tirto.id - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan makin merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan AI kini tak dapat dipungkiri dapat dimanfaatkan untuk banyak hal, termasuk dalam meningkatkan efisiensi kerja.
Merespons kondisi tersebut, Asosiasi AI Indonesia didukung oleh Kemenperin menggelar pelatihan AI bertajuk "The Creative Catalyst: Elevating Your Impact – Mastering AI-Driven Workflows for Modern Media and Content Creators".
Acara yang diselenggarakan pada Rabu (17/9/2025) di Gedung PIDI 4.0 ini mengajak sejumlah jurnalis, kreator konten, hingga guru untuk memahami dan mengoptimalkan perangkat AI yang begitu beragam.
Pelatihan ini menjadi penting, sebab Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu dari 10 negara di dunia dengan pengguna AI tertinggi. Total pengguna dari Indonesia yang aktif menggunakan berbagai AI tools mencapai 304,4 juta kunjungan. Angka ini melampaui Kanada dan Filipina.
"Kita ingin meng-upskills AI di dalam kebutuhan kita dalam melakukan pemberitaan. Kita ingin agar lebih efektif dan efisien di dalam pemberitaan," ucap Oce Priatna selaku Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Asosiasi AI Indonesia usai acara.
Oce juga menyebut bahwa pengguna juga tetap perlu mengetahui bagaimana AI dapat berhalusinasi dan bias, sehingga peran manusia tetap penting dalam pemanfaatan AI yang efektif dan bertanggung jawab.

Pelatihan kali ini dipandu oleh Rudianto, Instruktur AI dari Asosiasi AI. Dalam sesi pelatihan kali ini Rudi memberi sejumlah contoh penggunaan AI yang dapat dimanfaatkan dalam sesuai dengan pekerjaan para peserta.
Pelatihan diawali dengan praktik merancang Asisten AI tanpa coding menggunakan sejumlah platform mulai dari Google AI Studio hingga claude. Rudi juga menjelaskan bagaimana pentingnya prompting dalam memastikan AI bekerja sesuai dengan perintah kita. Setelah itu pelatihan berlanjut ke praktik pembuatan video hingga analisis dan optimalisasi SEO dengan AI.

Banyak peserta yang merasa pelatihan ini bermanfaat, sebab bukan hanya praktik tapi juga diskusi bagaimana pemanfaatan AI yang beretika juga disampaikan.
“Kami ingin para pendidik, kreator, dan praktisi media bisa memanfaatkan AI bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga mendorong inovasi dan kolaborasi yang beretika,” ucap Oce.
Asosiasi AI Indonesia menutup workshop dengan pesan bahwa regulasi, edukasi, dan kolaborasi menjadi tiga pilar utama agar pemanfaatan AI tidak hanya inovatif, tetapi juga bertanggung jawab. Ke depan, Asosiasi AI Indonesia berencana mengadakan MOU tertulis untuk kejelasan payung hukum dan mengundang pihak-pihak lain merasakan manfaat penggunaan AI.
Penulis: Nanda Saputri
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id






























