tirto.id - Mantan perdana menteri perempuan pertama Bangladesh, Khaleda Zia, wafat pada usia 80 tahun. Kabar kematiannya diumumkan pada Selasa (30/12). Berikut profil dari sosok pemimpin perempuan Bangladesh itu.
Menukil Antara, kabar wafatnya Khaleda Zia telah dikonfirmasi oleh Partai Nasional Bangladesh (BNP).
Zia sebelumnya dikabarkan mengalami penurunan kondisi kesehatan dan mendapatkan perawatan intensif di RS Evercare di Ibu Kota Dhaka sejak 27 November lalu.
Ia juga dilaporkan memiliki riwayat komplikasi masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, diabetes, artritis, sirosis hati, dan masalah ginjal.
Kondisi kesehatan Zia disebut mulai memburuk setelah dipenjara oleh rezim PM Sheikh Hasina yang digulingkan dalam revolusi "Gen Z" Bangladesh pada pertengahan tahun 2024 lalu.
Diduga, Hasina mencegah Zia mendapatkan perawatan yang layak dan menghalanginya untuk memperoleh pengobatan lanjutan di luar negeri.
Di Bangladesh sendiri, Khaleda Zia dianggap sebagai salah satu ujung tombak gerakan sipil ketika melawan otoritarianisme rezim PM Hussain Muhammad Ershad pada medio 1980-an.
Sosok Khaleda Zia Eks PM Bangladesh & Rekam Jejaknya
Lahir pada 15 Agustus 1945, Khaleda Zia merupakan politikus perempuan terkemuka dari Bangladesh. Di Negeri Benggala itu, Khaleda Zia bahkan menjadi politikus paling sukses sepanjang sejarah negara itu setelah merdeka.
Media Bangladesh Sangbad Sangstha (BSS) menyebut Khaleda Zia sebagai politikus dengan rekor tak tertandingi. Sepanjang kariernya, Zia mengikuti lima kali pemilu dan tak pernah sekalipun kalah. Oleh BSS, Zia disebut sebagai "jaminan kemenangan pemilu".
Capaian itu diperoleh Zia bukan begitu saja. Pertaliannya dengan politik bermula setelah ia menikah dengan Ziaur Rahman.
Ziaur Rahman merupakan petinggi militer Pakistan selama periode Perang Kemerdekaan Bangladesh. Semula ia diberi tugas untuk ikut meredam pemberontakan rakyat Benggala.
Namun, pascaoperasi brutal Pakistan dalam meredam pemberontakan, Ziaur Rahman memilih untuk membelot dan ikut dalam gerakan kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan.
Setelah Bangladesh merdeka sepenuhnya pada 1971, Ziaur Rahman lalu jadi salah satu pahlawan kemerdekaan dan menjadi salah satu politikus penting dalam lanskap politik nasional Bangladesh.
Pada 1978, Presiden Bangladesh kala itu, Abu Sadat Mohammad Sayem, mengundurkan diri dan Ziaur Rahman menggantikannya secara de facto guna mengisi kekosongan kekuasaan.
Lalu, pada tahun yang sama, pemilu presiden diadakan dan Ziaur Rahman maju dalam pencalonan melalui Partai Nasional Bangladesh (BNP) yang ia buat. Ia kemudian jadi Presiden Bangladesh pertama yang dipilih langsung.
Khaleda Zia yang kala itu berstatus istri Ziaur Rahman, lalu menjadi ibu negara Bangladesh. Sejak itu, politik sudah sangat dekat dalam kehidupan Zia.
Akan tetapi, persilangan jalan yang jadi momentum bagi Zia untuk terjun langsung ke politik terjadi setelahnya.
Pada 1981, ketika Ziaur Rahman masih menjabat sebagai presiden, ia dibunuh oleh sekelompok tentara Bangladesh. Sejak itu, Zia kemudian jadi janda akibat suaminya jadi korban pembunuhan politik.
Pascapembunuhan Ziaur Rahman, pemerintahan Bangladesh dipimpin oleh wakil presiden kala itu, Abdus Sattar.
