Dinkes Riau Sebut Banyak Sekolah yang Tolak Vaksin Rubella

Oleh: Yulaika Ramadhani - 12 September 2018
Dibaca Normal 1 menit
"Petugas datang dengan semangat untuk melindungi para generasi muda dari penyakit yang dapat menimbulkan kebutaan, tuli dan kerusakan paru-paru, tetapi ditolak. Kasihan mereka."
tirto.id - Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan pemberian Vaksin MR kepada warga usia 9 bulan-15 tahun mengalami hambatan, karena masih banyak sekolah yang menolaknya.

Kepala Dinkes Kepri Tjetjep Yudiana, di Tanjungpinang, mengatakan jumlah anak usia 9 bulan hingga 15 tahun yang telah diberikan vaksin MR hanya sekitar 30 persen dari 680 ribu orang. Sementara berdasarkan hasil analisis kesehatan, persentase vaksinasi MR yang tidak mencapai 90 persen, tidak membuahkan hasil yang maksimal.

"Dari aspek kesehatan, 60 persen saja yang diimunisasi, percuma, karena masih banyak yang potensial tertular," ujarnya pada Selasa (11/9/2018) dilansir Antara.

Tjetjep mengingatkan wilayah Kepri potensial ditetapkan kejadian Luar Biasa (KLB) akibat penularan campak dan rubella yang meluas.

Indikator penyakit campak dan rubella mudah menyebar luas dapat dilihat dari jumlah warga yang sudah diberi vaksin MR, jumlah penderitanya, dan letak geografis Kepri.

Ia kemudian mengungkapkan, saat ini, jumlah warga Kepri yang terinfeksi rubella sebanyak 114 orang, sedangkan campak mencapai 170 orang. Jumlah penderita campak dan rubella itu diperkirakan lebih dari itu jika dihitung dengan penderita yang tinggal di pulau-pulau.

"Kita semua tentu tidak menginginkannya, tetapi kondisi sekarang membuahkan hasil analisis kesehatan yang memungkinkan terjadi KLB jika tidak segera diantisipasi," tuturnya.

Menurut Tjetjep warga asing yang masuk Kepri juga potensial menyebarkan virus campak dan rubella. Saat ini, kata dia, sebanyak 40 ribu warga Eropa terjangkit penyakit yang mematikan tersebut.

"Kepri merupakan wilayah tujuan wisata bagi warga asing. Kita tidak mengetahui apakah turis tersebut bebas penyakit itu atau tidak," katanya.

Menurutnya, tiga indikator itu dapat mendorong kita untuk terus mengkampanyekan vaksin MR, dan mendorong pihak sekolah agar mengijinkan petugas mengimunisasi para pelajar. Saat ini, banyak petugas kesehatan yang ditolak oleh pihak sekolah.

"Petugas datang dengan semangat untuk melindungi para generasi muda dari penyakit yang dapat menimbulkan kebutaan, tuli dan kerusakan paru-paru, tetapi ditolak. Kasihan mereka," tuturnya.

Tjetjep juga mengatakan berbagai upaya sudah dilakukan petugas yang sampai sekarang tetap semangat memberi Imunisasi MR kepada warga, meski hasilnya tidak maksimal.

"Di pikiran kami bagaimana menyelamatkan generasi muda dari serangan virus campak dan rubella. Imunisasi MR merupakan solusinya, sehingga petugas sampai sekarang tetap bersemangat melaksanakan tugasnya, meski kerap ditolak pihak sekolah," ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat bahwa campak dan rubella bukan penyakit yang mudah diobati, karena itu perlu diwaspadai dan diantisipasi sebelum menyebar luas. "Lebih baik mencegah dari pada mengobati," ingatnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau menyatakan masih menunda pemberian imunisasi Measles-Rubella (MR) meski MUI telah mengeluarkan fatwa mubah atau boleh.

"Untuk sementara ini ditunda dulu dan sampai hari ini kita masih menunggu intruksi Gubernur, setelah intruksi kita terima barulah kita lakukan rapat kembali bersama DPRD dan instansi terkait bagaimana selanjutnya," ucap Kadiskes Inhil, Zainal Arifin di Tembilahan, Selasa (11/9/2018).

Menurutnya, tindaklanjut program imunisasi MR akan disepakati saat rapat bersama instansi terkait dan DPRD setempat. Dia menyebutkan, keputusan pada rapat nantinya, akan menentukan apakah program imunisasi MR di Inhil dilanjutkan atau justru ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.


Baca juga artikel terkait RUBELLA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Sumber: antara
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani