Getir & Trauma Korban Terorisme Merespons Pemulangan 600 Eks ISIS

Oleh: Irwan Syambudi - 10 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sebagian korban terorisme menolak kepulangan WNI eks ISIS ke Indonesia.
tirto.id - Penglihatan Yohanes Triyanta (41) agak kabur. Mata Yohanes tak lagi dapat melihat dengan sempurna, kerusakan syaraf membuat mata kirinya sulit untuk melihat. Ketika kumat, kelopak mata kirinya menutup sendiri.

"Terakhir kemarin itu sampai tidak bisa melihat, mata kiri menutup sendiri dan tidak bisa membuka," kata Yohanes kepada Tirto, Jumat (7/2/2020).

Yohanes adalah satu di antara lima korban penyerangan teroris di Gereja Santa Lidwina, Gamping, Sleman, Yogyakarta pada 11 Februari 2018. Ia mengalami luka sabetan pedang di sepanjang dahi, horizontal di atas mata kanan sampai kiri.

Seorang teroris bernama Suliyono memasuki gereja dan menyerang jemaat dengan sebilah pedang saat misa. Polisi menyebut Suliyono terpapar paham radikal dan hendak berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Saat penyerangan, Yohanes duduk di bangku belakang yang berada di dekat pintu. Seketika Suliyono masuk mengayunkan pedangnya, Yohanes menjadi salah satu orang yang terkena sabetan karena tidak sempat menyelamatkan diri.

Meski telah mendapatkan pengobatan dan pernah juga dioperasi, beberapa kali sakit dari luka yang dideritanya itu kambuh. Selama dua tahun terakhir ia sudah tiga kali kambuh hingga penglihatannya semakin menurun.

"Mata saya terganggu dalam hal penglihatan karena ada beberapa syaraf yang terakhir saya periksa itu tidak berfungsi secara baik atau seperti semula," kata dia.


Tak hanya secara fisik, serangan yang dialaminya itu juga menimbulkan trauma yang mendalam. Misalnya ketika melihat pisau dari yang mulai ukuran kecil hingga besar pasti langsung membuat ia ketakutan.

Tak hanya itu, mendengar cerita tentang kekerasan, terlebih kekerasan dengan senjata tajam juga membuat ia takut.

"Dan saya sangat-sangat benci terhadap tindakan kekerasan terutama dilakukan dengan senjata tajam," ujarnya.

Yohanes ingin tak ada lagi sakit dan trauma seperti apa yang ia alami sebagai korban kejahatan terorisme. Ia ingin tak ada lagi aksi terorisme dengan dalih apa pun.

"Saya sebagai korban sangat mengutuk tindakan penyerang saya. Saya tidak kenal, tidak punya masalah, bukan musuh terhadap pelaku. Saya menjadi orang yang sangat dirugikan, rugi waktu, tenaga, pikiran, material dan bahkan bisa juga nyawa," kata dia.

Tak Sepakat Pemulangan WNI Eks ISIS

Yohanes tak sepakat jika para warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS di luar negeri harus dipulangkan. Menurutnya, hal itu malah akan menambah masalah.

"Mereka datang ke sana atas perintah siapa. Sampai beranak pinak dan berkeluarga, tujuannya apa dan atas inisiatif siapa? Apakah pemerintah yang menyuruh atau bagaimana?" kata Yohanes.

Jika memang mereka mendukung ISIS melakukan tidak kekerasan di luar negeri, kemudian dipulangkan oleh pemerintah, Yohanes ragu pemerintah bisa menjamin mereka tak melakukan tindak kekerasan kembali.

"Kalau tidak bisa menjamin ya buat apa dipulangkan. Tapi kalau bisa menjamin ya monggo, wong itu warga negara Indonesia," ujar Yohanes.

"Jadi kenapa yang diurusi kok malah yang itu, kenapa tidak yang lain saja misalnya TKW atau siapapun yang lebih berguna di Indonesia," tambahnya.

Korban teror di Gereja Santa Lidwina lainnya, Rustiana Eka Wulandari Patricia (51) ragu WNI eks ISIS bisa sadar. Ia menilai paham radikal yang mereka anut susah luntur sekalipun lewat program deradikalisasi.

"Mereka kan sudah dicuci otak, paham mereka sudah melekat begitu kuat. Apakah mungkin untuk disadarkan kembali?" tanya Wulan.

"Sudah jelas-jelas ikut ISIS yang memporak-porandakan dunia seperti itu kok mau diterima. Malah membikin kelompok baru yang lebih besar bagaimana. Terus terang saja kalau saya tidak setuju kalau mereka dipulangkan," tambahnya.
Sementara Y.M Sukatno (64), jemaah yang juga mengalami teror dan trauma ketika penyerangan di Gereja Lidwina, mengatakan pemulangan WNI eks ISIS harus dengan syarat.

Sukatno mengatakan WNI eks ISIS harus berjanji untuk mengikuti Pancasila sebagai WNI dan menjalankan perintah agama tanpa kekerasan.