Namun, tak lama setelahnya, Abdus Sattar dikudeta oleh Kepala Staf Angkatan Darat Bangladesh, Muhammad Ershad. Kudeta itu diwarnai pemberlakuan darurat militer yang membuat Muhammad Ershad punya kendali penuh atas kekuasaan Bangladesh.
Pada titik itulah Zia kemudian muncul ke sebagai salah satu simbol perlawanan masyarakat sipil. Zia mengambil peran kepemimpinan di BNP dan menjadikan partai bikinan suaminya itu sebagai salah satu oposisi paling berisik bagi rezim Ershad.
Di bawah kepemimpinan Zia, BNP membentuk aliansi anti-Ershad dengan partai-partai lain di Bangladesh. Aliansi 7 Partai pun terbentuk untuk melawan otoritarianisme rezim militer Ershad.
Tak hanya jadi oposisi di forum-forum pemerintahan, Zia juga aktif terlibat dalam unjuk rasa masyarakat sipil untuk menentang rezim militer. Bersama aliansinya, Zia menjadi salah satu motor protes massal pada 14 Februari 1984.
Setelahnya, Zia berulang kali ditangkap oleh rezim Ershad pada periode 1986 hingga 1990.
Pada Oktober 1986, Zia dijadikan tahanan rumah beberapa saat sebelum Pemilu Presiden Bangladesh 1986 dan dibebaskan setelahnya. Sebulan setelahnya pada November, ia menggalang aksi protes yang membuatnya kembali dijadikan tahanan rumah.
Pada 1987, Zia kembali menyerukan aksi protes guna menggulingkan Ershad. Usai serangkaian aksi protes berujung bentrokan yang meluas, Zia kembali ditetapkan sebagai tahanan rumah.
Namun, protes masyarakat sipil yang dibalas dengan kekerasan oleh rezim Ershad kemudian justru memperbesar pengaruh Zia dan cita-citanya untuk menghentikan rezim militer.
Pada Desember 1990, gerakan anti-Ershad mencapai puncaknya. Protes skala besar membuatnya terpaksa mengundurkan diri.
Usai Ershad berhasil ditumbangkan, Zia lalu muncul sebagai pemenang dalam Pemilu Bangladesh 1991 dan secara resmi jadi perdana menteri.
Keberhasilan itu membuat Zia menjadi perempuan ke-24 yang menduduki posisi kepala negara di luar sistem monarki di dunia.
Sejak kemenangan pertamanya itu, Zia juga kemudian mendulang kemenangan-kemenangan lainnya dalam pemilu.
Sebagai Perdana Menteri Bangladesh, Zia menjabat dua periode pada 1991-1996 dan 2001-2006. Ia juga jadi anggota parlemen untuk periode 1991-2001; 2001-2006, dan 2009-2014.
Namun, setelah Sheikh Hasina naik jadi Perdana Menteri Bangladesh sejak 2009, publik Bangladesh dipertontonkan dengan rivalitas politik Hasina dan Zia.
Permusuhan keduanya kerap disebut sebagai "Pertempuran Begum", yang merujuk pada persaingan politik para begum, sebutan bagi perempuan muslim dengan kedudukan tinggi.
Melansir Aljazeera, Zia sendiri menghadapi tuntutan dalam 37 dugaan kasus korupsi selama masa pemerintahan Hasina. BNP mengklaim tuduhan-tuduhan tersebut merupakan proksi Hasina untuk mencegah Zia kembali berpolitik.
Namun, pada 2018 lalu, Zia diputus bersalah oleh pengadilan dan dijebloskan ke penjara. Ia divonis hukuman penjara selama lima tahun, namun alasan kesehatan membuatnya jadi tahanan rumah pada 2020 lalu.
Pada Januari 2025 lalu, setelah revolusi "Gen Z", Mahkamah Agung Bangladesh mengampuni Zia terkait kasus korupsi terbaru yang menjeratnya.
Kemudian, pada Desember 2025, Zia meninggal dunia di tengah perawatan intensif akibat komplikasi yang ia derita.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id
































