Menuju konten utama

Fenomena Keresahan Gen Z: Takut Terlihat Tua

Kamu boleh saja menggemari tren perawatan kulit anti-aging di media sosial, tapi pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan pakar, ya!

Fenomena Keresahan Gen Z: Takut Terlihat Tua
Header diajeng Gen Z Enggan Terlihat Tua. tirto.id/Quita

tirto.id - Akun @carsonbradleyxoxox membuat heboh jagat TikTok. Carson membagikan rahasia wajah mulusnya dengan judul “Things I do to slow down the aging process as a 14 yo”. Dalam unggahannya, ia menjelaskan ritual kecantikan dilakukan sejak usianya 12 tahun.

Carson memulai hari dengan minum dua pil cuka sari apel, mengaplikasikan retinol dua kali sehari, memakai masker korea, mengaplikasikan sunscreen dengan SPF 50+, dan minum teh hijau dengan tambahan madu.

Unggahan ini memancing 8.112 komentar pro dan kontra. Salah satunya, “Ia terlalu muda untuk mengaplikasikan retinol, bahkan dua kali sehari di atas kulit wajahnya yang sangat mulus. Kenapa anak semuda ini takut menua?”

Apa penyebab remaja atau anak semuda ini sudah mulai takut menua?

Dalam jurnal yang ditulis Diala Haykal, MD, Foad Nahai, MD, FACS, dan Hugues Cartier, MD, dijelaskan bahwa prejuvenation atau peremajaan kulit, sebuah perawatan pencegahan penuaan, muncul pada awal 2000-an.

Gen Z, generasi yang lahir tahun 1997-2012 atau kini berusia 11 sampai 26 tahun, mulai mencari pendekatan baru terhadap penuaan.

Tren peremajaan kulit dipicu oleh kemajuan yang cepat dalam teknologi perawatan kulit dan estetika, brand perawatan kulit dan kecantikan yang marak menyasar Gen Z, ditambah dengan munculnya media sosial sebagai sumber informasi.

Gen Z, sebagai generasi digital pertama, sangat bergantung pada media sosial dan internet untuk mendapatkan saran perawatan kulit dan cara mencegah penuaan.

Pandemi Covid-19 lalu memperkuat dampak media sosial terhadap standar kecantikan Gen Z karena konferensi video menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian.

Terus-menerus melihat citra diri di layar menyebabkan ketidakpuasan mereka terhadap penampilan meningkat, sehingga memicu minat yang lebih besar terhadap perawatan kecantikan dan prosedur estetika.

Berbagai metode dan perawatan menjadi tren di antara Gen Z yang ingin mempertahankan penampilan awet muda, salah satunya, penggunaan retinol dan baby botox.

diajeng Gen Z Enggan Terlihat Tua

Ilustrasi Gen Z Enggan Terlihat Tua. (FOTO/iStockphoto)

Menanggapi rutinitas penggunaan skincare di usia muda, Dr. Arini Astasari Widodo, MCSO, Sp.KK—dokter spesialis kulit, kelamin, dan estetik—mengatakan bahwa kulit mulai berubah selama pubertas. Sebagian besar remaja mengalami jerawat dan keluhan kulit untuk pertama kalinya.

Saat tubuh menghasilkan lebih banyak minyak dan menghasilkan jenis hormon yang berbeda, sulit bagi kulit untuk menyeimbangkan perubahan tersebut.

Untuk alasan ini, banyak dokter kulit yang merekomendasikan penggunaan produk perawatan kulit remaja mulai usia 12 tahun, atau kapan pun pubertas dimulai.

“Seorang anak berusia 12 tahun tidak memerlukan skincare yang rumit tapi akan mendapatkan manfaat dari penggunaan sabun pembersih lembut, pelembap, sunscreen, dan mungkin spot treatment untuk jerawat saat muncul,” jelas Arini yang juga dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana.

