Menuju konten utama

Harga Emas Diramal Masih Akan Menguat Meski Terkoreksi Imbas FFR

Ibrahim menilai harga emas kemungkinan besar bisa mencapai level tertinggi di 3.780 pada akhir 2025.

Harga Emas Diramal Masih Akan Menguat Meski Terkoreksi Imbas FFR
Warga mencari informasi ketersediaan emas ANTAM di Butik Emas Logam Mulia ANTAM kompleks DP Mall, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/9/2025). Harga emas keluaran ANTAM pada perdagangan hari Kamis (4/9) mengalami kenaikan signifikan dan kembali mencetak rekor tertinggi atau all time high (ATH) di level Rp2.044.000 per gram yaitu naik sebesar Rp9.000 dari sebelumnya Rp2.035.000 per gram. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz

tirto.id - Harga emas dunia diproyeksikan masih akan terus menguat, meski sempat mengalami koreksi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) memangkas suku bunga Fed Fund Rate (FFR).

Harga emas sempat menyentuh level tertinggi di 3.707 pada perdagangan pagi tadi, tapi terkoreksi ke level 3.650 setelah The Fed menurunkan suku bunga acuan.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi menjelaskan menilai, level tersebut menjadi support utama, dengan support berikutnya di 3.639. Sementara itu, level resisten terdekat berada di 3.683 dan 3.696.

Sebagai informasi, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX melemah 1,08 persen menjadi 3.677 per troy ons jelang tengah malam, pukul 23.30 WIB. Sementara, harga emas di perdagangan spot melemah 0,44 persen ke 3.643 per troy ons di waktu bersamaan.

“Pada saat terjadi koreksi saat ini, emas memang turun. Namun secara teknikal, akhir tahun ini harga emas kemungkinan besar bisa mencapai level tertinggi di 3.780,” ujar Ibrahim.

Penguatan emas juga didorong oleh keputusan The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4–4,25 persen.

Melansir dari The Guardian, Ketua The Fed, Jerome Powell, menyebut kebijakan ini sebagai langkah “manajemen risiko” untuk merespons melemahnya pasar tenaga kerja.

Powell juga menegaskan bahwa keputusan suku bunga berikutnya akan dipertimbangkan dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya.

“Penurunan suku bunga ini sesuai ekspektasi pasar, lebih banyak dipicu oleh pelemahan pasar tenaga kerja dan meningkatnya risiko ketenagakerjaan,” ujarnya.

Ibrahim menambahkan, faktor geopolitik global juga menjadi pendorong naiknya harga emas, mulai dari memanasnya konflik di Eropa hingga tensi di Timur Tengah.

"Situasi di Eropa semakin panas dengan keterlibatan NATO di Ukraina, sementara di Timur Tengah negara-negara Arab kembali menekan Israel. Kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dan mendorong inflasi global,” katanya.

Baca juga artikel terkait HARGA EMAS atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Insider
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana