.

Salman Al-Farisi dengan nama barunya ini pun tidak luput dari kebijakan tersebut. Di Madinah, Salman diikat persaudaraan dengan Abu Darda’, seorang penduduk asli yang sangat rajin beribadah. Bahkan dalam riwayat Imam al-Bukhari (Hadist no. 1867 dari riwayat Juhaifah RA) disebutkan bahwa ibadah Abu Darda’ masuk pada kategori ekstrem.

Padahal, pemahaman dan perilaku agama yang ekstrem tidak dianjurkan. Nabi Muhammad pernah menegur sahabat Mu’adz bin Jabal ketika menjadi imam salat karena berlama-lama dengan bacaan surat yang begitu panjang. Hal yang menunjukkan bahwa pada tataran kecil saja, Nabi Muhammad begitu memerhatikan aspek keseharian para umatnya.


Hal yang sama terjadi dengan Abu Darda’, sahabat yang terlalu giat dalam ibadah. Salman baru mengetahui hal itu saat mengunjungi kediaman Abu Darda’. Salman heran melihat kelakuan dan penampilan Ummu Darda’, istri Abu Darda’, yang murung dengan pakaian kumal tidak terawat. Salman pun bertanya kepada Ummu Darda’. “Apa yang terjadi padamu?”

“Lihatlah itu saudaramu,” kata Ummu Darda’, “dia tidak lagi membutuhkan dunia. Lalu untuk apa aku perlu memperhatikan diriku di hadapannya?”

Abu Darda’ adalah salah satu sahabat Nabi yang selalu berpuasa setiap hari, salat sepanjang malam, sampai keluarganya tidak pernah diperhatikan. Melihat perilaku istri Abu Darda’, Salman berkesimpulan Abu Darda’ tidak peduli dengan keluarganya sendiri dan lebih memilih untuk selalu beribadah.

Tak berselang lama Abu Darda’ datang membawa makanan dan mempersilakan saudaranya ini makan.

“Makanlah, aku sedang berpuasa,” kata Abu Darda’ sedikit acuh.

Mendengar itu, Salman sedikit terkejut. Jika Abu Darda’ selalu berpuasa, bagaimana ia memenuhi kebutuhan lahir-batin istrinya? Akhirnya Salman pun melemparkan sedikit ancaman.

“Aku tidak akan makan kecuali kamu ikut makan,” kata Salman. Karena tidak enak dengan kunjungan saudaranya, Abu Darda’ akhirnya makan dan memilih membatalkan puasanya.

Infografik Salman Al farisi


Hal ini terus berlangsung setiap kali Salman mengunjungi kediaman Abu Darda’. Bahkan pada suatu malam, Abu Darda’ dengan entengnya meninggalkan pertemuan dengan Salman di rumahnya. Ia beranjak sembari mengenakan pakaian untuk salat sunah. Salman yang heran melihat kelakuan saudaranya itu pun menegur.

“Tidurlah Abu Darda’,” kata Salman melihat bahwa ia lebih rela ditinggal tidur daripada ditinggal salat sunah. Tentu saja teguran ini didasari setelah memerhatikan bahwa Abu Darda’ sebenarnya sudah sangat letih.

Abu Darda’ pun tidur. Karena takut bahwa saudaranya akan bangun lagi dan akan melaksanakan salat lagi, Salman memilih tidak pulang. Benar saja, tidak berselang lama Abu Darda’ terbangun dan ingin melakukan salat lagi.

Baru akan bangun dari tempat tidurnya, Salman langsung menegur kembali, “Tidurlah.”

Abu Darda’ lalu tidur kembali.

Ketika sudah sepertiga malam, Salman yang semalaman menunggu tidur Abu Darda’ pun membangunkannya. “Nah, sekarang bangunlah,” kata Salman sambil mengajak salat bersama.

Ketika salat malam selesai, Salman pun menegur saudaranya ini. “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu yang harus kau tunaikan, dirimu punya hak atasmu yang harus kau tunaikan, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kautunaikan,” kata Salman.

“Tunaikanlah hak-hak tersebut kepada setiap pemiliknya,” kata Salman mengakhiri pembicaraan malam itu dan dibenarkan Nabi Muhammad beberapa hari kemudian.

Hal yang menunjukkan bahwa ibadah yang melebihi batas merupakan tindakan yang tidak diperkenankan. Karena saat menegur Mu’adz, sahabat yang suka berlama-lama dalam salat seperti kisah sebelumnya, Nabi pernah berpesan. “Permudahlah dan jangan mempersulit, kabarkanlah kegembiraan dan jangan memberitakan ancaman, bersepahamlah dan jangan berselisih.”

Baca juga artikel terkait ISLAM atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Zen RS
DarkLight