"Kalau dia bisa menerima Pancasila ya tidak apa-apa [dipulangkan], karena memang dia juga orang Indonesia, tapi ya jangan hanya cuma karena di sana kesulitan terus dia mau masuk Indonesia, jangan hanya [janji setia NKRI] di bibir saja," tegasnya.

Memantik Trauma Penyintas

Sucipto Hari Wibowo pasrah saja ketika melihat pemberitaan mengenai Wacana kepulangan 660 WNI eks ISI. Pria yang menjadi penyintas atas pengeboman Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004 tersebut mendaku menyerahkan hal itu kepada pemerintah.

“Mereka [pemerintah] punya instrumen hukum dan deradikalisasi. Pemerintah pasti sudah menyiapkan, baik itu menerima ataupun menolak,” ujar pria yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) kepada reporter Tirto, Jumat (7/2/2020).

Cipto mengalami luka pada gendang telinga dan kerusakan syaraf akibat ledakan bom 2004 silam. Ia mengalami trauma hingga tak mampu melewati lokasi kejadian dan mendengar bunyi keras.

Dia sudah menjalani rehabilitasi medis dan mental. Saat ini, ia mendaku masih rutin melakukan rawat jalan dengan sokongan dari LPSK.

Cipto juga rutin membuat agenda penyembuhan untuk sesama anggota YPI yang berjumlah sekitar 700 orang korban terorisme di Indonesia. Hal itu pula yang membuat Ia berangsur-angsur pulih dari tragedi.

“Alhamdulillah. Saya sekarang masih bekerja di perusahaan swasta dengan segala keterbatasan. Kalau kebanyakan kerja, harus cepat istirahat. Nanti kepala saya kambuh lagi,” ujarnya.

Meski demikian, Cipto tidak bisa memungkiri bahwa emosinya bergejolak setiap kali ada pemberitaan mengenai terorisme di media massa. Ia tidak habis pikir insiden keji macam itu terus berulang.

“Kebangetan banget. Teman-teman [sesama penyintas di YPI] juga banyak emosional. Malah sampai ada yang tendang tembok, mengumpat. Saya cuma ‘yah kok ada lagi’,” ujarnya.


Berbeda dengan Cipto, Ni Kadek Ardani menolak wacana pemulangan WNI eks ISIS. Dek Bobo, panggilan akrabnya, merupakan penyintas insiden pengeboman di Bali pada 1 Oktober 2005 atau yang dikenal sebagai Bom Bali II.

Menurut Dek Bobo, seharusnya para WNI eks ISIS itu bukan lagi menjadi urusan pemerintah Indonesia.

“Karena mereka keluar jadi warga negara Indonesia demi ISIS dan menjadi teroris […] Kemudian mereka datang lagi ke Indonesia. Haduh,” ujarnya wanita berusia 35 tahun ini kepada Tirto, Jumat (7/2/2020).

Ia mendaku menyimpan rasa takut ketika mengetahui rencana pemulangan WNI eks ISIS. Ia meminta agar pemerintah menelaah kembali wacana tersebut. Menurutnya, masih ada banyak urusan dalam negeri yang membutuhkan perhatian khusus.

“Yang lebih urgent itu pemerintah harus membenahi sikap toleransi yang masih semerawut di negara ini,” ujarnya.

Setidaknya, menurut dia, pemerintah lebih baik fokus dulu pada penanganan isu kesehatan yang merebak belakangan ini: virus Corona.

“Masih banyak saudara-saudara kita yang butuh bantuan untuk balik ke Indonesia. Semisal kebakaran di Australia. Virus yang lagi merebak. Itu saja difokuskan. Masih menjadi warga Negara Indonesia,” ujarnya.


Dek Bobo mengalami luka fisik dan trauma akibat bom Bali II. Saat bom meledak, ia sedang bekerja di Restoran Menega.

Saat ini, Dek Bono rutin berobat jalan dengan pendanaan yang ditanggung LPSK. Selain itu ia juga rutin berkumpul dengan sesama penyintas untuk mengurangi trauma.

Namun, pemberitaan media massa mengenai rencana pemulangan WNI eks ISIS membuat dirinya resah. Pemberitaan semacam itu memantik trauma yang dialaminya.

“Apa lagi sekarang, nonton televisi ada [pemberitaan] pemulangan eks ISIS. Wah, parah,” tandasnya.

Hingga kini, pemerintah Indonesia belum memutuskan apakah akan menerima atau menolak kepulangan WNI eks ISIS. Presiden Joko Widodo memberi sinyal penolakan, tetapi keputusan resmi akan disampaikan dalam waktu dekat.

"Kalau bertanya kepada saya, saya akan bilang tidak [untuk memulangkan WNI eks ISIS], tapi, masih dirataskan," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/2/2020) lalu.

Baca juga artikel terkait WNI EKS ISIS atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Irwan Syambudi & Alfian Putra Abdi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight