tirto.id - Beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H, Pasar Tanah Abang sudah ramai disesaki para pengunjung. Pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu dipadati pengunjung dari berbagai kalangan sejak pagi hingga sore hari.
Di momen ramai seperti sekarang ini, lalu lalang pengunjung membawa kantong plastik, kardus, hingga troli berisikan barang belanjaan partai besar adalah pemandangan jamak. Keramaian itu setidaknya menunjukkan bahwa toko luring masih menjadi pilihan bagi para konsumen, bahkan di tengah kemudahan berbelanja secara daring.
Fitri Pratiwi (29), seorang pengunjung yang datang dari Cikupa, Kabupaten Tangerang, bercerita kepada Tirto. Fitri rela datang jauh-jauh ke Pasar Tanah Abang sedari subuh untuk membeli kebutuhan sandangnya menjelang Ramadhan dan Idulfitri.
Fitri mengaku bahwa dirinya rutin datang ke Pasar Tanah Abang setiap tahun di momen jelang Ramadhan. Meskipun harus menghadapi kemacetan dan berdesakan saat berbelanja, Fitri mengaku lebih senang datang langsung ke Pasar Tanah Abang ketimbang berbelanja secara daring.
“Lebih senang megang-megang sih, cobain. Kalau cocok baru beli, kalau gak cocok tinggalin aja. [Bisa lihat] bahannya bagus atau gak,” ujar Fitri kepada Tirto, Kamis (27/2/2025).
Dia memilih Pasar Tanah Abang sebagai tempat berbelanja karena barang-barang yang ditemuinya di sana sangat beragam. Selain itu, harga di pasar tersebut juga relatif lebih murah ketimbang di tempat lain.
“Yang pertama, mungkin lebih murah. Kedua, beragam, bermacam-macam [pilihannya]. Jadi, kita bisa lihat yang lainnya, modelnya juga banyak,” tuturnya.
Serupa dengan Fitri, Masulah (47) juga memilih untuk datang langsung ke Pasar Tanah Abang, meskipun harus menempuh jarak yang jauh dari rumahnya di Bekasi. Bahkan, dalam tahun ini saja, Masulah sudah tiga kali bolak-balik ke Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian.
“Lebih murah, lebih luas, lebih enaklah. Tahun ini, sudah tiga kali [ke Pasar Tanah Abang],” kata Masulah kepada Tirto, Kamis.
Menjelang Ramadhan, Masulah menyebut harga barang-barang di Pasar Tanah Abang variatif. Dia menemukan beberapa toko yang menjual barang dengan harga tinggi, tapi ada juga toko yang menjual barang dengan harga rendah.
“Tergantung sih, tergantung barangnya. Lumayanlah, ada yang [harganya] murahan, ada yang mahalan,” ucapnya.
Masulah mengaku senang berkunjung ke Pasar Tanah Abang, meskipun dalam kondisinya ramai dan berdesakan. Dia memilih berbelanja langsung ke pasar karena merasa kurang yakin apabila membeli barang secara daring.
Dia khawatir tidak puas jika membeli barang melalui gawainya, alih-alih menyambangi toko secara langsung.
“Kurang puas sih ya, kita takut juga kalau di online. Takut gak puas sama barangnya. Gak sesuai sama pilihan kita,” kata Masulah.
Omzet Meningkat hingga 100 Persen
Seorang pegawai toko pakaian perempuan bernama Mia (28) menyebut bahwa tokonya mengalami peningkatan pengunjung menjelang datangnya Ramadhan. Di saat seperti ini, Mia menyebut baju gamis menjadi barang yang paling laku.
Melihat antusiasme pembeli menjelang Ramadhan, harga jual baju gamis di toko tempat Mia bekerja langsung diturunkan. Semula, satu buah baju gamis dibanderol dengan harga Rp250 ribu. Kini, harga jualnya diturunkan sebesar 28 persen menjadi Rp180 ribu.
“Kalau kami udah mau menyambut bulan Ramadhan, jadi yang laku kayak gamis outer gini itu laku,” jelas Mia kepada Tirto, Kamis.
“Kalau kami lagi sale, Bang, biasanya tuh pasarannya di Tanah Abang Rp250 ribu. Ini kami lagi sale jualnya cuma Rp180 ribu,” lanjutnya.
Meskipun menurunkan harga, Mia mengaku omzet penjualan justru meningkat hingga 100 persen. Pada hari-hari biasa, Mia menyebut tokonya meraup keuntungan sebesar Rp10 juta per hari. Kini, tokonya bisa meraup omzet hingga Rp20 juta per hari.
“Alhamdulillah [omzet] makin meningkat. Omzet kami kalau hari-hari biasa itu bisa sekitaran Rp10 jutaan, tapi sekarang lumayan di atas itu. Kisarannya nyampe, kalau lagi rame, Rp20 juta,” kata Mia.
Mia menuturkan bahwa peningkatan pembelian di tokonya sudah berlangsung sejak Januari lalu. Pembeli yang datang ke tokonya juga berasal dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada yang datang dari luar negeri.
Menurut Mia, toko tempatnya bekerja juga melakukan penjualan daring lewat aplikasi TikTok. Meski begitu, hal tersebut tetap tidak menyurutkan antusiasme para pembeli untuk datang langsung ke Pasar Tanah Abang.
Bahkan, menurut Mia, banyak pembeli yang melihat produk dari TikTok, lalu datang langsung ke Pasar Tanah Abang untuk melakukan transaksi secara luring.
"Tetap ramai. Kadang, dari TikTok lihat dulu, [setelah itu] langsung ke sini, langsung mampir ke lokasinya,” tutur Mia.
Sementara itu, Rival (25), seorang penjual baju muslim, menyebutkan bahwa ramainya pengunjung menjelang Ramadhan tidak serta-merta membuat omzet tokonya meningkat.
Menurutnya, banyak pengunjung yang hanya datang untuk sekadar melihat-lihat tanpa benar-benar membeli sesuatu. Pengunjung tersebut datang dari berbagai kota di Indonesia, termasuk beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Brunei Darussalam.
“Alhamdulillah ada [peningkatan pengunjung], Bang. Cuma gak terlalu itu [berpengaruh] banget. Orang ramai cuma survei-survei dulu,” tutur Rival kepada Tirto, Kamis.
Rival menyebut bahwa omzet penjualan baju muslim di tokonya jelang Ramadhan ini masih sama seperti hari-hari biasanya, yakni sekitar Rp5 juta per hari. Dia berharap omzet penjualan akan meningkat seiring semakin dekatnya lebaran.
“Kayaknya [omzet] bisa [meningkat]. Cuma belum pasti sekarang. Sekarang aja, baju muslim nih, masih kurang. Orang-orang kayaknya masih mau survei-survei dulu. Ya segitulah [omzetnya], masih samalah. Paling pas mau-mau lebaran meningkatnya,” ujar Rival.
Daya Beli Kelas Menengah Masih Tinggi
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menyebut bahwa geliat Pasar Tanah Abang menjelang datangnya Ramadhan merupakan suatu hal yang harus disambut secara positif. Pasalnya, hal itu adalah indikasi bahwa masyarakat kelas menengah masih memiliki daya beli yang tinggi.
“Pasar tetap membludak itu bagus. Artinya, masyarakat tetap punya income, jadi gak perlu khawatir. Kita perlu khawatir itu kalau masyarakat tidak belanja. Pertumbuhan ekonomi itu ditopang 50 persen lebih oleh belanja rumah tangga,” ujar Esther saat dihubungi Tirto, Kamis.
Ramainya pengunjung yang datang langsung ke Pasar Tanah Abang, menurut Esther, juga membuktikan bahwa menjamurnya perniagaan daring tidak serta-merta mengubah total kebiasaan konsumen. Pemilihan transaksi secara daring ataupun luring merupakan preferensi masing-masing konsumen.
“Itu preferensi. Misalnya, kayak saya gak punya waktu untuk pergi ke pasar, jadi saya lebih senang belanja online. Ada juga orang yang memang dia gak suka belanja online. Ada yang lebih pengen nge-mall, sambil jalan-jalan, beli sesuatu,” katanya.
Dengan meningkatnya permintaan jelang Ramadhan, Esther tidak menampik adanya kemungkinan kenaikan harga barang. Meski begitu, menurutnya, pemerintah tidak perlu sampai melakukan intervensi untuk mengontrol harga di pasar. Pasalnya, penjual sudah cukup bijak untuk menentukan harga barang sesuai dengan permintaan konsumen.
“Produsen akan menyesuaikan dengan pasar. Beberapa barang yang dulu harganya lumayan, itu sekarang mengalami penurunan. Karena, mereka menyesuaikan dengan kondisi pasar, karena penjualan lesu, sedikit, jadi mereka menyesuaikan harganya,” ucap Esther.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menyebut bahwa ramainya Pasar Tanah Abang menjelang Ramadhan dan Idulfitri merupakan siklus tahunan yang terjadi karena peningkatan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat meningkat karena adanya penambahan pendapatan imbas pemberian tunjangan hari raya (THR).
Menurut Nailul, penambahan pendapatan membuat masyarakat cenderung meningkatkan konsumsinya. Dengan begitu, pusat-pusat perbelanjaan otomatis akan dipadati oleh masyarakat yang ingin berbelanja.
“Ketika ada tambahan pendapatan, masyarakat kita cenderung untuk meningkatkan konsumsi. Konsumsi rumah tangga akan meningkat, di tempat perbelanjaan akan ramai dan begitu juga untuk belanja-belanja secara online ada kecenderungan akan meningkat,” kata Nailul saat dihubungi Tirto, Jumat (28/2/2025).
Menurut Nailul, hal itu akan berdampak positif bagi para penjual baik di level usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga korporasi besar. Meski begitu, dampak yang tidak terelakkan dari adanya peningkatan permintaan ini adalah kenaikan harga jual.
“Pedagang UMKM memang mendapatkan kenaikan yang cukup besar, meskipun brand besar juga mendapatkan keuntungan yang besar juga. Dengan pangsa pasar masing-masing, saya rasa pelaku usaha mendapatkan dampak positif dari kenaikan pendapatan masyarakat. Namun, ada dampaknya kepada harga jual yang memang meningkat karena peningkatan permintaan,” ucap Nailul.
Oleh karena itu, Nailul berharap pemerintah dapat memastikan stok barang, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pangan, dapat tercukupi selama Ramadhan dan Idulfitri. Dengan begitu, peningkatan permintaan masyarakat tidak akan berujung pada kelangkaan pasokan.
“Stok di pasar tradisional maupun modern harus dijaga dengan baik sehingga tidak ada kelangkaan pasokan. Ketika pasokan langka, harga menjadi tidak terkendali. Inflasi menjadi tidak wajar,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi