Menuju konten utama

Warga AS Kena Ebola Tidak Dipulangkan, Tapi Dikirim ke Kenya

Wabah Ebola di Kongo telah menyebabkan warga negara AS terpapar. Mereka tidak dipulangkan ke negaranya, melainkan dikirim ke Kenya untuk dikarantina.

Warga AS Kena Ebola Tidak Dipulangkan, Tapi Dikirim ke Kenya
Lahya Kathembo yang berusia 2 bulan dibawa oleh seorang perawat menunggu hasil tes di pusat perawatan Ebola di Beni, Kongo. (Foto AP / Penundaan Jerome)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dilaporkan turut diderita oleh warga negara Amerika Serikat (AS) yang berada di sana. Bukannya dipulangkan, pemerintahan Donald Trump justru menempatkan mereka di fasilitas karantina yang sedang dibangun di Kenya.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa fasilitas tersebut disiapkan sebagai lokasi evakuasi cepat bagi warga AS yang terpapar Ebola di DRC. Pemerintah AS menjelaskan jika fasilitas tersebut mempunyai tujuan mengurangi risiko perjalanan panjang menuju Amerika Serikat yang dinilai dapat menimbulkan persoalan logistik maupun kesehatan.

“Fasilitas ini dirancang untuk menyediakan akses ke perawatan berkualitas tinggi bagi warga Amerika yang perlu segera keluar dari DRC dan menjalani karantina tanpa risiko perjalanan panjang kembali ke AS,” kata seorang pejabat Gedung Putih dikutip The Guardian (27/5/2026).

Menurut pejabat Gedung Putih tersebut, pusat tersebut dirancang agar warga Amerika yang perlu keluar dari wilayah wabah dapat segera dipindahkan ke lokasi dengan fasilitas medis yang dianggap memadai untuk menjalani karantina.

Selain digunakan sebagai tempat observasi bagi orang yang diduga terpapar virus, fasilitas itu juga akan menangani pasien warga AS yang positif Ebola, termasuk menyediakan layanan perawatan intensif untuk kasus-kasus serius.

Namun, pemerintah AS menyatakan setiap pasien nantinya tetap akan dievaluasi apakah perlu dipindahkan ke fasilitas medis lain yang lebih canggih demi meningkatkan peluang kesembuhan.

“Termasuk kebutuhan perawatan kritis, meskipun setiap kasus akan dievaluasi untuk transportasi lebih lanjut guna perawatan yang lebih canggih sesuai kebutuhan untuk memaksimalkan hasil pasien,” tambahnya.

Meski demikian, pihak Gedung Putih tidak menjelaskan secara rinci apakah pemindahan lanjutan itu akan dilakukan ke Amerika Serikat atau ke negara lain seperti di Eropa, yang sebelumnya beberapa kali menjadi lokasi perawatan pasien Ebola asal AS.

Kebijakan ini muncul bersamaan dengan langkah pembatasan perjalanan yang diterapkan pemerintah AS terhadap orang-orang yang baru bepergian dari Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan.

Pemerintah AS melarang pemegang green card yang baru kembali dari tiga negara tersebut untuk masuk ke Amerika Serikat. Pelancong lain dari wilayah itu juga dikenai pembatasan serupa.

Langkah tersebut memicu kritik dari kalangan ahli kesehatan masyarakat yang menilai kebijakan tersebut terlalu keras dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap penanganan wabah Ebola secara global.

“Sungguh mengejutkan bagi saya bahwa pemerintah berupaya mencegah warga Amerika pulang untuk menerima perawatan kelas dunia yang telah terbukti mampu diberikan oleh unit biokontainmen dan perawatan yang didanai oleh pajak kita,” kata Jennifer Nuzzo, seorang ahli epidemiologi dan direktur Pusat Pandemi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Brown.

“Pada dasarnya, itu sama saja dengan mengatakan kepada petugas kesehatan Amerika yang mungkin pergi dan bekerja dalam upaya untuk menahan wabah ini bahwa jika mereka sakit, mereka tidak dapat pulang,” kata Jeremy Konyndyk, presiden Refugees International dan mantan direktur eksekutif gugus tugas Covid-19 USAID serta mantan pemimpin dalam respons Ebola USAID 2014-2015.

Wabah penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo secara resmi diumumkan terjadi di DRC dan Uganda pada 15 Mei 2026. Sehari kemudian, Direktur Jenderal WHO menetapkan wabah tersebut sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Wabah Ebola Tembus 1.000 Kasus dengan 263 Kematian

Berdasarkan data dari laman resmi lembaga pemerintah Inggris yang bertugas melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan (UKHSA), hingga 26 Mei 2026, Republik Demokratik Kongo mencatat total 1.198 kasus Ebola akibat virus Bundibugyo, yang terdiri atas 1.077 kasus suspek dan 121 kasus terkonfirmasi.

Dari jumlah tersebut, dilaporkan 263 kematian, termasuk 246 kematian suspek dan 17 kematian terkonfirmasi laboratorium.

Kasus-kasus terkonfirmasi paling banyak ditemukan di Provinsi Ituri dengan 110 kasus, disusul Kivu Utara sebanyak 10 kasus dan Kivu Selatan satu kasus.

Di Uganda, hingga 27 Mei 2026 tercatat tujuh kasus Ebola terkonfirmasi termasuk satu kematian. Jumlah ini meningkat lima kasus dibanding laporan sebelumnya.

Penyebaran lintas wilayah antara DRC dan Uganda menjadi perhatian serius karena mobilitas masyarakat di perbatasan kedua negara cukup tinggi, baik untuk perdagangan maupun aktivitas sosial.

Baca juga artikel terkait WABAH VIRUS EBOLA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar