Menuju konten utama

Erdogan Jadi Presiden Turki 3 Periode: Seperti Jinping & Putin?

Erdogan resmi terpilih sebagai Presiden Turki tiga periode setelah menang dalam Pemilu putaran kedua. 

Erdogan Jadi Presiden Turki 3 Periode: Seperti Jinping & Putin?
Presiden Turki Tayyip Erdogan menyapa anggota Partai AK dalam sebuah pertemuan di parlemen di Ankara, Turki, Selasa (25/6/2019). ANTARA FOTO/Cem Oksuz/Presidential Press Office/Handout via REUTERS/nz/cfo

tirto.id - Recep Tayyip Erdogan secara resmi terpilih kembali sebagai presiden Turki usai mengalahkan pemimpin oposisi Kemal Kilicdaroglu dari Partai Rakyat Republik (CHP) pada Minggu, 28 Mei 2023.

Dengan demikian, Erdogan menjadi presiden tiga periode layaknya Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kemenangan itu Erdogan raih dalam Pemilu Turki putaran kedua, setelah pada putaran pertama tidak ada calon yang memenuhi ambang batas pemilihan suara.

Diberitakan CNN, Dewan Pemilihan Turki (YSK) mengumumkan hasil putaran kedua dan panitia telah menghitung sekitar 99,43 persen suara yang masuk. Hasilnya, Erdogan mendapatkan suara 52,14 persen, sedangkan Kilicdaroglu 47,86 persen.

Dalam pemilu Turki putaran pertama, Recep Tayyip Erdogan memperoleh 49,52 persen suara, disusul Kemal Kilicdaroglu 44,88 persen, Sinan Ogan 5,17 persen suara, dan Muharrem Ince 0,43 persen.

Setelah terpilih kembali, Erdogan berpidato di hadapan ribuan para pendukungnya di Ankara. Dia mengatakan, sudah saatnya untuk mengesampingkan semua perdebatan dan konflik terkait pemilihan.

Erdogan meminta semua pihak bersatu guna mencapai tujuan dan impian nasional negara Turki.

“Kami bukan satu-satunya pemenang, pemenangnya adalah Turki. Pemenangnya adalah semua bagian dari masyarakat kita, demokrasi kita adalah pemenangnya,” tegas Tayyip Erdogan.

Erdogan sempat berjanji akan membawa perubahan bagi Turki. Dia juga kembali menegaskan salah satu prioritas utama pemerintahannya adalah memerangi inflasi dan menyembuhkan luka-luka akibat gempa bumi.

Gempa bumi sempat mengguncang Turki pada 6 Februari 2023 lalu dan merenggut hingga 50 ribu lebih nyawa di Turki dan Suriah.

Kemal Kilicdaroglu Sebut Pemilu Turki Tidak Adil

Masih mengutip CNN, setelah Erdogan terpilih kembali, Kemal Kilicdaroglu berpidato di markas besar partainya di ibukota Ankara. Dia mengaku akan terus berjuang hingga ada demokrasi yang sesungguhnya di Turki.

“Ini adalah periode pemilu yang paling tidak adil dalam sejarah kita. Kita tidak tunduk pada iklim ketakutan. Dalam pemilu ini, keinginan rakyat untuk mengubah pemerintahan yang otoriter menjadi jelas meskipun ada banyak tekanan,” ungkap Kemal.

Salah satu oposisi terkuat Erdogan ini merasa sedih dengan hasil pemilu Turki, terutama bagi masa depan Turki.

Seperti catatan, dalam beberapa jajak pendapat, Kemal Kilicdaroglu sempat diunggulkan akan menang karena pihak oposisi dipandang memiliki peluang besar.

Kilicdaroglu semakin merasa di atas angin setelah menggalang aliansi partai yang berseberangan dengan Erdogan. Dia menawarkan penghentian inflasi yang melonjak dan sistem kepresidenan Erdogan yang sangat dominan.

Kilicdaroglu diunggulkan akan menang setelah bergabungnya sejumlah tokoh oposisi seperti pimpinan Victory Party, Umit Ozdag.

Sayangnya,Kemal Kilicdaroglu gagal menghentikan kepemimpinan Erdogan yang telah berkuasa sejak tahun 2014 lalu.

Para Pemimpin Dunia Ucapkan Selamat Atas Kemenangan Erdogan

Diwartakan Al Jazeera, setelah Erdogan secara resmi terpilih kembali sebagai Presiden Turki periode 2023-2028, para pemimpin dunia langsung memberikan ucapan selamat.

Pemilihan umum Turki tahun 2023 termasuk bersejarah dan menjadi tantangan terbesar bagi kekuasaan Erdogan, yang telah berkecimpung di lingkungan pemerintahan selama 20 tahun sejak pertama kali menduduki kursi perdana menteri di tahun 2003 lalu.

Selain itu, Erdogan juga disebut menjadi pemimpin terlama di Turki dalam kurun waktu 100 tahun terakhir sebagai republik pasca Ottoman.

Meskipun dominasi Erdogan sulit dihentikan di tengah inflasi dan krisis Turki, sejumlah pejabat dunia termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan ucapan selamat atas kemenangannya.

Melalui juru bicara Stephane Dujarric, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengucapkan selamat kepada Erdogan. “Dia berharap untuk lebih memperkuat kerja sama antara Turki dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Kemudian Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan diplomat tinggi AS Antony Blinken juga telah mengirimkan ucapan selamat kepada Erdogan.

“Saya berharap dapat terus bekerja sama sebagai Sekutu NATO dalam isu-isu bilateral dan tantangan global bersama,” ungkap Bidan melalui cuitan di akun Twitternya.

Pejabat tinggi dari dua negara yang tengah berperang, yakni Rusia dan Ukraina juga turut memberikan ucapan selamat kepada Erdogan.

"Kemenangan pemilu ini adalah hasil alami dari kerja tanpa pamrih Anda sebagai kepala Republik Turki, bukti nyata dari dukungan rakyat Turki atas upaya Anda untuk memperkuat kedaulatan negara dan menjalankan kebijakan luar negeri yang independen," kata Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah pesan kepada Erdogan.

Selain memberikan ucapan selamat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengharapkan penguatan mitra strategis untuk kepentingan negara, serta penguatan kerja sama dalam hal keamanan dan stabilitas Eropa.

Kemungkinan Turki Gabung NATO

Melansir AP News, Steven A. Cook, seorang rekan senior di Dewan Hubungan Luar Negeri menyatakan bahwa Turki kemungkinan bear akan “memindahkan tiang gawang” pada keanggotaan Swedia di NATO pada saat mereka mencari tuntutan Amerika Serikat.

Selain itu, Cook mengatakan, Erdogan telah berbicara tentang konstitusi baru, kemungkinan akan membuat dorongan lebih besar lagi guna mengunci perubahan-perubahan yang diawasi oleh Partai Keadilan dan Pembangunan yang konservatif dan religius.

Akan tetapi, Pemerintah Erdogan dilaporkan telah memveto tawaran Swedia untuk bergabung dengan NATO dan membeli sistem pertahanan rudal Rusia, yang mendorong AS mengeluarkan Turki dari proyek jet tempur.

Adapun demikian, Turki disebutkan akan tetap membantu menengahi kesepakatan penting yang memungkinkan pengiriman biji-bijian Ukraina serta mencegah krisis pangan global.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Alexander Haryanto