tirto.id - Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand, kembali dijebloskan ke penjara. Keputusan ini diambil oleh Mahkamah Agung Thailand yang menyatakan bahwa masa penahanannya di rumah sakit merupakan taktik untuk menghindari penjara.
Hal ini menjadi pukulan telak bagi dinasti Shinawatra yang telah mendominasi panggung politik Thailand selama dua dekade. Ia pun langsung dibawa ke penjara Bangkok usai keputusan tersebut keluar.
Pada Selasa (9/9/2025), Mahkamah Agung memutuskan bahwa Thaksin harus menjalani kembali hukuman satu tahun penjara. Pengadilan menyatakan bahwa ia dan para dokternya sengaja memperpanjang masa tinggalnya di rumah sakit melalui serangkaian operasi kecil yang tidak diperlukan.
"Terdakwa mengetahui fakta atau menyadari bahwa situasinya bukanlah keadaan darurat kritis. Terdakwa hanya memiliki kondisi kronis yang dapat ditangani sebagai pasien rawat jalan dan tidak memerlukan rawat inap," bunyi putusan tersebut dikutip dari Reuters, Rabu (10/9/2025).
Keputusan ini menandai babak baru dalam dua minggu kekacauan politik yang mengakhiri secara tiba-tiba pemerintahan populer yang didukungnya.
Thaksin, yang baru saja kembali dari pengasingan selama 15 tahun pada Agustus 2023, sebelumnya hanya menghabiskan beberapa jam di penjara sebelum akhirnya dirawat di rumah sakit dengan keluhan masalah jantung dan nyeri dada. Kejadian itu memicu skeptisisme dan kemarahan publik yang meluas.
Hukuman delapan tahunnya atas dakwaan konflik kepentingan dan penyalahgunaan kekuasaan semasa menjabat (2001-2006) sebelumnya diringankan menjadi satu tahun oleh raja. Thaksin akhirnya dibebaskan bersyarat setelah hanya enam bulan menjalani masa tahanan, yang seluruhnya dihabiskan di ruang VIP sebuah rumah sakit.
Di sisi lain, posisi dinasti politiknya saat ini sedang digoyang. Putrinya, Paetongtarn Shinawatra, baru saja dicopot dari jabatan perdana menteri oleh pengadilan pada 29 Agustus. Paetongtarn menjadi perdana menteri keenam dari atau yang didukung keluarga Shinawatra yang dicopot oleh pengadilan atau militer.
Pemerintahan Paetongtarn jatuh pada Jumat lalu, dikalahkan oleh penantangnya, Anutin Charnvirakul, yang terpilih sebagai perdana menteri oleh parlemen. Kekalahan ini merupakan pukulan memalukan bagi Partai Pheu Thai pimpinan Thaksin yang dulu tak tergoyahkan dan telah memenangkan lima dari enam pemilihan terakhir.
Thaksin, yang merupakan mantan perdana menteri pertama Thailand yang pernah dijebloskan ke penjara, menerima putusan tersebut. Ia menyatakan bahwa ia dengan banggu telah mengabdi kepada rakyat dengan meningkatkan standar hidup dan mengubah dinamika demokrasi Thailand.
"Saya mungkin tidak lagi memiliki kebebasan, tetapi saya memiliki kebebasan berpikir untuk menciptakan manfaat bagi negara dan rakyat," ujar Thaksin di media sosial.
Sebagaimana diketahui, Thaksin Shinawatra merupakan mantan perwira polisi yang kemudian menjadi raja telekomunikasi. Lewat partainya, Thaksin dengan kebijakan populisnya berhasil memenangkan hati jutaan warga kelas pekerja.
Ia memulainya dengan pemberian uang tunai, pinjaman komunitas, hingga subsidi pertanian besar dan layanan kesehatan universal.
Namun, popularitasnya yang tinggi dan karakternya yang berani membuatnya bersaing ketat dengan kaum konservatif lama, jenderal, dan keluarga kaya yang memiliki pengaruh atas lembaga-lembaga penting.
Perdana Menteri terpilih Anutin, yang pernah menjadi anggota partai Thaksin dan bertugas di dua kabinetnya, menyatakan tidak ingin melihat Thaksin dipenjara. "Saya sedih, saya bersimpati dengannya," kata Anutin. "Sebagai seseorang yang pernah memerintah negara ini, saya tidak ingin dia menghadapi hal seperti ini."
Putri Thaksin, Paetongtarn, tampak emosional saat keluar dari pengadilan, sesaat sebelum ayahnya dibawa ke mobil tahanan. Ia mengungkapkan kebanggaan pada ayahnya yang telah menciptakan sejarah, namun juga kekhawatiran akan kesejahteraannya. "Saya dan keluarga saya prihatin," katanya kepada wartawan. "Ini cukup berat."
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































