tirto.id - Setelah mencapai level tertinggi dalam 19 bulan, harga nikel mengalami koreksi tajam sebesar 10,5 persen dalam satu hari perdagangan. Penurunan ini menghentikan sementara reli berkelanjutan yang mengerek harga logam dasar itu sepanjang awal 2026.
Reli intraday yang mendorong harga nikel mendekati 18.800 dolar AS per ton pada Selasa (4/2/2026) didorong oleh beberapa faktor. Salah satunya, risiko gangguan pasokan dari Indonesia, produsen terbesar dunia, menjadi pemicu utama.
Sebagai informasi, pemerintah telah menyampaikan rencana untuk menurunkan produksi nikel tahun ini guna menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Selain itu, kebijakan penerapan denda besar bagi penambang yang melanggar izin kehutanan berpotensi memukul operasional beberapa perusahaan. Gelombang investasi di pasar logam domestik Cina juga turut mendorong kenaikan.
Menukil laporan Bloomberg, Rabu (7/1/2026), pedagang di Asia—yang enggan disebutkan namanya karena kerahasiaan informasi—mengindikasikan peningkatan permintaan nikel pig iron dari Cina, terkait persiapan stok industri menyambut Tahun Baru Imlek.
Analis Mysteel Global, Fan Jianyuan, mengungkapkan bahwa penurunan harga nikel adalah aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan pesat, yang menurutnya "sebagian besar didorong oleh arus masuk modal finansial,” tulis laporan itu.
Fan menambahkan bahwa secara fundamental, "pasar nikel masih dalam kondisi surplus." Secara keseluruhan, logam dasar mencatat awal tahun yang kuat dengan LMEX Index yang melacak enam logam utama di London mencapai level tertinggi sejak 2022. Selain nikel, tembaga juga sempat mencetak rekor tertinggi baru awal pekan ini.
Pada perdagangan Rabu (5/2/2026) pukul 13.55 waktu Shanghai, harga nikel untuk kontrak tiga bulan di Bursa Logam London (LME) tercatat turun 0,8 persen menjadi 18.370 dolar AS per ton. Koreksi serupa juga terjadi pada tembaga, aluminium, seng, dan timbal.
Nikel, yang banyak digunakan dalam produksi baja tahan karat dan baterai, menjadi salah satu komoditas yang paling volatile di tengah dinamika kebijakan negara produsen dan gelombang investasi di pasar keuangan.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































