Menuju konten utama

Di Ambang Perpecahan, Negara Eropa Sepakati Deklarasi Roma

Deklarasi Roma menjadi salah satu cara negara Eropa untuk mempertahankan kesatuan Uni Eropa.

Di Ambang Perpecahan, Negara Eropa Sepakati Deklarasi Roma
(Ilustrasi) Suasana Parlemen Eropa. ANTARA FOTO/REUTERS/Yves Herman.

tirto.id - Sebanyak 27 negara anggota Uni Eropa menandatangani pernyataan bersama mengenai persatuan dalam dokumen berjudul Deklarasi Roma. Negara-negara Eropa harus berhenti bertikai jika ingin tetap mempertahankan kesatuan Uni Eropa, kata sejumlah tokoh di Roma pada acara peringatan 60 tahun berdirinya organisasi tersebut, Sabtu (25/3/2017).

"Pada hari ini, kita telah memperbaharui komitmen akan sebuah perserikatan yang tidak terpecah," kata Kepala eksekutif Uni Eropa, Jean-Claude Juncker di depan para pemimpin negara anggota yang hadir, seperti dikutip Antara.

Meski demikian, sejumlah negara lain masih khawatir untuk menyerahkan kewenangan mereka kepada institusi organisasi internasional seperti Uni Eropa, yang diperlukan untuk integrasi yang lebih dalam. Pemerintah nasionalis di Polandia, misalnya, telah berulangkali memprotes Eropa yang bergerak terlalu cepat sehingga akan meninggalkan negara eks komunis tersebut di kelas kedua.

Sedangkan Kanselir Jerman Angela Merkel, tokoh paling berpengaruh di Uni Eropa, menekankan bahwa organisasi tersebut merespon keresahan generasi muda yang tidak mengalami perang.

"Pada masa depan, kita harus mulai mengkhawatirkan persoalan lapangan kerja," kata Merkel kepada para wartawan.

Menurut Merkel, para pemimpin harus merespon kekhawatiran masyarakat tentang ekonomi, kesejahteraan, migrasi, pertahanan di Eropa

Namun penandatanganan deklarasi tersebut terasa ironis mengingat empat hari kemudian, Perdana Menteri Inggris Theresa May, yang tidak hadir di Roma, akan menyampaikan pengunduran diri negaranya secara resmi dari Uni Eropa.

"Kita telah berhenti di tengah jalan. Dan ini telah menyebabkan krisis penolakan oleh publik," kata Perdana Menteri italia Paolo Gentiloni, menyinggung keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Dia mengatakan bahwa kegagalan Uni Eropa untuk menerapkan terobosan kebijakan selama periode kemunduran ekonomi yang berlangsung satu dekade, telah membuka peluang bangkitnya sentimen "nasionalisme sempit." Deklarasi Roma, kata Gentiloni, menawarkan titik awal baru "untuk 10 tahun ke depan."

Baca juga artikel terkait UNI EROPA atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - Politik
Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Yantina Debora