Guru Dipukul Disebut Guyon, Sejauh Mana Batas Canda Guru-Murid?

Ilustrasi humor di kelas. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 13 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Bercanda bisa mengurangi ketegangan guru-murid, tapi jangan sampai kasar dan menyinggung.
tirto.id - Akhir pekan di minggu kedua Bulan November 2018, jagat maya diramaikan dengan video seorang guru
SMK dikeroyok oleh murid-muridnya. Pada video yang viral karena salah satu akun gosip di Instagram Lambe Turah tersebut terlihat beberapa murid menendang gurunya dan dibalas oleh sang guru.

Kejadian dalam rekaman video tersebut terjadi di SMK NU 03 Kaliwungu, Kabupaten Kendal, pada 8 November 2018 saat mata pelajaran Gambar Teknik Otomotif yang diampu oleh Joko Susilo.

Dalam keterangan resminya, Kepala Sekolah Muhaidin mengatakan bahwa yang dilakukan oleh murid-murid kelas X Jurusan Teknik Kendaraaan Ringan (TKR) itu hanya bercanda.


“Pada jam 13.00 menjelang berakhirnya jam pelajaran tersebut, anak-anak ramai bercanda. Ada yang saling melempar kertas dan salah satu kertas tersebut ada yang mengenai Pak Joko. Selanjutnya Pak Joko meminta anak-anak untuk mengaku siapa yang melempar kertas tersebut. Tidak ada anak yang mengaku, tetapi justru beberapa anak maju ke depan kelas untuk bercanda, dengan harapan agar Pak Joko tidak marah-marah karena pada dasarnya Pak Joko adalah guru yang suka bercanda dengan anak-anak pada saat pembelajaran,” ungkap Muhaidin.

Muhaidin menambahkan bahwa tindakan murid-muridnya tersebut ditanggapi reaktif oleh sang guru dengan melakukan gerakan seperti mengajak berkelahi, sehingga anak-anak itu menyentuh tubuh Joko dan memberi kesan terjadi pengeroyokan.

Ia juga mengatakan bahwa video itu beredar setelah seorang siswa merekam dan memasukkan ke dalam fitur Whatsapp Story.

“Kami sangat menyadari bahwa guyonan tersebut melampaui batas wajar, dan oleh pihak sekolah sudah melakukan penanganan terhadap semua anak yang terlibat dalam video tersebut pada hari Sabtu, 10 November 2018 dan akan ditindaklanjuti dengan pemanggilan kepada orangtua pada hari Senin, 12 November 2018,” ujar Muhaidin.

Batas Bercanda Murid dan Guru

Video tersebut mendapat reaksi dari banyak orang, tak terkecuali Bupati Kendal Mirna Annisa dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Pada Senin (11/11/2018), Mirna bahkan mendatangi SMK NU 03 Kaliwungu Kendal untuk meminta klarifikasi dari pihak sekolah dan orangtua murid. Sedangkan Ganjar Pranowo melalui akun Twitter-nya mengunggah video klarifikasi dari Kepala Sekolah SMK tersebut.

Meski kepala sekolah telah menyampaikan bahwa yang dilakukan oleh siswanya itu adalah bercanda, warganet menganggap guyonan itu sudah kelewat batas.


Jika memang benar kejadian itu ada dalam konteks bercanda, sejauh apa sebuah candaan dapat ditoleransi?

Dalam sebuah artikel berjudul “Engaging Students With Humor” yang ditulis oleh Ted Powers pada laman Association for Psychological Science, humor disebut bisa meningkatkan perhatian siswa dan mempertahankan fokus sehingga mudah diingat.

Powers juga menulis soal constructive humor, yakni humor yang tidak mengganggu dan tidak merendahkan orang lain. Maka dari itu, dalam suasana belajar mengajar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika bercanda di kelas, yakni subjek, nada bercanda, maksud, dan situasi.

Ketika bercanda, ada baiknya kita mempertimbangkan hal yang mungkin dialami oleh lawan bercanda kita. Selain itu, tingkat sarkasme juga perlu diperhatikan agar lawan bicara tidak tersinggung.

Baik guru dan murid harus memahami situasi ketika bercanda, karena hal tersebut bisa mempengaruhi perasaan lawan bicara. Waktu bercanda pun juga ternyata berpengaruh terhadap penerimaan. Respons bercanda pagi hari akan berbeda dengan siang hari.


Menurut tulisan berjudul “Implications of Using Humor in The Classroom” yang ditulis oleh Daniela Jeder (PDF), humor memiliki peran khusus di ruang kelas karena dianggap sebagai media yang efektif untuk belajar.

Jeder juga menuliskan bahwa rasa humor dianggap sebagai salah satu kualitas penting seorang guru. Humor bisa membentuk kepercayaan, kenyamanan, relaksasi, interaksi, dan kehangatan. Untuk itu, humor yang digunakan di dalam kelas haruslah memperhatikan etika.

Ada banyak model humor yang sering kita temui, di antaranya ironi dan sarkasme. Namun, jika tak memperhatikan etika, humor pun bisa membawa pengaruh yang tidak baik seperti menyinggung. Tentunya hal ini bisa mempengaruhi komunikasi di antara keduanya karena bisa memicu ketegangan, rasa takut, stres, dan depresi.



Maka dari itu, sebaiknya saat di kelas hindari humor yang melanggar batas etika sehingga berisiko, ofensif, dan menghina.

“Humor tidak selalu lucu, terutama ketika digunakan secara kasar dan melewati batas etika,” tulisnya.

Beragam bentuk humor yang kelewat batas bisa memunculkan permusuhan, ofensif, dan berpotensi menyebabkan konflik. Baik ironi maupun sarkasme memiliki elemen umum yakni bisa menghasilkan tawa, tapi humor sarkastis lebih keras sehingga bisa menyebabkan sakit hati.

Ironi, tulis Jeder, sesungguhnya adalah cara jenaka dalam menyampaikan sesuatu yang berlawanan, kontras antara ekspektasi dan realitas yang terjadi. Ironi bergantung pada konteks, kekuatan transmisi pesan dan kemampuan interpretasi orang yang menerimanya.

Sayangnya, menurut Jeder, ada ironi murahan yang mengandung keinginan mendominasi dan menunjukkan superioritas. Disampaikan dengan cara yang tak menyenangkan, ironi murahan menunjukkan arogansi sok kuasa dari, sehingga murid merasa dipermalukan, terutama murid-murid yang sensitif.

Sarkasme, di sisi lain, biasanya berupa kalimat pahit menusuk yang menyinggung murid. Sarkasme, menurut Jeder, diekspresikan dalam cara merendahkan yang arogan, menuju pada kekurangan dan kesalahan orang lain, dalam hal ini murid.

Baca juga artikel terkait SEKOLAH atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight