tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyetujui mandatori campuran etanol 10 persen untuk BBM, untuk mengurangi emisi karbon dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Bahlil menyebut keputusan itu masih dalam tahap penyusunan peta jalan atau roadmap dalam pengimplementasian E10 atau BBM yang mengandung etanol sebesar 10 persen.
Menurut dia, rencana untuk mengembangkan E10 berangkat dari keberhasilan pemerintah mengimplementasikan biodiesel, dari yang semula B10 atau campuran 10 persen minyak mentah sawit (crude palm oil/CPO) dengan 90 persen solar untuk bahan bakar diesel.
Kebijakan biodiesel tersebut sudah berkembang hingga B40. Bahkan untuk 2026, pemerintah menargetkan pengimplementasian B50.
Menteri ESDM menjelaskan implementasi E10 masih menunggu persiapan pabrik etanol, baik yang berbahan baku tebu maupun singkong.
Keuntungan Kendungan Etanol pada BBM
Pusat Kajian Ketahanan Energi Untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) menyatakan kandungan etanol untuk bahan bakar minyak (BBM) sudah lazim dilakukan di luar negeri, bahkan mencapai 5 persen, 8 persen, dan 10 persen, selain itu keberadaannya positif untuk lingkungan, karena bisa mengurangi emisi karbon.
“Itu sudah lazim dipakai dan berpengaruh sangat baik untuk lingkungan, mereduksi emisi karbon, di Eropa mereka biasa gunakan 5-8 persen. Di Amerika dan Australia begitu juga. Karena ada beberapa tujuan lain, tidak semata-mata kepentingan bisnis, namun agar mengurangi minyak dari fosil,” kata Direktur Eksekutif Puskep UI Ali Ahmudi, dikutip AntaraNews, Kamis (9/10).
Menurut Ali, perusahaan-perusahaan energi di berbagai negara juga pasti ingin terlibat dalam proses transisi energi untuk mereduksi emisi dan global warming. Salah satunya, adalah menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.
”Jadi ini sudah global, bukan lagi lokal dan regional. Dan itu dilakukan oleh Shell, Total, BP di luar negeri. Hampir semuanya,” katanya pula.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut mandatori pemerintah terkait pencampuran bensin dengan etanol sebesar 10 persen dapat mengurangi kandungan sulfur yang tinggi pada BBM.
"Bilamana dikonversi sebagian dengan (bahan bakar) alami tentu mengurangi sulfur," ujar Menteri LH Hanif Faisal Nurofiq, dikutip AntaraNews, Senin (13/10).
Menteri Hanif mengakui kandungan sulfur yang sangat tinggi pada BBM di Indonesia berpengaruh terhadap tingkat polusi sektor transportasi.
Kerugian Kandungan Etanol pada BBM
Beberapa negara bagian di Amerika Serikat mulai menerapkan mandat untuk meningkatkan etanol. Semua mandat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas udara dan mengurangi polusi udara dari emisi bahan bakar.
Namun, etanol juga berpotensi menyebabkan masalah besar bagi konsumen, yang menghadapi pengurangan jarak tempuh, masalah penyimpanan, dan kecenderungan etanol untuk menimbulkan korosi pada tangki dan komponen plastik serta fiberglass, terutama dalam aplikasi kelautan.
Etanol adalah senyawa berbasis alkohol yang berasal dari biomassa (baik tebu maupun turunan serupa lainnya). Meskipun terbarukan dan pembakarannya lebih bersih daripada bensin murni, sifat kimia dan fisikanya menimbulkan beberapa tantangan ketika dicampur dengan bensin.
Berikut ini beberapa dampak etanol, mengutip laman TeamBHP.com (komunitas mobil),
1. Sifat Higroskopis
Etanol bersifat higroskopis, artinya mudah menyerap kelembapan dari atmosfer. Ketika dicampur dengan bensin, hal ini dapat menyebabkan pemisahan fase, di mana air dan etanol mengendap di dasar tangki, meninggalkan campuran bahan bakar yang berlapis-lapis.Hal ini dapat menyebabkan karat pada tangki dan saluran bahan bakar (terutama pada tangki baja yang lebih tua).
2. Sifat Korosif
Etanol bereaksi dengan logam dan senyawa karet tertentu. Pada kendaraan yang lebih tua, komponen seperti pelampung karburator, saluran bahan bakar, serta seal dan gasket seringkali terbuat dari bahan yang tidak tahan terhadap etanol.3. Kepadatan Energi Lebih Rendah
Etanol mengandung sekitar 34% lebih sedikit energi per satuan volume dibandingkan bensin. Ini berarti, bisa mengurangi jarak tempuh. Kemungkinan juga ada peningkatan suhu mesin dan potensi ketukan jika waktu pengapian tidak disetel.4. Volatilitas dan Start Dingin
Etanol memiliki panas penguapan yang lebih tinggi daripada bensin, sehingga membuat start dingin lebih sulit, terutama pada mesin karburator.Menurut studi Global Ethanol-Blended Fuel Vehicle Compatibility Study (NREL), menyimpulkan bahwa sebagian besar kendaraan yang dibuat setelah 1970-an, khususnya kendaraan dengan standar emisi dan teknologi modern, kompatibel dengan E10.
Dalam jurnal tersebut tertulis: “fuel chemistry and property differences between E0 and E10 are so small that … any vehicle made to international standards in the last 50 years will have a very high probability of being fully compatible with E10.”
Artinya, menurut studi ini, peningkatan kandungan etanol hingga 10% cenderung tidak menyebabkan korosi atau degradasi komponen mesin/bahan bakar yang signifikan pada kendaraan modern.
Studi simulasi menunjukkan bahwa E10 dapat mempengaruhi tetapi tergantung kondisi pembakaran dan beban mesin. Artinya, efek emisi tidak selalu linier, tergantung banyak faktor teknis.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id




























