tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bakal menerbitkan surat utang dengan tema ‘Patriot Bond’ sebesar Rp50 triliun (3,1 miliar dolar AS) dengan imbal hasil di bawah pasar.
Menurut beberapa sumber yang mengetahui hal ini, penerbitan obligasi tersebut direncanakan dalam tenor lima dan tujuh tahun, dengan nilai masing-masing Rp25 triliun, pada 1 Oktober mendatang. Dua tenor itu akan memiliki kupon atau imbal hasil 2 persen.
Melansir dari Bloomberg, kupon tersebut kurang dari setengah suku bunga acuan bank sentral dan imbal hasil obligasi pemerintah, yang masing-masing berada di angka 5,8 persen dan 6,1 persen.
"Para pemimpin bisnis kita menukar keuntungan jangka pendek dengan warisan abadi: membangun bangsa kita. Meskipun kuponnya berada di bawah harga pasar yang berlaku, strukturnya mencerminkan tujuan obligasi, ini seperti reksa dana yang mengutamakan dampak: mereka yang bersedia mengorbankan imbal hasil jika hal itu memajukan tujuan mereka," tulis unggahan akun resmi Linkedln Danantara.
Langkah ini pun menjadi ujian bagi kesediaan investor untuk menerima suku bunga yang lebih rendah sebagai bentuk dukungan terhadap dana tersebut.
Meski demikian, informasi itu tidak merinci kupon yang ditargetkan atau jumlah penerbitan yang pasti, hanya mengatakan bahwa mereka berencana untuk menerbitkan puluhan triliun rupiah melalui penempatan privat kepada para pemimpin bisnis terkemuka di Indonesia.
Diketahui, hasil penerbitan obligasi juga akan digunakan untuk proyek-proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) milik Danantara. Unggahan resmi Linkedln juga merujuk pada krisis sampah Indonesia, yang disebutnya sebagai bom waktu, dengan 20,7 juta ton sampah yang tidak terkelola tahun lalu.
Didirikan awal tahun ini, Danantara telah melaporkan aset kelolaannya sebesar 1 triliun dolar AS (Rp16,3 kuadriliun), dan mengawasi hampir 900 perusahaan negara. Hal ini akan menempatkan Danantara di antara dana kekayaan negara terbesar di dunia, dan menjadikannya kunci untuk mengembalikan perekonomian ke tingkat pertumbuhan 8 persen, seperti yang tercatat pada tahun 1990-an.
“Berinvestasi dalam obligasi Patriot akan lebih menandakan keselarasan dengan agenda pemerintah yang lebih luas," kata Mohit Mirpuri, mitra senior di SGMC Capital.
Mandiri Sekuritas juga akan mengelola penjualan tersebut, menurut sumber yang mengetahui masalah ini. Namun, Mandiri Perusahaan tersebut menolak untuk berkomentar.
Sumber juga mengatakan bahwa Danantara telah mengadakan pertemuan dengan puluhan calon investor selama beberapa minggu terakhir untuk mempresentasikan kesepakatan tersebut.
Menanggapi hal itu, analis investasi dari Skotlandia mempertanyakan apakah obligasi tersebut dapat dijual dengan harga yang sama ke pasar yang lebih luas, jika tujuannya pada sekelompok kecil investor yang bersedia menerima hasil all-in yang rendah.
"Jika tujuannya memang untuk menempatkan obligasi tersebut kepada sekelompok kecil investor yang bersedia menerima imbal hasil all-in yang rendah, pertanyaan kuncinya adalah apakah para investor ini nantinya dapat menjual obligasi tersebut dengan harga yang sama ke pasar yang lebih luas, terutama jika pasar menganggap nilai wajarnya berbeda," kata Fesa Wibawa, analis investasi di Aberdeen.
“Belum ada dokumen yang ditandatangani dan ketentuan kesepakatan masih dapat direvisi,” tambahnya..
Proposal obligasi ini menandai langkah terbaru Danantara dalam menggalang dana seiring persiapannya untuk berinvestasi di berbagai sektor domestik dan luar negeri. Dana tersebut juga telah mengumpulkan sekitar 7 miliar dolar AS (Rp114,5 triliun) dividen dari perusahaan-perusahaan milik negara yang telah dialihkan di bawah pengawasannya.
Bulan lalu, Danantara juga mengumumkan telah mendapatkan persetujuan untuk pinjaman bergulir tanpa jaminan senilai 10 miliar dolar AS (Rp163,6 triliun) dari bank-bank asing.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































