Menuju konten utama

Gus Yahya Pimpin Napak Tilas NU dari Bangkalan ke Jombang

Menurut Gus Yahya kegiatan napak tilas merupakan upaya menghadirkan kembali kesadaran spiritual tentang fondasi berdirinya NU.

Gus Yahya Pimpin Napak Tilas NU dari Bangkalan ke Jombang
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Bangkalan, Minggu (4/1/2026). Foto: Humas PBNU.

tirto.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) yang menempuh rute Bangkalan–Jombang. Kegiatan ini menjadi momentum menelusuri kembali jejak sejarah sekaligus perjalanan spiritual lahirnya NU atas restu para muassis.

Sejak Minggu (4/1/2025), Gus Yahya berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan. Ia mengawali kegiatan dengan salat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh. Cholil.

Gus Yahya menegaskan bahwa napak tilas tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan ini merupakan upaya menghadirkan kembali kesadaran spiritual tentang fondasi berdirinya NU.

“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (5/1/2026).

Usai tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan longmarch yang dipimpin oleh KHR Ach. Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta. Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan bersejarah yang merekam kembali jejak Kiai As’ad Syamsul Arifin saat mengantarkan isyarat restu dari Syaichona Moh. Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.

Gus Yahya menilai bahwa napak tilas ini mengandung pesan penting bagi kepemimpinan NU di masa kini. Ia menekankan bahwa yang dijaga oleh para pengurus NU bukan semata struktur organisasi, melainkan amanah ruhani yang diwariskan para pendiri.

“Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah ruhani yang diwariskan para pendiri NU,” tuturnya.

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang. Kemudian, akan dilakukan penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih dalam prosesi tersebuy. KHR Ach. Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad akan menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, untuk kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU dan selanjutnya diserahkan kepada Ketua Umum PBNU.

Panitia penyelenggara menjelaskan bahwa estafet simbolik tersebut menjadi penanda kesinambungan spiritual dalam kepemimpinan NU. Penyerahan tasbih kepada Ketua Umum PBNU dimaknai sebagai mandat agar roda organisasi dijalankan dengan dzikir, ketenangan batin, serta nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan para muassis.

Melalui kegiatan napak tilas ini, PBNU berharap kader dan warga NU semakin memahami bahwa Nahdlatul Ulama lahir bukan semata dari kesepakatan formal, melainkan dari restu para guru, isyarat spiritual, dan ketulusan ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat untuk umat dan bangsa.

Baca juga artikel terkait NAHDLATUL ULAMA atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto