Menuju konten utama
Perundungan Anak

Dari Cemburu sampai Lelucon: Alasan Anak Lakukan Perundungan

Perundungan di kalangan anak laki-laki kerap berangkat dari lelucon dan ejekan, sedangkan pada anak perempuan cenderung didorong rasa iri dengki.

Dari Cemburu sampai Lelucon: Alasan Anak Lakukan Perundungan
Header diajeng Kenapa Anak Jadi Bully. tirto.id/Quita

tirto.id - Maraknya pemberitaan tentang kasus bullying atau perundungan di Indonesia sudah mustahil diabaikan lagi. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat total 30 kasus perundungan pada sepanjang 2023—meningkat sembilan kejadian dari tahun sebelumnya.

Dari statistik tersebut, dua orang menjadi korban jiwa: murid dari sekolah negeri di Kabupaten Sukabumi dan sebuah MTs di Blitar. Terbaru, perundungan yang melibatkan anak artis, juga viral.

Di tengah ingar-bingar ini semua, pernahkah kita mencoba menyelami lebih jauh, kenapa anak-anak, dengan segala keluguan dan kenaifannya dalam memandang dunia, dapat menumbuhkan keinginan untuk menyakiti teman sepermainan?

Menurut Conover, situs layanan untuk pencegahan perundungan, anak-anak pelaku perundungan cenderung memiliki perasaan insecure atau cemburu.

Pelaku merasa terancam karena orang yang mereka tindas lebih pintar, lebih populer, atau lebih tampan. Apa pun alasannya, tindakan pelaku perundungan acap kali didasari oleh perasaan tidak aman.

Perundungan dalam konteks pertemanan ini diiyakan oleh Hanlie Muliani, MPsi, Psikolog Klinis yang kerap menangani kasus anak-anak, remaja, dan isu pendidikan sekaligus founder lembaga konsultan psikologi keluarga dan pendidikan SOA (Sahabat Orangtua & Anak) yang berbasis di Tangerang Selatan.

“Dari pengalaman mengedukasi anak-anak soal bullying, bullying is about friendship complexity. Di mana ada pertemanan, di situ ada bully,” ujar Hanlie.

diajeng Kenapa Anak Jadi Bully

Ilustrasi Kenapa Anak Jadi Bully. (FOTO/iStockphoto)

Masih mengutip situs Conover, alasan perundungan juga berkaitan dengan keinginan pelaku untuk menikmati perasaan berkuasa dan memiliki kendali terhadap korbannya. Dalam hal ini, pelaku merasa senang ketika ada anak lain yang merasa tidak nyaman akibat ulahnya.

Pelaku perundungan jenis ini biasanya berasal dari keluarga yang tidak membolehkan anaknya punya kendali atas dirinya sendiri. Segala sesuatu sudah ditentukan, anak tidak boleh punya pilihan, sehingga mereka melampiaskannya pada orang lain. Pelaku memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Apakah alasan melakukan perundungan selalu sama pada mayoritas anak? Ataukah ada faktor yang membedakan, seperti jenis kelamin?

Beberapa waktu silam, Hanlie melakukan wawancara dengan Robert Pereira, konsultan asal Australia yang berkecimpung dalam upaya pencegahan perundungan.

Dalam video yang dirilis di akun Instagram milik SOA pada akhir Februari kemarin, Pereira memaparkan temuan menarik tentang alasan anak laki-laki melakukan perundungan.

Ia menuturkan, pengamatannya didasari oleh 6.000 sesi tatap muka dengan anak laki-laki di berbagai ruang kelas di berbagai negara.

Di hadapan mereka, Pereira memperlihatkan ilustrasi di papan tulis tentang anak bernama Aaron yang merundung temannya, Brad.

Pereira bertanya, kenapa Brad dirundung oleh Aaron, dan menemukan pola jawaban yang sama dari kebanyakan anak laki-laki.

“Delapan dari sepuluh anak mengatakan alasannya karena Brad tampak berbeda. Ia berprestasi secara akademis, pintar, bahkan paling pintar di kelasnya. Ia selalu punya catatan rapi, menjawab pertanyaan guru, memperoleh nilai tes tertinggi, mendapat sertifikat mingguan, bulanan, juga di akhir semester,” terang Pereira.

Pada kesempatan terpisah, Hanlie menambahkan, “Yang khas pada anak laki-laki adalah joking, for fun, jealous juga, balas dendam. Ini siapa yang di-bully, yang secara akademik pintar. Kenapa? Karena anak laki-laki punya cara berpikir yang keliru; kalau anak laki-laki baik itu nggak keren. Cupu.”

“Fisik juga jadi bahan bully; pendek, kurus, gendut, paling beda atau unik secara fisik. Minat yang dianggap bukan cowok seperti cooking, disability, suku agama ras lebih menjadi issue,” lanjut Hanlie.

Bagaimana dengan latar belakang perundungan di kalangan anak perempuan?

diajeng Kenapa Anak Jadi Bully

Ilustrasi Kenapa Anak Jadi Bully. (FOTO/iStockphoto)

“Kalau kita bicara bullying pada anak perempuan, motivasi bullying didorong oleh rasa iri, dengki, sirik. Ada rasa insecure terhadap korban,” kata Hanlie.

Ia melanjutkan, “Yang di-bully punya karakteristik cantik, body shape, rambutnya bagus. Yang kedua, punya talent; jago nyanyi, pintar public speaking, karena berprestasi fotonya dipajang di sekolah. Populer, punya barang bagus, sering berlibur, itu juga bisa men-trigger pelaku bullying,”

“Hanya sedikit kasus anak perempuan yang mem-bully anak yang tidak populer,” sambungnya.

Selain alasan yang berbeda, perundungan di kalangan anak laki-laki dan perempuan juga punya karakteristik masing-masing.

Badan Pusat Statistik dalam laporan tahun 2022 pernah mengungkapkan, siswa laki-laki lebih banyak menjadi korban perundungan daripada anak perempuan.

Terkait hal tersebut, Hanlie tidak sepenuhnya setuju.

Menurut Hanlie, perundungan pada anak laki-laki cenderung tidak terselubung atau tidak undercover. Artinya, kasus mereka jadi lebih mudah mencuat ke publik, “Bullying pada anak laki-laki apa adanya, melakukannya secara terbuka sehingga lebih cepat viral.”

Hanlie juga menjelaskan, kasus perundungan pada anak laki-laki biasanya dimulai dari ketidaksengajaan untuk bercanda atau sekadar mengejek dan melucu.

“Pada anak laki-laki awalnya bercanda, tapi lama-lama kebablasan,” kata Hanlie, “Karena terus-terusan dan yang dicandain dia-dia saja, jadilah bully.”

Sementara itu, perundungan di kalangan perempuan sifatnya lebih terselubung.

“Pada anak perempuan, bullying bisa dilakukan dengan berbisik. Misalnya seorang anak perempuan berjalan berpapasan dengan teman perempuannya, menatapnya dengan tatapan benci, lalu berbisik di telinganya; ‘bitchy, nggak ada yang suka sama elo’.”

Tidak ada guru yang mendengar aksi tersebut. Bahkan, pelaku perundungan perempuan mungkin bersikap sangat manis dan tampak santun.

Hanlie mencontohkan perundungan terselubung pada anak perempuan dapat dilakukan melalui aplikasi perpesanan grup WhatsApp, “Meng-invite seseorang di grup WA, dikata-katai, lalu di-remove.”

Nah, saat orang tua diberi laporan dari pihak sekolah bahwa anaknya sudah menjadi pelaku perundungan, apa yang sebaiknya dllakukan?

“Jangan denial. Orang tua sering denial, cenderung menyalahkan korban, menyalahkan sekolah, menyalahkan konselor. Sikap denial akan memperburuk perilaku anak karena perbuatannya yang nggak benar kita lindungi,” tutur Hanlie.

Di satu sisi, orang tua yang bersikap reaktif lalu memarahi anak justru akan membuatnya semakin agresif merundung teman lain. “Eh korban, kamu lapor ya? Cengeng, cupu,” Hanlie mencontohkan sindiran yang mungkin diucapkan pelaku perundungan pada korbannya.

Hanlie menyarankan, “Kumpulkan kepingan puzzle. Dari pihak sekolah, dengarkan guru lain untuk mendapat gambaran lebih lengkap, lalu melakukan intervensi. Tidak bisa menegur atau bicara satu arah, dikritik apalagi dihukum. Cari tahu dulu mengapa mem-bully.”

Hanlie mengingatkan, bukan tidak mungkin pula ada guru yang secara tidak sadar memicu perilaku perundungan, misalnya membanding-bandingkan murid yang satu dengan yang lain.

Kemudian, saran Hanlie, pelaku perundungan dapat diintervensi dengan cara mengubah cara berpikirnya.

“Kalau pihak sekolah—karena soal regulasi—harus mengeluarkan pelaku bullying, lakukan intervensi lebih dulu. Tumbuhkan kesadaran bahwa apa yang dia lakukan adalah keliru. Tumbuhkan empatinya supaya dia tidak melakukannya lagi di tempat lain. Hukuman memang harus dijalankan, tetapi tanggung jawab moral lebih dari itu,” pungkas Hanlie.

Baca juga artikel terkait DIAJENG atau tulisan lainnya dari Imma Rachmani

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Imma Rachmani
Penulis: Imma Rachmani
Editor: Sekar Kinasih