Menurut American Academy of Dermatology Association, usia 20-an adalah waktu ideal untuk memulai rutinitas perawatan kulit dan mengadopsi kebiasaan hidup sehat, karena pilihan skincare saat itu mempengaruhi penampilan kulit di dekade berikutnya.

Di usia ini pula rutinitas skincare berkembang, mencakup produk anti-aging. Tanda-tanda khas penuaan seseorang, seperti keriput atau penurunan performa kulit, mulai muncul sekitar usia 20 tahun.

Tubuh secara perlahan mulai berhenti memproduksi kolagen sebanyak sebelumnya, yang menyebabkan kulit kehilangan elastisitas. Namun tingkat penuaan individu dapat bervariasi karena faktor lingkungan dan predisposisi genetik.

Mengenai retinol yang sedang viral, Arini menjelaskan lebih lanjut. Retinoid adalah istilah umum untuk sejumlah produk berbasis vitamin A yang digunakan pada kulit. Retinoid dapat mengatasi garis-garis halus dan kerutan ringan, jerawat, dan bintik-bintik gelap, serta memperbaiki tekstur kulit.

Kalau kamu ingin mengatasi warna kulit yang tidak merata, bintik-bintik gelap, atau tekstur kulit, carilah kata retinol. Retinol merupakan jenis retinoid yang digunakan untuk tujuan ini. Retinol dapat membantu membuat kulit terlihat lebih muda dengan mempercepat pergantian sel kulit baru yang mulai melambat pada usia 20-an.

Namun retinoid, baiknya, hanya dioleskan sebelum tidur, 20-30 menit setelah membersihkan wajah. Kalau kamu merasa retinoid membuat kulit terlalu kering, aplikasikan dulu pelembap segera setelah mencuci wajah, kemudian oleskan retinoid 20-30 menit kemudian.

Selain penggunaan retinol, beberapa akun di TikTok secara terang-terangan mengunggah video proses penyuntikan botox atau baby botox, efeknya, hasil dari minggu ke minggu, hingga biaya yang harus dikeluarkan.

Sekali pengerjaan bisa merogoh kocek 2-8 juta rupiah. Efek maksimalnya baru terlihat dalam 14 hari—kulit halus dan bebas kerutan di dahi, area dekat mata, juga bibir—tetapi hanya bertahan 4-6 bulan sehingga membutuhkan retouch.

diajeng Gen Z Enggan Terlihat Tua

Ilustrasi Gen Z Enggan Terlihat Tua. (FOTO/iStockphoto)

Dalam podcast Deddy Corbuzier yang diunggah tahun lalu, penyanyi Rossa pun mengaku pernah melakukan suntik botox di kedua pipinya agar terlihat tirus pada 2010 silam. Namun ia kapok karena tak bisa tertawa selama enam bulan.

Baby botox, atau disebut juga micro-botox, menurut Arini, mengacu pada tren baru dalam prosedur botox. Baby botox bertujuan menambah volume pada wajah dan menghaluskan kerutan serta garis halus. Sama seperti botox tradisional, tetapi menggunakan dosis lebih sedikit untuk menghindari efek beku yang kerap muncul akibat botox tradisional.

Botox sebenarnya sudah FDA-approved untuk penggunaan pada remaja usia 18 tahun ke atas, tapi penting untuk berkonsultasi dengan dokter kulit yang berkualifikasi untuk saran yang dipersonalisasi.

Jika ragu tentang produk skincare, dokter kulit bersertifikasi juga dapat merekomendasikan rutinitas yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifikmu.

Hati-hati dengan tren perawatan kulit di media sosial. Beberapa tren bisa saja merugikan.

Tak rela kan, kulit yang semula sehat justru jadi bermasalah akibat FOMO tren skincare yang belum tentu cocok untuk semua kondisi kulit?

Baca juga artikel terkait TOUCHUP atau tulisan lainnya dari Glenny Levina

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Glenny Levina
Penulis: Glenny Levina
Editor: Yemima Lintang