Menuju konten utama

Ebola di Kongo Tembus 1.118 Kasus, 219 Dinyatakan Tewas

Jumlah kasus ini meningkat 70 kasus dalam kurun waktu 2 hari dari yang dilaporkan Senin (22/6/2026), yakni 1.048 kasus terkonfirmasi.

Ebola di Kongo Tembus 1.118 Kasus, 219 Dinyatakan Tewas
Ilustrasi Virus Ebola. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Virus Ebola menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo dalam beberapa waktu terakhir. Hingga hari Rabu (24/6/2026), jumlah kasus yang dikonfirmasi mencapai 1.118, termasuk 219 kematian.

Dikutip dari Reuters, Jumlah kasus ini meningkat dari yang dilaporkan Senin (22/6/2026), yakni 1.048 kasus terkonfirmasi.

Terbaru, Prancis telah mengonfirmasi kasus Ebola pertama sejak dimulainya wabah Ebola yang sedang berlangsung di Afrika Tengah. Seorang dokter yang baru kembali dari misi kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo (DRC) dinyatakan positif terinfeksi virus Ebola setibanya di Prancis.

“Kementerian Kesehatan, Keluarga, Otonomi, dan Penyandang Disabilitas hari ini mengkonfirmasi identifikasi kasus positif pertama penyakit virus Ebola di wilayah nasional. Pasien tersebut, yang kembali dari misi kemanusiaan di salah satu daerah penyebaran virus di Republik Demokratik Kongo (DRC), segera dirawat di fasilitas khusus dan dalam kondisi stabil,” tulis otoritas kesehatan Prancis, Ministere de la Sante, di akun X @Sante_Gouv, Rabu (24/6/2026).

Sebelumnya, pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa WHO bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo untuk memperkuat respons terhadap wabah Ebola.

Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk menambah jumlah pusat perawatan Ebola atau Ebola Treatment Centres (ETC), meningkatkan kapasitas laboratorium untuk melakukan pemeriksaan dan diagnosis, serta memperluas sistem surveilans guna mendeteksi kasus-kasus baru secara lebih cepat.

Selain itu, pelatihan bagi tenaga kesehatan juga diperluas agar mereka mampu memberikan perawatan klinis yang lebih baik sekaligus menerapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi yang ketat saat menangani pasien.

“Namun masih banyak yang dibutuhkan: lebih banyak pusat perawatan, lebih banyak petugas kesehatan dan perawatan terlatih, lebih banyak pengujian, lebih banyak tim dari dalam komunitas yang mendukung komunitas,” tulis Tedros melalui unggahan di akun X @DrTedros.

“Kita membutuhkan akses yang berkelanjutan dan aman untuk menjangkau semua orang yang terdampak. Kita membutuhkan solidaritas berkelanjutan dari komunitas internasional untuk mengakhiri wabah ini dan, pada akhirnya, kita membutuhkan perdamaian bagi rakyat DRC,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait VIRUS EBOLA atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher