tirto.id - Enam hari sudah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk wilayah Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. Jerit ratusan warga seolah hanya bergema di ruang hampa. Di tengah trauma kehancuran rumah dan ancaman cuaca buruk, kehadiran pemerintah daerah maupun pusat sama sekali dinilai belum dirasakan oleh para korban.
Kondisi krisis ini kian mencekam lantaran para pengungsi mulai terserang penyakit akibat cuaca dingin malam hari. Sokongan logistik mendasar, sejauh ini murni hanya mengandalkan kepedulian pihak swasta dan lembaga non-pemerintah.
Kenyataan Pahit di Balik Reruntuhan Rumah

Kabar buruk itu datang di tengah perjalanan menuju Ruteng--Ibukota Kabupaten Manggarai. Dering telepon dari sang kakak memintanya segera berputar arah dan kembali ke kampungnya di Latung, Cibal Barat. Setibanya di lokasi, kenyataan pahit menyambut Gonsadi Tarsan Padu (30), rumah tempat keluarganya berteduh telah hancur. Televisi, parabola, hingga seluruh perabotan rumah tangga lenyap tertimbun reruntuhan.
Di tengah guncangan trauma, penderitaan Gonsadi justru kian bertambah oleh lambannya uluran tangan pemerintah. Kini, Gonsadi dan keluarganya terpaksa bertahan di dalam tenda pengungsian beratap terpal-- yang jauh dari kata layak. Saat malam, kondisi gelap gulita. Tenda mereka tak memiliki lampu penerangan sedikit pun; tidur malam terpaksa hanya ditemani pendar redup dari layar ponsel yang baterainya terus menyusut.
Situasi makin mengkhawatirkan karena ada nyawa kecil yang harus diselamatkan. Anak bayi Gonsadi sangat membutuhkan popok dan susu. Selama hari-hari pascabencana ini, kebutuhan sang bayi hanya mengandalkan sisa stok yang sempat dibeli Gonsadi sebelum gempa terjadi.
"Belum ada bantuan dari siapa pun," kata Gonsadi, saat ditemui Tirto, Jumat (21/8/2026).
Kondisi pengungsian pada malam hari yang dingin menggerogoti fisiknya. Gonsadi sendiri kini terserang flu. Namun, intervensi medis yang diterimanya terkesan ala kadarnya--petugas kesehatan hanya menyodorkan tiga biji obat berupa paracetamol dan vitamin.
Kritikan terhadap Pasifnya Pejabat Publik Setempat
Saat warga bertaruh nasib di bawah tenda gelap, sosok pejabat publik yang paling dekat dengan mereka justru tak kelihatan batang hidungnya. Gonsadi mengecam pasifnya kepemimpinan di tingkat lokal yang terkesan abai terhadap penderitaan warga.
Gonsadi mengatakan respons pemerintah sejauh ini terasa garing. Kata dia, petugas memang sempat datang mencatat, tetapi pendataan itu hanya berputar pada kebutuhan dasar seperti beras dan air. Sementara itu, kejelasan bantuan material bangunan untuk mengganti kerugian rumah yang hancur sama sekali belum tersentuh.
Gonsadi berkata saat ini dirinya sangat membutuhkan kepala desa dan pejabat pemerintah yang benar-benar menjejakkan kaki di lapangan, membawa terpal, susu bayi, serta kepastian untuk membangun kembali rumah mereka yang telah runtuh.
"Tenda kami tidak memiliki lampu, tidur malam gelap hanya diterangi dari handphone. Kebutuhan mendesak, terpal, sama saya, kan, punya anak bayi seperti pampers, susu," tutur Gonsadi.
Malam Mencekam Tanpa Aliran Listrik
Senasib, warga Golo Woi, Leonardus Ungkur, mengaku dalam situasi yang masih krisis mengharapkan peran pemerintah daerah maupun pusat yang saat ini disebutnya masih nihil. Ia mengatakan kebutuhan logistik mendasar seperti beras sejauh ini sepenuhnya disokong oleh pihak LSM.
"Bantuan pemerintah belum ada. Banyaknya dari LSM, dalam bentuk Indomie, telur, dan beras enam karung isi satu setengah kilo per KK," kata Leonardus.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai dan instansi terkait untuk segera turun ke lapangan. Menurutnya, warga tidak hanya membutuhkan pendataan, tetapi penanganan darurat yang nyata mulai dari pasokan penerangan, tenda yang layak, hingga bantuan pangan yang berkelanjutan.
Leonardus bercerita pada malam hari, situasi di pengungsian gelap tanpa penerangan yang memadai. Aliran listrik mati total, memaksa warga seperti Leonardus melewati malam dalam kegelapan dan kepanikan akibat gempa susulan.
Untuk mengusir rasa takut dan saling menguatkan, kata dia, anggota keluarga terpaksa berkumpul dalam satu tenda darurat. Tanpa pasokan fasilitas dari pemerintah, satu-satunya penerangan yang mereka miliki hanyalah senter ponsel.
"Penerangan pakai senter handphone," kata Leonardus.
Bertahan Hidup dengan Sokongan LSM dan Swadaya
Sementara itu, Aloysius Ban juga terpaksa bertahan hidup di bawah tenda darurat, kehadiran negara absen. Aloysius mengatakan malam hari, kondisi kampungnya gelap gulita. Sekitar tujuh kepala keluarga menumpuk diri dalam satu tenda yang serba terbatas. Satu-satunya penerang adalah senter cas atau lampu tas, itu pun hanya bertahan dua hingga tiga jam sebelum akhirnya mati total dan menyisakan malam yang dingin mencekam.
Aloisius Ban mengungkapkan, makanan sehari-hari hanya mengandalkan patungan antarwarga. Logistik dari luar yang sampai ke tangan mereka baru sebatas pembagian seadanya.
"Sekilogram beras, empat butir telur, dan dua bungkus mi instan. [Dari pemerintah] belum ada," kata Aloisius.
Hal senada diungkapkan Piter Jawak. Piter mengatakan jika bukan karena uluran tangan pihak swasta, kepedulian keluarga di Ruteng, dan bantuan air bersih dari lembaga non-pemerintah, dapur tenda daruratnya mungkin tak lagi mengepul. Negara, dari tingkat kabupaten hingga pusat, belum hadir di desanya pada hari keenam ini.
"Kalau pemerintah belum. Kalau dari pihak swasta sudah ada dalam bentuk sembako," kata Piter.
Piter khawatir suhu dingin malam hari tanpa fasilitas tenda yang memadai membawa penyakit seperti flu, masuk angin, hingga ancaman diare mulai menyerang para pengungsi, terutama kelompok lansia dan anak-anak. Harapan warga Latung seperti Piter tidaklah muluk. Ia membutuhkan kebutuhan fisik mendesak seperti terpal yang layak, selimut tebal, penerangan lentera, serta pasokan obat-obatan.
"Harapannya pemerintah lebih sigap mengambil sikap. Kasihan kami, kalau kita yang dewasa tidak berpikir tentang cuaca, tapi lansia. Perlindungan untuk terpal dan selimut itu sangat mendesak," kata Piter.
Harapan serupa diutarakan Tinus Rakin (30). Menurutnya, uluran tangan yang diterima warga selama ini murni berasal dari inisiatif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan swadaya masyarakat.
Tinus berkata keterlambatan distribusi bantuan negara ditenggarai akibat prosedur birokrasi yang lamban di tingkat bawah, sebab terkendala jaringan dan aliran listrik. Berdasarkan informasi yang diterima warga, pihak pemerintah desa saat ini masih dalam tahap pengajuan usulan serta pendataan awal.
"Ada info pemerintah desa masih usul untuk bantuan. Pemerintah sudah mendata bantuan untuk dikirimkan ke tiap dusun," lanjutnya.
Tinus menyebut dampak kerusakan fisik di wilayah tersebut mencatat setidaknya tiga unit rumah warga hancur. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah ketiadaan bantuan negara, para korban terpaksa memutar otak dan mengandalkan kemampuan sendiri.
"Untuk bertahan selama ini kami usaha sendiri," tegas Tinus.
Ia mendesak agar pemerintah segera mendistribusikan bantuan seperti terpal, beras, hingga susu untuk balita. "Kami sangat membutuhkan beras, terpal, telur, susu," kata Tinus.
Camat Cibal Barat Akui Pemerintah Gagap Tangani Gempa

Camat Cibal Barat, Yohanes Regon, secara terbuka memaklumi banyaknya tuduhan dan keluhan warga terkait lambannya penyaluran bantuan pemerintah di lapangan.
Yohanes menjelaskan skala dampak gempa mencakup 10 desa di Cibal Barat, dengan total 4.331 KK atau 17.175 jiwa terdampak. Seluruh warga kini terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat di luar rumah.
Berdasarkan data awal per 19 Agustus, kerusakan bangunan di Cibal Barat menyebar secara merata di berbagai desa, seperti Kampung Nanu (Desa Lenda), Golo Woi, Golo Lanak, Wee Codi, hingga Latung. Perinciannya, rusak berat sebanyak 578 rumah, sedang sebanyak 959 rumah, dan ringan 527 rumah. Sementara korban meninggal dunia satu orang.
Yohanes menegaskan angka tersebut masih dinamis dan terus diperbarui, mengingat gempa susulan yang terus terjadi berpotensi memperparah tingkat kerusakan bangunan.
Menjawab keluhan warga soal bantuan yang tersendat, Yohanes membeberkan sejumlah kendala teknis dan operasional yang dihadapi petugas di hari-hari awal pascabencana. Ia mengatakan pemadaman listrik selama hampir dua hari pada 15–16 Agustus membuat daya baterai ponsel perangkat desa habis, sehingga koordinasi pendataan dan pengiriman foto kerusakan rumah terhambat.
Kemudian, kata dia, proses pengambilan beras harus melewati prosedur administrasi dan antrean teknis di gudang Bulog. Lalu, cakupan wilayah luas, sehingga pemerintah kabupaten harus membagi fokus pelayanan ke 12 kecamatan terdampak secara bersamaan.
Kebutuhan Mendesak dan Penanganan Kelompok Rentan
Meskipun di awal kejadian pihak kecamatan hanya mampu membagikan sedikit mi instan dan air mineral untuk menunjukkan kehadiran negara, kini bantuan skala besar mulai diupayakan. Pada 20 Agustus, jelas dia, BNPB menerjunkan helikopter dari Labuan Bajo untuk membagikan lima puluh kotak bantuan khusus bagi ibu hamil, ibu nifas, dan balita yang didistribusikan melalui Puskesmas.
Saat ini, kebutuhan yang paling mendesak bagi 17 ribu pengungsi adalah terpal, selimut, perlengkapan bayi/balita, serta sembako.
"Kami sangat mendukung langkah swadaya masyarakat yang mendirikan tenda di luar rumah karena itu langkah paling tepat untuk menghindari risiko gempa susulan. Namun, kami imbau warga untuk tidak terlalu panik berlebihan dan tetap menjalankan aktivitas produktif seperti bertani," pungkas Yohanes.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































